Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ketika Pasangan Butuh Ruang Sendiri, Kenapa Kita Merasa Ditolak?

3 min read
Ketika Pasangan Butuh Ruang Sendiri, Kenapa Kita Merasa Ditolak?
ilustrasi bertengkar dengan pasangan (freepik.com/freepik)

Akhir pekan tiba, kamu sudah membayangkan bisa menghabiskan waktu bersama pasangan. Namun, rencana itu mendadak berubah ketika ia mengatakan ingin menghabiskan waktu sendiri. Katanya, ia ingin bertemu teman, menikmati hobi, atau sekadar bersantai tanpa melakukan apa-apa. Kamu mencoba memahami keinginannya, tetapi jauh di dalam hati, ada sedikit rasa kecewa. Bahkan, muncul pertanyaan, “Apa dia mulai bosan menghabiskan waktu denganku?”

Situasi seperti ini mungkin pernah kamu alami saat menjalin hubungan. Padahal, keinginan pasangan untuk memiliki waktu sendiri bukan berarti ia gak lagi menyayangimu atau sengaja mengabaikan hubungan. Setiap orang tetap membutuhkan ruang untuk menikmati kehidupannya di luar hubungan asmara. Namun, bagaimana cara memahami kebutuhan tersebut tanpa terus-menerus merasa ditolak atau gak diprioritaskan?

  1. 1. Bagaimana sebuah penolakan bisa begitu mengganggu perasaan?

    ilustrasi bertengkar dengan pasangan (pexels.com/Timur Weber)
    ilustrasi bertengkar dengan pasangan (pexels.com/Timur Weber)

    Mengapa penolakan kecil terkadang begitu mengganggu? Psikolog Guy Winch dalam Psychology Today menjelaskan bahwa otak kita terhubung untuk menanggapi penolakan dengan cara yang sama dengan menanggapi rasa sakit fisik. Penolakan dari pasangan memiliki dampak besar karena berasal dari orang yang paling dikenal. Penolakan jadi terasa melukai harga diri dan citra diri.

    Terus menerus mengalami penolakan membuat seseorang cenderung memilih untuk menarik diri secara emosional, enggan terlibat lebih jauh dengan pasangan, menurut Guy. Pasangan yang terlibat dalam hubungan seperti ini memiliki kecenderungan untuk mengembangkan rasa marah, dendam, dan beberapa kasus depresi terhadap satu sama lain.

  2. 2. Diam bukan solusi, justru bisa merusak hubungan lebih jauh

    ilustrasi bertengkar dengan pasangan (pexels.com/Ketut Subiyanto)
    ilustrasi bertengkar dengan pasangan (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Ketika terus mendapatkan penolakan, kamu mungkin merasa enggan untuk mendiskusikan perasaan dengan pasangan. Gyu mengakui, ketika mendapat penolakan secara berulang, harga diri menjadi lebih rentan untuk mengambil risiko dan memulai diskusi dengan baik. Kekhawatiran itu muncul jika mendiskusikan perasaanmu, maka hanya akan mengonfirmasi kurangnya ketertarikan pasangan dan membuatmu merasa lebih hancur.

    Akan tetapi, tetap dia dan memendam perasaan itu juga tak akan membuatmu merasa lebih baik. Sebab, penolakan hanya akan terus melukai perasaan dan harga diri.

    Meski ada beragam spekulasi yang akan terjadi, Gyu tetap menyarankan untuk membahas hal ini secara tegas. Dialog dengan pasangan adalah cara terbaik untuk membuat hubungan terhindar dari kerusakan emosional.

  3. 3. Bagaimana cara mengatasi penolakan dalam hubungan?

    Ilustrasi sering bertengkar dengan pasangan (pexels.com/Timur Weber)
    Ilustrasi sering bertengkar dengan pasangan (pexels.com/Timur Weber)

    Penolakan tidak selalu digambarkan sebagai kehancuran hubungan. Terkadang, pasangan menolak sesuatu karena ingin memberi sedikit jarak atau perubahan dalam hubungan. Ini bisa menjadi sesuatu yang positif, mungkin saja pasangan ingin memberi kamu ruang untuk berkembang dan menjadi lebih mandiri.

    Dalam lama Marriage.com. disebutkan, ketidaksejajaran dalam mengekspresikan atau menerima cinta dapat mengakibatkan salah satu pasangan merasa tidak dicintai. Namun, Psikolog Jennifer Schulz menjelaskan pandangan yang lain. Bisa jadi ini penolakan menjadi cara berbeda untuk mengungkapkan cinta.

    "Orang-orang cenderung memiliki gaya pemberian dan penerimaan cinta yang mereka sukai, terkadang, penolakan cinta hanya mencerminkan perbedaan dalam gaya ini antara pasangan," ujar Jennifer dalam Marriage.com.

    Jadi, alangkah baiknya untuk mengomunikasikan hal ini dengan pasangan secara efektif. Dekati pasangan dengan kejujuran dan keterbukaan tentang perasaanmu. menurut penelitian dari Utah State University, komunikasi yang dilakukan sebaiknya mengurangi sikap defensif.

    Riset mencatat, daripada mengkritik pasangan dengan komunikasi seperti "Saya tidak suka kamu menghindari saya." Cobalah mengganti kalimat itu menjadi lebih persuasif, "Saya merasa sedih karena hubungan kita tampaknya sedang berjarak."

Related Articles

See More