Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Perempuan dengan Pacar Lebih Muda Sering Dianggap Aneh?

4 min read
Kenapa Perempuan dengan Pacar Lebih Muda Sering Dianggap Aneh?
ilustrasi pasangan (pexels.com/Tim Mossholder)
  • Perempuan yang berpacaran dengan laki-laki lebih muda kerap dianggap menyalahi anggapan bahwa laki-laki seharusnya lebih tua, meski usia tidak otomatis menentukan kedewasaan atau kecocokan.

  • Stereotip bahwa perempuan lebih tua akan menjadi pengasuh, serta komentar soal penampilan dan sebutan “brondong”, sering membuat hubungan mereka diperlakukan sebagai lelucon.

  • Artikel menyoroti standar ganda: laki-laki lebih tua dengan pasangan muda lebih sering dianggap wajar, padahal dua orang dewasa berhak memilih pasangan tanpa paksaan atau eksploitasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Perempuan yang berpacaran dengan laki-laki lebih muda sering mendapat komentar yang berbeda dibanding laki-laki yang punya pasangan lebih muda. Selisih beberapa tahun saja kadang sudah cukup untuk memunculkan candaan seperti “Dapat brondong, nih,” “Gak mau yang lebih tua aja?” atau “Nanti malah kayak ngurus anak.”

Padahal, kalau keduanya sudah dewasa, usia bukan satu-satunya hal yang menentukan cocok atau tidaknya sebuah hubungan. Yuk, lihat kenapa perempuan dengan pacar lebih muda masih sering dianggap aneh.

  1. 1. Perempuan dianggap seharusnya berpasangan dengan laki-laki lebih tua

    ilustrasi pasangan
    ilustrasi pasangan (pexels.com/Vitaly Gariev)

    Masih ada anggapan bahwa laki-laki seharusnya lebih tua daripada perempuan dalam sebuah hubungan. Karena itu, ketika posisinya dibalik, orang langsung merasa ada yang “gak biasa”. Perempuan yang lebih tua bisa dianggap sedang menyalahi gambaran pasangan yang selama ini dianggap ideal.

    Padahal, gak ada aturan bahwa perempuan harus selalu mencari laki-laki yang usianya lebih tua. Perbedaan usia juga gak otomatis menentukan siapa yang lebih dewasa, lebih bertanggung jawab, atau lebih mampu menjalani hubungan. Perempuan berusia 30 tahun dengan laki-laki 25 tahun tetap terdiri dari dua orang dewasa yang bisa menentukan sendiri siapa yang ingin mereka jadikan pasangan.

  2. 2. Perempuan lebih tua sering dianggap akan jadi “pengasuh”

    ilustrasi pasangan
    ilustrasi pasangan (pexels.com/Shots by Kevin)

    Komentar “kayak ngurus anak” cukup sering diarahkan kepada perempuan yang punya pacar lebih muda. Anggapan ini muncul karena perempuan yang lebih tua dianggap otomatis harus mengajari, mengarahkan, atau mengurus pasangan yang usianya lebih muda. Padahal, hubungan romantis gak otomatis menempatkan perempuan sebagai pengasuh hanya karena usianya lebih tua.

    Laki-laki yang lebih muda juga bisa mandiri, bekerja, mengambil keputusan sendiri, dan bertanggung jawab atas hidupnya. Begitu pula perempuan yang lebih tua gak selalu ingin menjadi pihak yang mengatur pasangan. Kalau hubungan mereka berjalan sebagai hubungan dua orang dewasa, selisih usia gak otomatis mengubah posisi salah satunya menjadi “orangtua”.

  3. 3. Perempuan yang lebih tua lebih sering diledek soal penampilan

    ilustrasi perempuan
    ilustrasi perempuan (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Perbedaan usia juga sering dikaitkan dengan penampilan perempuan. Ketika perempuan terlihat lebih tua daripada pasangannya, komentar soal wajah, kerutan, atau cara berpakaian bisa ikut muncul. Sebaliknya, laki-laki yang berusia lebih tua dengan perempuan yang lebih muda sering kali justru dianggap biasa.

    Standar seperti ini membuat perempuan seolah harus menjaga agar dirinya tetap terlihat lebih muda ketika punya pasangan yang usianya di bawahnya. Padahal, usia bukan sesuatu yang harus disembunyikan supaya hubungan terlihat pantas. Kalau keduanya nyaman dengan perbedaan tersebut, komentar orang lain gak mengubah fakta bahwa mereka memang memilih satu sama lain.

  4. 4. Sebutan "brondong" membuat hubungan terlihat seperti lelucon

    ilustrasi pasangan
    ilustrasi pasangan (pexels.com/Budgeron Bach)

    Laki-laki yang lebih muda sering disebut “brondong” ketika berpacaran dengan perempuan yang lebih tua. Sebutan tersebut sebenarnya bisa saja cuma bercanda, tetapi kalau terus diulang, hubungan mereka akhirnya diperlakukan seperti sesuatu yang lucu atau gak serius. Perempuan pun bisa dianggap sedang mengikuti tren, mencari sensasi, atau sekadar ingin terlihat lebih muda.

    Padahal, hubungan tersebut bisa saja sama seriusnya dengan hubungan pasangan yang usianya berdekatan. Usia pacar yang lebih muda gak otomatis membuat hubungan mereka kekanak-kanakan. Kalau keduanya punya komitmen dan memperlakukan satu sama lain dengan baik, label dari orang luar gak banyak menjelaskan hubungan sebenarnya.

  5. 5. Standarnya sering berbeda ketika laki-laki lebih tua

    ilustrasi pasangan
    ilustrasi pasangan (pexels.com/RDNE Stock project)

    Ketika laki-laki berusia lebih tua punya pasangan yang lebih muda, perbedaan usia sering dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Namun, ketika perempuan berada di posisi yang lebih tua, orang lebih cepat mempertanyakan pilihannya. Perbedaan perlakuan ini menunjukkan bahwa komentar soal age gap kadang bukan cuma tentang angka, tetapi juga tentang ekspektasi terhadap perempuan dan laki-laki.

    Perempuan dianggap seharusnya mencari pasangan yang lebih tua, sementara laki-laki dianggap wajar kalau memilih perempuan yang lebih muda. Padahal, hubungan gak otomatis menjadi lebih baik hanya karena laki-lakinya lebih tua. Selama keduanya sudah dewasa dan hubungan tersebut dijalani tanpa paksaan atau eksploitasi, perempuan juga berhak menentukan pasangan tanpa harus mengikuti anggapan bahwa laki-laki harus lebih tua.

    Perempuan dengan pacar lebih muda mungkin akan lebih sering mendengar komentar dibanding pasangan yang usianya berdekatan. Namun, gak semua hubungan perlu disesuaikan dengan gambaran pasangan yang dianggap normal oleh orang lain. Bagaimana menurut kamu kalau melihat perempuan berpacaran dengan laki-laki yang lebih muda?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More