Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Novel Sci-Fi Karya Penulis Perempuan yang Ternyata Sangat Visioner

5 Novel Sci-Fi Karya Penulis Perempuan yang Ternyata Sangat Visioner
A Wrinkle in Time (madeleinelengle.com) | Parable of the Sower (octaviabutler.com)
  • Lima novel sci-fi karya penulis perempuan memakai latar masa depan untuk membahas persoalan nyata, seperti kontrol sosial, kecerdasan buatan, kesetaraan gender, dan kebebasan manusia.
  • A Wrinkle in Time dan Frankenstein menyoroti bahaya konformitas serta tanggung jawab moral pencipta terhadap ciptaannya, gagasan yang dikaitkan artikel dengan algoritma digital dan perkembangan AI.
  • Parable of the Sower, The Left Hand of Darkness, dan The Handmaid’s Tale mengangkat krisis sosial-lingkungan, asumsi gender, serta penindasan reproduksi dalam gambaran distopia yang berakar pada isu nyata.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Fiksi ilmiah sering dianggap sebagai genre yang sibuk membayangkan teknologi canggih atau kehidupan manusia di masa depan. Namun, novel sci-fi terbaik biasanya tidak hanya meramal seperti apa dunia kelak. Banyak di antaranya justru menggunakan masa depan sebagai cara untuk membicarakan masalah yang sebenarnya sudah ada sejak zaman penulisnya.

Menariknya, sejumlah penulis perempuan telah menghasilkan karya yang gagasannya terasa jauh melampaui zamannya. Mereka membahas kecerdasan buatan, kesetaraan gender, kontrol sosial, hingga rapuhnya kebebasan manusia ketika masyarakat mulai kehilangan kendali. Berikut lima novel sci-fi karya penulis perempuan yang bukan cuma menarik dibaca, tetapi juga terasa sangat visioner jika dilihat dari dunia sekarang.

  1. 1. A Wrinkle in Time — Madeleine L'Engle

    A Wrinkle in Time.
    A Wrinkle in Time (madeleinelengle.com)

    Terbit pada 1962, A Wrinkle in Time mengikuti Meg Murry, gadis berusia 13 tahun yang melakukan perjalanan melintasi ruang dan waktu untuk mencari ayahnya yang hilang. Bersama adiknya dan seorang teman, Meg tiba di planet Camazotz yang berada di bawah kendali entitas bernama IT. Di sana, semua orang dipaksa berpikir dan bertindak dengan cara yang sama sehingga tidak ada ruang bagi individualitas.

    Gagasan tentang masyarakat kehilangan kebebasan karena dipaksa mengikuti pola yang sama terasa sangat relevan lebih dari enam dekade kemudian. L'Engle sejak awal menggunakan Camazotz sebagai peringatan mengenai bahaya totalitarianisme dan konformitas. Di era algoritma dan media sosial, orang sering mendapatkan informasi yang serupa, mengikuti tren sama, dan berada dalam ruang digital yang memperkuat pendapatnya sendiri.

  2. 2. Frankenstein — Mary Shelley

    Frankenstein.
    buku Frankenstein (gutenberg.org)

    Novel yang terbit pada 1818 ini bercerita tentang Victor Frankenstein, seorang ilmuwan muda yang begitu terobsesi menemukan rahasia kehidupan hingga menciptakan makhluk dari potongan tubuh manusia. Namun, setelah eksperimennya berhasil, Victor justru ketakutan dan meninggalkan ciptaannya begitu saja. Sang makhluk kemudian tumbuh dalam dunia yang menolaknya dan akhirnya mencari balas dendam kepada penciptanya.

    Frankenstein terasa luar biasa visioner karena pertanyaan moral di balik eksperimennya. Shelley tidak sekadar bertanya apakah manusia bisa menciptakan kehidupan, tetapi juga apa yang terjadi jika mereka melakukannya tanpa memikirkan tanggung jawab setelahnya. Pertanyaan tersebut terasa sangat dekat dengan perkembangan AI modern, terutama ketika teknologi berkembang lebih cepat daripada aturan dan pertimbangan etikanya.

