6 Novel tentang Rivalitas dalam Pertemanan, Normal atau Toksik?

- Artikel menyoroti rivalitas pertemanan yang muncul dari iri, rendah diri, trauma, atau faktor eksternal; dampaknya bergantung pada kemampuan seseorang mengelola emosi negatif.
- Enam novel fiksi menghadirkan persahabatan kompleks lintas latar, dari ketimpangan pendidikan dan kelas sosial hingga kesehatan mental, cinta, marginalisasi, serta ambisi pribadi.
- Kisah-kisah tersebut menggambarkan perbandingan diri dan konflik yang dapat menguji kedekatan sahabat, bahkan berpotensi mengakhiri hubungan ketika rasa iri tidak terkendali.
Rivalitas dalam pertemanan itu nyata adanya. Ini berkaitan erat dengan emosi alamiah manusia yang bisa merasa rendah diri dan iri ketika melihat prestasi atau kebahagiaan orang lain. Bedanya terletak kepada cara seseorang mengontrol perasaan-perasaan negatif itu. Ada yang bisa melewatinya setelah melakukan refleksi dan menjaga jarak, tetapi ada yang termanifestasi sebagai rivalitas yang tidak sehat dan lain sebagainya.
Tak dimungkiri, dalam hubungan yang sudah rekat, seperti persahabatan sekalipun, perasaan iri bisa datang dari berbagai faktor. Baik eksternal seperti kehadiran orang baru, maupun internal, yakni keresahan dan trauma dari diri sendiri. Mau tahu sekompleks apa rivalitas dalam konteks pertemanan? Silakan baca enam novel fiksi berikut.
1. My Brilliant Friend (Elena Ferrante)

My Brilliant Friend karya Elena Ferrante (dok. Europa Editions/My Brilliant Friend) My Brilliant Friend adalah sebuah novel epik yang berlatarkan Italia pada 1950-an. Ceritanya tentang dua sahabat perempuan, Lenu dan Lila, yang besar di tengah kemiskinan. Mereka sama-sama cerdas secara akademik, tetapi Lila tak seberuntung Lenu yang didukung orangtuanya untuk melanjutkan pendidikan.
Perbedaan tersebut menciptakan tensi yang akan semakin parah seiring dengan fase pubertas yang mereka lalui. Dari luar mereka saling mendukung, tetapi tak bisa dimungkiri, prestasi dan keberuntungan satu pihak membuat pihak lainnya terkadang iri dan rendah diri. Novel ini ditulis dalam format tetralogi, mengikuti kehidupan Lenu dan Lila dari kanak-kanak hingga lansia.
2. A Leopard-Skin Hat (Anne Serre)

A Leopard-Skin Hat karya Anne Serre (dok. Penguin/A Leopard-Skin Hat) Novel ini ditulis dari POV seorang pria yang mengisahkan perjalanan hubungan pertemanannya dengan perempuan bernama Fanny. Fanny meninggal pada usia 43 tahun. Itu adalah fakta yang dibocorkan sang narator sejak halaman awal. Namun, bagaimana dan mengapa ia meninggal tak pernah dibocorkan.
Sang narator mencoba mengingat lagi momen-momen yang ia habiskan bersama Fanny. Sifatnya, hal yang ia suka dan tidak, sampai waktu ketika mereka sempat putus kontak karena kesehatan mental Fanny yang memburuk.
3. Piñen (Daniela Catrileo)

Piñen (dok. Charco Press/Pinen) Piñen adalah cerita tentang beberapa anak muda pribumi dari etnik Mapuche yang hidup di Chile. Kehidupan dan perjuangan mereka sebagai minoritas yang tersisih diceritakan oleh seorang narator yang mengaku sebagai tetangga dan teman sekolah mereka.
Darinya kita berkenalan dengan sejumlah karakter, seperti Jesus yang tewas saat ia melakukan transaksi narkoba, Valeska yang merupakan sahabat kecil sang narator dan menjadi korban pelecehan oleh orang terdekatnya sendiri, dan masih banyak lagi.
4. That’s All I Know (Elisa Levi)

That's All I Know karya Elisa Levi (dok. Graywolf Press/That's All I Know) That’s All I Know berlakonkan Lea, remaja 19 tahun yang mulai muak dengan hidupnya di sebuah kota kecil di Spanyol. Ia dapat beban pengasuhan adiknya yang mengidap masalah klinis, punya sahabat yang ternyata juga mengincar lelaki yang ia cintai dan dikejar pemuda lain yang tak ia suka.
Sepintas, novel ini tampak seperti kehidupan remaja pada umumnya, tetapi gaya penulisan Elisa Levi diacungi jempol oleh pembaca. Ia mengemasnya dalam format monolog yang mengalir dan enak dibaca.
5. The Lion Women of Teheran (Marjan Kamali)

The Lion Women of Tehran karya Marjan Kamali (dok. Simon & Schuster/The Lion Women of Tehran) Persahabatan beda kelas ternyata tak semudah yang kita bayangkan. Ini jadi premis utama novel terbaru Marjan Kamali yang berlakonkan Ellie dan Homa. Datang dari keluarga menengah atas yang bangkrut, Ellie dibantu Homa untuk mengarungi kehidupan barunya di sekolah yang didominasi murid dari kalangan bawah.
Mereka jadi sahabat yang terpisahkan sampai Ellie dan ibunya mendapat peluang untuk menjadi bagian dari kelas menengah atas dan pindah ke sekolah elit. Ellie dan Homa tak pernah lagi berkontak sampai keduanya tak sengaja dipertemukan pada satu momen bertahun-tahun kemudian.
6. The Book of Goose (Yiyun Li)

The Book of Goose karya Yiyun Li (dok. Macmillan/The Book of Goose) Fabienne dan Agnes adalah sobat karib yang besar di sebuah desa miskin di Prancis beberapa tahun setelah Perang Dunia II. Mereka sama-sama beraspirasi untuk meninggalkan desa ini dan menjadi perempuan sukses. Untuk mencapai mimpi itu, mereka sepakat untuk mencoba peruntungan di ranah sastra. Fabienne adalah pengampu cerita, sementara Agnes adalah eksekutornya.
Hasil kerja mereka membuahkan hasil, tetapi hanya Agnes yang mendapat pengakuan. Ketika Agnes berkesempatan meninggalkan desa itu lebih dahulu, Fabienne berlagak tak peduli, dan ini menghantui Agnes bertahun-tahun lamanya.
Sebagai manusia, kamu tidak akan bisa berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Termasuk orang yang kamu anggap sahabat. Kemampuan untuk mengontrol rasa iri dan konflik tersebut perlu dilatih. Bila tidak, dampaknya bisa fatal, bahkan sampai berakhirnya hubungan pertemanan itu. Pernah mengalaminya? Novel-novel di atas sepertinya sedikit banyak bisa mewakili secuil pengalamanmu.






















