5 Novel Satir Pernikahan, Baiknya Dibaca sebelum Naik Pelaminan

- Lima novel satire pernikahan menawarkan perspektif tentang kompromi pasangan, tekanan keluarga, parenting, dan beban ekonomi di balik gambaran rumah tangga yang sering diromantisasi.
- Yesteryear dan Our Spoons Came from Woolworths menyoroti beratnya peran domestik, pengasuhan, kehamilan, serta ketimpangan tanggung jawab dan finansial dalam pernikahan.
- Excellent Women, Marriage, dan The Pumpkin Eater menggambarkan realitas pernikahan melalui gosip sosial, perjodohan, perceraian, serta pencarian identitas perempuan sebagai istri dan ibu.
Pernikahan sering diromantisasi sebagai fase hidup yang paling membahagiakan, padahal bersamaan dengannya lahir tanggung jawab baru yang tentu lebih berat dari sebelumnya. Mulai dari tuntutan untuk berkompromi dengan watak dan sifat pasangan, tekanan dari mertua dan ipar, hingga kebutuhan yang bertambah karena kehadiran anak dan masih banyak lainnya.
Agar dapat perspektif yang lebih berimbang, boleh kamu coba baca novel satir pernikahan berikut ini. Bukan untuk bikin kamu jadi paranoid, tetapi sebuah bekal pertimbangan sebelum memutuskan mengikat janji dengan calon pasangan.
1. Yesteryear (Caro Claire Burke)

Yesteryear karya Caro Claire Burke (dok. Penguin Random House/Yesteryear) Yesteryear adalah novel debut yang sempat menjadi sensasi saat pertama kali dirilis. Terinspirasi oleh tren tradwives yang beberapa tahun belakangan diadopsi menjadi persona oleh sejumlah pemengaruh media sosial, novel ini cukup unik dan gak tertebak. Lakon kita adalah Natalie, seorang pemengaruh yang menggunakan citra kehidupan ibu rumah tangga dengan banyak anak dan hidup bahagia di sebuah rumah peternakan.
Sehari-hari, Natalie bekerja membuat video masak dan vlog keseharian yang disukai jutaan orang. Namun, suatu hari, ia terbangun dalam kondisi berbeda. Rumahnya boleh sama, begitu pula anak-anak dan suaminya. Hanya saja, tak ada lagi kru, asisten, dan pengasuh yang membantunya. Ia seolah melakukan perjalanan antarwaktu dan kembali ke abad ke-19. Bagaimana bisa? Siap-siap tertampar dengan kenyataan soal peliknya pernikahan dan parenting, deh.
2. Our Spoons Came from Woolworths (Barbara Comyns)

Our Spoons Came From Woolworths karya Barbara Comyns (dok. Virago/Our Spoons Came From Woolworths) Sama-sama seniman dan satu visi, Sophia setuju untuk menikah dengan Charles pada usia 21 tahun. Cukup muda dan naif, Sophia ternyata harus menanggung beban ganda. Charles ternyata bukan tipe suami yang bertanggung jawab. Ia lebih sering bermalas-malasan dan mengandalkan pendapatan dari proyek yang pendapatannya gak selalu konsisten. Alhasil, untuk biaya hidup sehari-hari, mereka bertumpu pada pendapatan Sophia yang lebih stabil dari pekerjaannya sebagai asisten di sebuah studio seni.
Miris, ketika mereka belum mapan, Sophia menemukan dirinya tengah hamil. Jelas saja keduanya kelabakan dan panik. Charles tak begitu bahagia mendengar kabar itu, apalagi Sophia yang sekarang juga harus menghadapi transformasi dan penyesuaian biologis karena kehamilan tersebut. Our Spoons Came from Woolworths adalah pengalaman perempuan dalam pernikahan yang cukup menampar, meski dikemas dengan kemasan satir komedi.
3. Excellent Women (Barbara Pym)

Excellent Women karya Barbara Pym (dok. Virago/Excellent Women) Excellent Women adalah cerita Mildred, perempuan 30-an yang masih melajang dan justru sibuk jadi relawan di sebuah gereja lokal. Karena kegiatannya itu, ia cukup dekat dengan pendeta bernama Julian dan saudarinya, Winifred.
Banyak yang mengira Mildred akan berjodoh dengan Julian. Namun, yang terjadi justru di luar ekspektasi. Mildred, yang sudah jadi bahan gosip warga karena dianggap terlalu tua untuk menikah, justru berkawan dengan seorang pendatang bernama Helena.
Sudah menikah, Helena jadi semacam jendela bagi Mildred untuk melihat realitas pernikahan. Apa kesan yang ditangkap Mildred kemudian? Ini jadi plot utama novel klasik tersebut.
4. Marriage (Susan Edmonstone Ferrier)

Marriage karya Susan Ferrier (dok. Virago/Marriage) Marriage berorbit pada Juliana, putri bangsawan yang menolak perjodohan dan memilih menikahi seorang prajurit. Setelah melahirkan putri kembar, Juliana memutuskan untuk meninggalkan sang suami dan kembali ke rumah ayahnya. Dua putrinya tidak dibesarkan bersama. Juliana hanya membawa Adelaide dan menitipkan saudari kembarnya, Mary, kepada kakak iparnya.
Bertahun-tahun kemudian, Adelaide dan Mary tumbuh menjadi remaja yang punya kepribadian berbeda. Sama-sama sudah dianggap matang untuk menikah, mereka mulai menjadi subjek perjodohan. Pertanyaannya, akankah mereka mengikuti jejak sang ibu atau sebaliknya, memilih untuk belajar dari pengalaman ibu mereka?
5. The Pumpkin Eater (Penelope Mortimer)

The Pumpkin Eater karya Penelope Mortimer (dok. Penguin/The Pumpkin Eater) Buku ini dibuka dengan sesi konseling oleh perempuan bernama Mrs. A dengan seorang psikiater. Dari interaksi itulah, masalah Mrs. A mulai tersingkap. Sejak kecil, Mrs. A diajari untuk menjadi seseorang yang berguna. Sayangnya, ia menafsirkannya dengan cara yang cukup ekstrem. Mrs. A menganggap dirinya hanya berguna ketika ia menjalankan peran istri dan ibu.
Ketika anak-anak pertamanya tumbuh besar dan mandiri, ia tergerak untuk punya anak lagi. Tak heran, kemudian, ketika ia mengaku sudah menikah sebanyak 4 kali. Pernikahan bukan hanya sekadar hidup bersama.
Sebelum berkomitmen, coba renungkan peran dan fungsi apa yang hendak kamu jalankan, batasan apa yang akan kamu tetapkan, dan keseharian apa yang ingin kamu hadapi nantinya? Dari lima novel satir di atas, semoga kamu dapat tambahan gambaran, ya.
























