Pendidikan sangat penting bagi semua anak. Dengan pendidikan, berbagai karakter positif anak terbentuk. Pengetahuannya bertambah luas dan mendalam. Kemampuannya meningkat. Ke depan, semua itu menjadi modal terbesarnya dalam menjalani hidup.
Pentingnya Ubah Mindset Orangtua tentang Pendidikan Anak Perempuan

- Artikel menyoroti masih adanya orangtua yang kurang memprioritaskan pendidikan anak perempuan, padahal pendidikan penting untuk mengembangkan potensi dan karakter setiap anak tanpa memandang gender.
- Ditekankan bahwa diskriminasi pendidikan berdasarkan jenis kelamin dapat menciptakan ketidakadilan, rasa dendam, serta masa depan suram bagi anak perempuan yang tidak diberi kesempatan belajar setara.
- Orangtua diimbau mengubah mindset lama dan memberikan dukungan penuh agar anak laki-laki maupun perempuan memperoleh hak pendidikan yang sama demi masa depan yang lebih adil dan berdaya.
Sayangnya, di zaman yang sudah semaju ini pun masih ada orangtua yang kurang memprioritaskan pendidikan untuk putrinya. Beda dengan anak laki-laki yang didorong untuk bersekolah serta kuliah setinggi mungkin. Orangtua seperti gak merasa sayang sedikit pun buat berinvestasi untuk pendidikan anak laki-laki.
Malah terkadang sampai mengorbankan pendidikan anak perempuan. Pikir mereka, gak apa-apa anak perempuan di sekolah tak usah tinggi-tinggi. Justru pendidikan yang terlalu tinggi dapat membahayakan anak perempuan. Seperti mengubahnya menjadi terlampau berani serta sulit jodoh. Mindset orangtua tentang pendidikan anak perempuan yang sudah terlampau jadul seperti ini mesti dibuang karena lima alasan berikut.
1. Semua anak punya potensi dalam diri yang perlu dikembangkan melalui pendidikan

Tuhan tidak pilih kasih dalam memberikan potensi di dalam diri setiap anak. Baik anak laki-laki maupun perempuan dibekali-Nya dengan berbagai potensi. Potensi ini perlu dikembangkan supaya benar-benar bermanfaat dalam hidupnya nanti.
Bukan sekadar kasihan, melainkan jahat kalau orangtua menganaktirikan anak perempuan dalam pendidikan cuma karena jenis kelaminnya. Artinya, berbagai potensi dirinya seolah-olah dianggap gak ada. Orangtua tidak akan sanggup sepenuhnya menggantikan peran para guru di sekolah.
Kemampuan orangtua terbatas. Orangtua juga punya beragam kesibukan. Anak perempuan yang tidak disekolahkan seperti seharusnya dapat mirip katak dalam tempurung. Segala tentang pengembangan potensi dirinya tertinggal jauh dari teman sebaya.
2. Orangtua tidak tahu siapa yang di masa depan berkontribusi besar pada dunia

Masa depan anak masih terlalu jauh untuk ditebak saat ini. Orangtua gak boleh terlalu yakin cuma anak laki-laki yang akan menjadi orang penting. Sebab seandainya orangtua kasih kesempatan menempuh pendidikan yang sama boleh jadi anak perempuan justru mengubah dunia.
Tidak sedikit ilmuwan perempuan dengan berbagai penemuan yang penting buat umat manusia sampai sekarang. Juga para pemimpin perempuan yang berpengaruh besar di berbagai bidang. Orangtua tidak boleh menutup jalan anak perempuan untuk menemukan takdir terbaiknya.
Justru orangtua berkewajiban memfasilitasi pendidikan anak perempuan maupun laki-laki. Termasuk dalam situasi ekonomi yang penuh keterbatasan, pendidikan keduanya mesti diperjuangkan sampai tetes keringat terakhir. Bukan anak perempuan yang diminta berhenti sekolah demi saudara laki-lakinya dapat meneruskan pendidikan setinggi-tingginya.
3. Perbedaan perlakuan dapat menciptakan dendam

Anak secara alami mencintai orangtua. Sebab sejak awal kehidupannya yang sangat rentan, orangtua telah ada di sisinya dan memenuhi berbagai kebutuhannya. Akan tetapi, bila seiring waktu anak perempuan diperlakukan berbeda dari anak laki-laki, pasti muncul rasa benci.
Tidak terkecuali dalam hal pendidikan. Anak perempuan yang tak mendapatkan hak setara dengan saudara laki-lakinya bisa menimbulkan dendam. Memang barangkali bukan jenis dendam yang sampai membahayakan orangtua atau saudara laki-lakinya secara fisik.
Namun, rasa kurang suka tetap ada. Anak perempuan yang merasa dibedakan dalam keluarga bakal lebih sensitif, bahkan menolak patuh. Anak merasa dicurangi oleh orang-orang yang seharusnya paling bisa dipercayainya.
4. Menganaktirikan anak perempuan dalam pendidikan= menciptakan masa depan suram

Orangtua dapat secara gak sadar menciptakan masa depan suram buat putrinya. Ini terjadi karena orangtua bukannya mendukung, malah merintangi anak untuk mendapatkan pendidikan. Anak perempuan tidak diizinkan berkuliah.
Bahkan sekolah pun gak sampai selesai SMA. Akibatnya fatal buat kehidupan anak bertahun-tahun ke depan. Anak jelas sulit memiliki pekerjaan yang baik dengan modal pendidikan terakhir yang tak seberapa.
Dia pun lebih mudah mendapatkan pasangan yang tidak menghargai dirinya. Pasangannya merasa lebih superior baik dalam hal pendidikan maupun pekerjaan. Ia pun diperlakukan dengan buruk tanpa daya untuk melawan atau membebaskan dirinya dari situasi tersebut.
5. Anak tidak bisa memilih jenis kelaminnya

Ini alasan paling simpel kenapa orangtua gak perlu membedakan pendidikan antara anak laki-laki dan perempuan. Keduanya sama-sama tidak bisa memilih jenis kelamin. Kalau anak perempuan gak dikasih kesempatan pendidikan yang setara dengan anak laki-laki, dosa seperti ditimpakan padanya.
Ini terasa amat tidak adil baginya. Hanya karena dia terlahir perempuan, lantas hilang sejumlah kesempatan emas dalam hidupnya. Anak bisa seumur hidupnya terus mempertanyakan takdir.
Kenapa ia harus terlahir sebagai anak perempuan? Jangan sampai berawal dari sini, anak selalu membenci dirinya sebagai seorang perempuan. Padahal, bukan jenis kelaminnya yang salah. Namun, sikap diskriminatif orangtua berdasarkan gendernya.
Mindset orangtua tentang pendidikan anak perempuan yang gak usah tinggi-tinggi kudu diubah. Anak laki-laki serta perempuan mesti memperoleh kesempatan yang sama. Orangtua berperan sebagai motivator sekaligus fasilitator terbaik bagi keduanya. Jangan malah orangtua memupuskan harapan anak perempuan buat bersekolah dan berkuliah.



