  3. 3. Parable of the Sower — Octavia E. Butler

    Parable of the Sower.
    Parable of the Sower (octaviabutler.com)

    Parable of the Sower membawa pembaca ke dunia yang sedang mengalami keruntuhan sosial dan lingkungan. Tokoh utamanya, Lauren Oya Olamina, adalah remaja yang memiliki kemampuan hiperempati sehingga dapat merasakan rasa sakit dan penderitaan orang lain. Ketika komunitas tempat tinggalnya hancur dan keluarganya tewas, Lauren terpaksa melakukan perjalanan untuk mencari tempat yang lebih aman.

    Novel ini terbit pada 1993 dan berlatar tahun 2024, yang membuatnya terasa semakin mencengangkan ketika memasuki dekade 2020-an. Butler membayangkan dunia yang menghadapi perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, kekerasan, ekstremisme, serta ketidakstabilan sosial. Tentu saja kehidupan nyata tidak sepenuhnya mengikuti prediksi novel, tetapi sejumlah kemiripannya terasa cukup mengganggu.

  4. 4. The Left Hand of Darkness — Ursula K. Le Guin

    The Left Hand of Darkness.
    The Left Hand of Darkness (goodreads.com)

    Dalam novel ini, Ursula K. Le Guin mengajak pembaca melihat dunia dari perspektif yang benar-benar berbeda. Ceritanya mengikuti Genly Ai, seorang utusan manusia yang datang ke planet Gethen untuk mengajak masyarakatnya bergabung dengan sebuah aliansi antarbintang. Penduduk Gethen memiliki karakteristik seksual yang berbeda dari manusia pada umumnya dan tidak hidup dalam sistem gender yang biasa dikenal Genly.

    Terbit pada 1969, novel ini sudah mengajukan pertanyaan yang masih ramai dibicarakan sampai sekarang tentang gender dan bagaimana identitas memengaruhi cara manusia berinteraksi. Le Guin tidak hanya menggunakan konsep tersebut sebagai gimmick fiksi ilmiah, tetapi menjadikannya cara untuk mempertanyakan asumsi manusia mengenai peran gender.

  5. 5. The Handmaid's Tale — Margaret Atwood

    The Handmaid’s Tale.
    buku The Handmaid’s Tale (margaretatwood.ca)

    Margaret Atwood menghadirkan salah satu gambaran distopia paling mengerikan lewat The Handmaid's Tale. Novel yang terbit pada 1985 ini mengikuti Offred, seorang perempuan yang hidup di bawah rezim totaliter setelah pemerintahan Amerika Serikat digulingkan. Karena krisis kesuburan, perempuan tertentu dipaksa menjalani kehidupan sebagai alat reproduksi bagi kelompok elite.

    Offred kehilangan banyak hak dan kebebasannya, tetapi tetap berusaha mempertahankan identitas melalui ingatan, hubungan dengan orang lain, serta cerita yang ia miliki tentang kehidupannya sendiri. Atwood menulis novel ini ketika dunia masih berada dalam suasana Perang Dingin, dan pengaruh kecemasan politik pada masa tersebut terasa kuat dalam ceritanya.

    Atwood sendiri tidak membangun distopia dari sesuatu yang sepenuhnya mustahil karena banyak elemennya berakar pada kejadian dan praktik yang pernah terjadi dalam sejarah. Itulah yang membuat novel ini terasa begitu mengganggu sekaligus visioner, karena semakin lama dibaca, semakin mudah menemukan persoalan di dunia nyata yang memiliki kemiripan dengannya.

    Kelima novel ini membuktikan bahwa sci-fi tidak hanya soal membayangkan kendaraan terbang atau teknologi masa depan. Dari kelima novel sci-fi karya penulis perempuan ini, mana yang menurutmu paling terasa seperti sudah meramalkan masa depan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More