Sekilas, pekerjaan seperti ini memang bikin geleng kepala. Namun nyatanya, selama ada orang yang butuh, jasa seperti ini tetap punya pasar. Yuk, lihat beberapa pekerjaan joki yang viral di media sosial meski terdengar nyeleneh tetapi ternyata ada saja peminatnya!
5 Pekerjaan Nyeleneh sebagai Joki tapi Punya Banyak Peminat

Kalau mendengar kata joki, yang biasanya terbayang mungkin orang yang mengerjakan tugas, bermain gim, atau menggantikan seseorang dalam sebuah ujian. Namun, sekarang jasa seperti ini bisa muncul untuk urusan yang jauh lebih receh.
1. Dibayar untuk hadir di zoom meeting

ilustrasi joki zoom (pexels.com/Anna Shvets) Joki Zoom mungkin terdengar seperti pekerjaan paling gampang karena tugasnya cuma masuk ke ruang meeting dan tetap berada di sana sampai acara selesai. Joki satu ini biasanya diminta menggunakan akun atau identitas milik pelanggan agar sistem mencatat orang tersebut sebagai peserta. Selama meeting berjalan, joki tinggal memastikan akun tetap terhubung dan memenuhi persyaratan kehadiran yang diminta penyelenggara.
Peminat jasa seperti ini biasanya datang dari orang yang punya urusan lain tetapi tetap diwajibkan mengikuti pertemuan daring. Ada yang harus meninggalkan laptop beberapa jam, ada pula yang sekadar ingin menghindari meeting yang dianggap gak penting. Buat para joki, hal tersebut justru bisa dijadikan pemasukan, meski praktik menggantikan kehadiran orang lain tentu bisa bertentangan dengan aturan kegiatan tertentu.
2. Ada yang mau bayar orang lain buat antre pertalite

ilustrasi SPBU (unsplash.com/dino kominfo) Kalau biasanya orang membayar supaya sesuatu cepat selesai, joki antre justru dibayar untuk melakukan sesuatu yang paling bikin malas, yaitu menunggu. Penyedia jasa biasanya datang lebih awal ke SPBU, mengambil posisi antrean, lalu menunggu sampai pengguna jasa datang untuk melanjutkan proses pengisian BBM. Ketika antrean panjang bahkan mengular, mereka rela menghabiskan beberapa jam untuk berdiri atau duduk di SPBU. Membayar jasa jelas lebih masuk akal bagi mereka karena mereka bisa melakukan aktivitas lain tanpa harus membuang banyak waktu.
Fenomena joki antre BBM sempat diberitakan muncul di sejumlah SPBU Kotawaringin Barat ketika antrean Pertalite dan Pertamax mengular pada Agustus 2026 lalu. Sebagai joki pertalite kamu jelas gak perlu punya keahlian khusus karena yang dijual memang kesediaan mengorbankan waktu. Bagi orang yang sedang bekerja atau punya urusan lain, membayar seseorang untuk menunggu lebih dulu bisa terasa praktis meskipun keberadaan joki di antrean juga dapat menimbulkan persoalan bagi pengguna lainnya.
3. Orang lain yang lari tapi statistiknya masuk ke strava kamu

Strava (unsplash.com/appshunter.io) Joki Strava punya job yang jauh lebih melelahkan karena mereka benar-benar harus berlari atau berolahraga. Aktivitas tersebut kemudian tercatat menggunakan akun Strava milik pelanggan sehingga jarak, durasi, kecepatan, dan rute akan muncul di profil mereka. Jadi, orang yang gak ngapa-ngapain tetap bisa punya catatan olahraga karena ada orang lain yang melakukannya atas nama mereka.
Fenomena ini sempat ramai di Indonesia dan melahirkan jasa dengan tarif berdasarkan jarak atau target pace. Ada penyedia jasa yang menerima permintaan lari dengan jumlah kilometer tertentu, bahkan seorang joki pernah disebut mendapat bayaran Rp500 ribu untuk berlari sejauh 50 kilometer selama sebulan. Hal yang dibeli pelanggan sebenarnya yaitu angka dan riwayat aktivitas yang kemudian tersimpan di akun Strava mereka.
4. Bayar orang lain buat review film di Letterboxd

ilustrasi menulis review film (unsplash.com/Christin Hume) Kalau joki Strava menggantikan aktivitas olahraga, jasa Letterboxd menggantikan aktivitas yang biasanya dilakukan ketika seseorang memang suka film. Joki dapat diminta menonton film, memasukkannya ke akun pelanggan, memberikan rating, sampai menulis review. Buat pencinta film, bagian “nonton filmnya” mungkin justru terdengar menyenangkan, tetapi ternyata ada orang yang lebih memilih membayar daripada mengurus akun sendiri.
Kebutuhan akan joki ini bisa muncul karena seseorang ingin akun Letterboxd-nya terlihat aktif atau punya daftar tontonan yang panjang tanpa harus meluangkan waktu untuk menonton semuanya. Ada pula yang ingin memiliki review di profil tetapi gak ingin menulis sendiri. Dari sini, yang dijual bukan cuma waktu menonton, melainkan pekerjaan mengurus profil agar terlihat seperti benar-benar aktif digunakan oleh pemiliknya.
5. Cuma modal punya iPhone sudah bisa jualan screenshot

ilustrasi iPhone (unsplash.com/Drew Coffman) Kalau punya iPhone, ternyata ada jasa receh yang bisa dijual ke orang lain, lho. Jangan tertawa, ya tapi ada joki untuk mengambil screenshot dari layar ponsel sendiri. Pembelinya jelas bukan sesama pengguna iPhone, melainkan orang yang memakai OS berbeda tetapi ingin punya tangkapan layar dengan tampilan iOS. Sebagai joki, kamu tinggal menerima permintaan, membuka aplikasi atau halaman yang diminta di iPhone, lalu mengirim hasil screenshot tersebut kepada pelanggan.
Kenapa orang mau membayar untuk sesuatu yang sebenarnya bisa mereka screenshot sendiri? Karena hasil tangkapan layar dari iPhone dan OS lain memang terlihat berbeda, terutama pada bagian status bar, ikon, susunan beberapa menu, dan elemen antarmukanya. Sesuatu yang kita anggap biasa bisa jadi wah bagi orang lain. Gak heran kalau jasa semacam ini terus bermunculan. Saat jasa ini ramai diperbincangkan, screenshot tersebut banyak digunakan untuk unggahan media sosial agar pemilik akun terlihat seperti menggunakan iPhone. Tarifnya pun sangat murah, mulai dari sekitar Rp500 sampai beberapa ribu rupiah per tangkapan layar.
Kalau dipikir-pikir, yang menarik dari pekerjaan-pekerjaan ini justru bukan jenis jasanya, melainkan alasan orang sampai membutuhkannya. Dari sini kelihatan bahwa di internet, hal yang awalnya cuma dianggap receh pun bisa menemukan orang yang mau membayar. Kalau kamu tertarik kah untuk membuka jasa joki semacam ini?
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























