IDN Times Xplore ( Tim FUSE_SMAIT AL-FITYAN KUBU RAYA)
I. LATAR BELAKANG
Bayangkan kamu melihat seorang teman dirundung di kelas. Kamu tahu tindakannya salah, tetapi memilih diam karena takut dijauhi. Bahkan, kamu ikut tertawa agar tetap diterima dalam kelompok. Tanpa disadari, keinginan untuk menjadi bagian dari lingkungan justru membuatmu membiarkan orang lain terluka. Di era digital, penerimaan sosial semakin terasa penting bagi Generasi Z. Deloitte (2025) melaporkan bahwa 56% responden Gen Z di Amerika Serikat menilai konten media sosial lebih relevan daripada acara televisi dan film tradisional. Di tengah arus tren dan perbandingan sosial, muncul Fear of Missing Out (FOMO), yaitu ketakutan tertinggal dari pengalaman orang lain. Ketakutan ini dapat membuat remaja mengikuti tekanan kelompok, bahkan ketika tindakannya bertentangan dengan empati dan prinsip pribadi. Fenomena mengikuti kelompok demi penerimaan ini dapat berkembang menjadi toxic conformity. Karena itu, perundungan tidak cukup ditangani melalui hukuman. Remaja juga perlu dibekali keberanian dan panduan bertindak secara aman. Tim FUSE (Fityan United Six Educators) menghadirkan REGEN Magazine (Renew Generation), gerakan literasi perundungan dengan slogan “Speak Up, Stand Out, Stop Bullying. Your Generation, Your Safe Space” untuk mengubah saksi pasif (bystander) menjadi pembela aktif (upstander).
II. ISI DAN PEMBAHASAN
A. FOMO dan Tekanan Kelompok: Mengapa Saksi Memilih Diam?
Przybylski et al. (2013) menjelaskan FOMO sebagai kekhawatiran bahwa orang lain mengalami hal berharga tanpa kehadiran kita. Perbandingan sosial dapat memperkuat perasaan tersebut. Penelitian Piko et al. (2025) terhadap 255 mahasiswa di Hungaria menemukan bahwa perbandingan sosial merupakan prediktor FoMO terkuat dalam model penelitian mereka. Temuan ini membantu menjelaskan hubungan keduanya, meskipun tidak otomatis mewakili seluruh remaja Indonesia. Besarnya persoalan perundungan juga terlihat dalam data nasional. OECD melalui PISA 2022 melaporkan bahwa 25% siswi dan 30% siswa berusia 15 tahun di Indonesia mengalami tindakan perundungan setidaknya beberapa kali dalam sebulan. Sementara itu, laporan KPAI tentang 2024 mencatat berbagai pengaduan terkait pemenuhan hak dan perlindungan anak. Data tersebut mencakup beragam persoalan, sehingga tidak boleh dianggap sebagai angka khusus perundungan.
Untuk melihat situasi di lingkungan sekitar, Tim FUSE melakukan survei Google Form pada 15–17 Oktober 2026 terhadap 78 responden. Sebanyak 38,3% responden menyatakan pernah mengalami atau merasa tidak nyaman akibat perundungan. Perundungan verbal menjadi bentuk yang paling banyak dilaporkan, yaitu 40,7%. Hasil ini menggambarkan jawaban responden survei, bukan seluruh pelajar Indonesia. Ketika ejekan dianggap candaan, saksi mungkin berpikir, “Kalau aku membela korban, nanti aku yang dijauhi.” Ketakutan tersebut membuat korban merasa sendirian, sedangkan pelaku dapat menganggap tindakannya diterima. Padahal, menjadi upstander bukan berarti mencari konfrontasi, melainkan memilih tindakan aman untuk menunjukkan bahwa perundungan tidak dapat dibenarkan.
B. Dari FOMO ke JOMO: Strategi S.H.I.E.L.D
Perubahan dimulai dengan JOMO (Joy of Missing Out), yaitu perasaan nyaman ketika tidak mengikuti tren yang bertentangan dengan nilai diri. Remaja tidak harus mengorbankan empati demi penerimaan. Untuk menerapkannya, Tim FUSE merumuskan strategi S.H.I.E.L.D:
S — Self-Awareness: Kenali rasa takut ditolak dan tekanan kelompok.
H — Halt: Berhenti sebelum ikut mengejek atau menyebarkan rumor.
I — Identity: Pertahankan prinsip meskipun berbeda dari teman.
E — Empathy: Dengarkan korban tanpa menyalahkannya.
L — Lead: Tolak candaan yang merendahkan dan ajak teman bersikap suportif.
D — Defend: Temani korban, simpan bukti jika diperlukan, dan laporkan kepada guru atau orang dewasa terpercaya.
Strategi ini menekankan bahwa keberanian memiliki banyak bentuk. Menolak ikut tertawa, mengalihkan situasi, atau meminta bantuan orang dewasa merupakan langkah bermakna selama dilakukan dengan aman.
C. REGEN Magazine: Literasi yang Dekat dengan Remaja
Agar edukasi tidak berhenti sebagai teori, Tim FUSE menghadirkan REGEN Magazine dalam format digital flipbook interaktif dan Pocket Zine yang dapat dicetak. Majalah ini mengemas literasi perundungan melalui empat fitur utama:
The Reality Check & Impact Matters: Mengenali jenis perundungan dan dampaknya bagi korban maupun pelaku.
The S.H.I.E.L.D Guide: Mempelajari skenario sehari-hari dan langkah aman untuk membantu korban.
Interactive Journaling Space “Put Your Feelings Here”: Menuangkan perasaan melalui refleksi tanpa takut dihakimi.
7-Day JOMO Challenge: Mengurangi tekanan tren digital dan membangun interaksi nyata yang sehat.
Perpaduan informasi, refleksi, dan tantangan praktis menjadikan REGEN Magazine sarana untuk memahami masalah sekaligus melatih respons. Format digital memudahkan akses, sementara versi cetak mendukung diskusi bersama.
III. KESIMPULAN
Jangan sampai ketakutan untuk dikucilkan membuat kita kehilangan keberanian untuk peduli. Di tengah budaya FOMO, kita sering sibuk mencari tempat untuk diterima hingga lupa bahwa ada orang lain yang sedang berjuang agar tidak merasa sendirian. Padahal, menjadi bagian dari kelompok tidak seharusnya mengharuskan kita mengorbankan kemanusiaan. Melalui strategi S.H.I.E.L.D dan REGEN Magazine, Tim FUSE mengajak Generasi Z mengubah kesadaran menjadi keberanian, serta keberanian menjadi tindakan nyata untuk memutus rantai perundungan.
Kini, saatnya berhenti menjadi bystander yang hanya menyaksikan dan mulai menjadi upstander yang membawa perubahan. Sebab, satu suara dapat memecahkan keheningan, satu keberanian dapat memutus rantai perundungan, dan satu kepedulian dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian. “Speak Up, Stand Out, Stop Bullying. Your Generation, Your Safe Space.” Karena generasi yang hebat bukanlah generasi yang sekadar mengikuti tren, melainkan generasi yang berani berdiri untuk hal yang benar.
IDN Times Xplore ( Tim FUSE_SMAIT AL-FITYAN KUBU RAYA)