Zhao Liming, profesor Tsinghua University yang telah lama meneliti Nüshu, menggambarkan tulisan ini sebagai bagian dari budaya perempuan yang memberi mereka ruang untuk menyuarakan diri. “Nüshu adalah budaya cahaya matahari yang memungkinkan perempuan berbicara dengan suara mereka sendiri,” dikutip dari UNESCO Courier.
Bahasa Rahasia yang Lahir dari Batasan, Mengenal Nüshu dari China

- Nüshu berkembang di Jiangyong, Hunan, sebagai sistem tulisan yang secara historis diciptakan dan digunakan perempuan ketika akses mereka terhadap pendidikan serta aksara Han terbatas.
- Perempuan memakai Nüshu untuk menulis puisi, kisah hidup, keluhan, nasihat, dan pesan, termasuk sanzhaoshu bagi pengantin baru, pada surat hingga benda sehari-hari.
- Tradisi Nüshu sempat menyusut seiring pendidikan perempuan meluas dan Mandarin umum digunakan, lalu ditetapkan China sebagai warisan budaya takbenda nasional pada 2006 serta terus didokumentasikan.
Kalau sekarang kita bisa curhat lewat chat, bikin close friends, atau menulis isi hati di notes, perempuan di China ratusan tahun lalu punya cara yang jauh lebih unik. Mereka menciptakan tulisan sendiri untuk berbagi cerita, perasaan, dan pengalaman hidup dengan sesama perempuan. Namanya Nüshu, sistem tulisan yang berkembang di Jiangyong, Provinsi Hunan, China.
Sekilas, bentuknya memang terlihat seperti simbol-simbol kecil yang cantik, ramping, dan miring. Tapi, Nüshu bukan sekadar tulisan unik yang terlihat estetik. Sistem ini lahir ketika akses perempuan terhadap pendidikan masih terbatas dan kemudian menjadi ruang bagi mereka untuk menyimpan cerita yang mungkin gak bisa disampaikan secara terbuka. Jadi, sebenarnya apa yang membuat Nüshu begitu istimewa?
1. Saat perempuan gak punya akses sekolah

Ilustrasi Nüshu (magnific.com/victor217) Nüshu berkembang ketika perempuan di Jiangyong punya kesempatan yang jauh lebih sedikit untuk mendapatkan pendidikan dibandingkan laki-laki. Banyak dari mereka gak mempelajari aksara Han yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dari keterbatasan inilah Nüshu berkembang sebagai sistem tulisan yang digunakan oleh perempuan di komunitas tersebut. UNESCO mencatat Nüshu secara historis diciptakan dan digunakan secara eksklusif oleh perempuan di wilayah Jiangyong.
Yang menarik, Nüshu bukan sekadar “kode rahasia” supaya laki-laki gak bisa membacanya. Karakter Nüshu memiliki bentuk khas yang ramping dan miring serta digunakan untuk menuliskan bahasa lokal Jiangyong. Tulisan ini kemudian menjadi bagian dari kehidupan sosial perempuan, terutama untuk berbagi cerita dan pengalaman.
2. Tempat curhat sebelum ada chat

Ilustrasi Nüshu (magnific.com/magnific) Kalau sekarang kita punya WhatsApp untuk mengirim cerita panjang ke sahabat, perempuan Jiangyong punya surat dan tulisan Nüshu. Mereka menuliskan puisi, kisah hidup, keluhan, nasihat, sampai pesan untuk teman perempuan dan keluarga.
Salah satu bentuk yang terkenal adalah sanzhaoshu atau “surat hari ketiga”. Surat ini biasanya diberikan kepada perempuan yang baru menikah, berisi pesan dari teman dan kerabat perempuan. Nüshu juga ditemukan pada kipas, saputangan, pakaian, dan berbagai benda sehari-hari.
Peneliti Fei-Wen Liu dari University of California, Berkeley, menunjukkan bahwa tulisan Nüshu menjadi media bagi perempuan pedesaan untuk menceritakan pengalaman mereka, termasuk soal pernikahan dan kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, tulisan yang awalnya lahir dari keterbatasan justru membantu meninggalkan jejak kehidupan perempuan yang jarang masuk dalam catatan sejarah.
3. Hampir hilang, tapi kembali dilirik

Ilustrasi Nüshu (magnific.com/magnific) Sayangnya, tradisi ini perlahan kehilangan pengguna ketika akses pendidikan perempuan semakin terbuka dan aksara Mandarin menjadi semakin umum digunakan. Karena Nüshu diwariskan secara informal dari perempuan ke perempuan, jumlah orang yang benar-benar menguasainya pun semakin sedikit.
Salah satu tokoh yang dikenal sebagai pewaris tradisi Nüshu, Yang Huanyi, meninggal pada 2004. Namun, kisah Nüshu gak ikut berakhir. China kemudian memasukkannya ke dalam daftar warisan budaya takbenda nasional pada 2006, sementara peneliti dan komunitas lokal terus mendokumentasikan manuskrip serta mempelajari kembali sistem tulisannya.
Sekarang, Nüshu justru kembali menarik perhatian karena menawarkan sesuatu yang terasa sangat dekat dengan kehidupan modern: ruang untuk bersuara. Bedanya, perempuan Jiangyong melakukannya ratusan tahun lalu, ketika mereka belum punya media sosial, ruang publik, atau akses pendidikan seperti sekarang. Setiap guratannya akhirnya bukan cuma menyimpan tulisan, tetapi juga cerita tentang perempuan yang ingin didengar.






















