Performative Reading: Membaca untuk Ilmu atau Validasi Sosial?

- Fenomena performative reading menggambarkan kebiasaan membawa buku di ruang publik sebagai aksesori untuk membangun citra intelek dan mencari validasi sosial, bukan selalu untuk dibaca.
- Pilihan buku filosofis, tebal, klasik, atau populer dapat dikomodifikasi sebagai penanda status; genre lain berisiko dipandang lebih ringan dalam hierarki selera baca.
- Budaya populer dan algoritma media sosial mendorong buku menjadi tren gaya hidup, sementara esensi membaca ditekankan tetap pada pemahaman isi dan kenikmatan personal.
Kamu pernah membaca buku di ruang publik? Fenomena itu nyatanya bukan lagi kegiatan yang jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku membaca di ruang publik kerap kita jumpai di tempat-tempat umum seperti taman kota, transportasi umum, maupun kafe. Namun, belakangan ini kebiasaan itu seolah mengalami pergeseran makna, dari yang awalnya sebagai aktivitas personal untuk memperluas wawasan atau menikmati cerita, bergeser menjadi medium representasi diri demi validasi.
Dalam sebuah artikel berjudul The Curious Notoriety of “Performative Reading” (2025) yang ditulis oleh Brady Brickner-Wood dan diterbitkan The New Yorker, istilah performative reader mengacu pada seorang pembaca yang memperlakukan buku layaknya aksesori. Mereka membawa buku sebagai strategi untuk menarik atensi atau sekadar memuaskan diri dengan merasa lebih unggul dibanding orang lain. Di saat orang sekeliling sibuk menatap layar, performative reader justru tampil mencolok dengan buku fisik di tangan, seakan mendeklarasikan bahwa diri mereka berbeda dan cerdas.
Padahal, kalau dipikir-pikir, buku yang mereka pegang belum tentu sedang benar-benar dibaca. Fenomena performative reading menunjukkan bahwa aktivitas membaca dilakukan untuk membangun citra diri. Sama seperti tas bermerek atau pakaian trendi, buku pun bisa berfungsi sebagai atribut gaya hidup.
1. Ketika kegiatan membaca jadi komoditas visual

ilustrasi orang membaca buku di taman (pexels.com/Mikhail Nilov) Dalam konteks performative reading, buku seolah berfungsi sebagai properties. Fokus utama membaca yang mulanya adalah dialog batin antara penulis dan pembaca berubah menjadi validasi eksternal dari orang-orang yang melihatnya.
Saat seseorang membawa buku tertentu ke ruang publik dengan maksud menggaet validasi sosial, buku yang dibawa sering kali sudah disiapkan berdasarkan seberapa baik citra yang dipancarkan. Buku-buku dengan judul filosofis, halaman yang tebal, maupun karya sastra klasik kerap dipilih bukan karena pembaca ingin paham isinya, melainkan karena buku semacam itu terbilang ampuh memberikan kesan intelek yang tinggi. Komodifikasi selera baca di ruang publik pun muncul, seolah menuntut seseorang untuk tampil ideal di hadapan orang lain hanya dari pilihan judul yang terpampang di pangkuan.
Buku jadi ada hierarkinya. Buku yang tengah populer atau mengangkat topik kompleks dianggap keren, sementara buku dengan genre lain dianggap ringan dan dipandang sebelah mata. Sebelum bepergian dengan membawa sebuah buku, kita pun harus bertanya dulu, “Buku apa ya yang layak dibaca di ruang publik?”
2. Komodifikasi selera baca muncul karena budaya populer dan algoritma

ilustrasi orang membaca buku (pexels.com/Ferhat Kocakaya) Komodifikasi selera baca bisa saja muncul karena adanya budaya populer dan algoritma media sosial yang menyeragamkan selera masyarakat secara masif. Melalui tren daring yang ada di berbagai macam platform seperti BookTok atau Bookstagram, buku-buku pun viral hingga mendorong seseorang agar menjadikannya bagian dari gaya hidup kekinian.
Algoritma media sosial punya peran krusial dalam hal ini. Algoritma merekomendasikan judul-judul serupa secara berulang kepada pengguna, membuat pengguna merasa wajib memiliki buku itu. Alhasil, dorongan untuk membeli dan memamerkan buku gak lagi murni dari curiosity akan ilmu, melainkan hasil dari tren digital yang mengubah pengalaman membaca personal jadi sekadar komoditas pasar.
3. Menjaga esensi membaca di tengah tren performative reading

ilustrasi orang membaca buku di taman (pexels.com/Vitaly Gariev) Performative reading memang banyak mendapat kritik karena dianggap mengubah esensi membaca jadi sekadar gimik. Istilah tersebut seolah erat kaitannya dengan pengalaman negatif. Meskipun begitu, gak ada yang salah ketika kamu memutuskan untuk membaca buku di tempat umum selama kamu menikmatinya dengan tulus, bukan karena ingin mendapat validasi sosial. Saat kamu membeli buku fisik dan membawanya ke ruang publik hanya untuk konten foto, di situlah literasi kehilangan esensinya.
Membaca itu tentang memahami isi bacaan, bukan tentang seberapa berbobot judul yang berhasil terekam kamera. Ruang publik bisa menjadi tempat menyenangkan kok untuk membaca, asal kamu tetap memosisikan buku sebagai sumber informasi dan pengetahuan, bukan sekadar properti penunjang gaya hidup belaka.
Fenomena komodifikasi selera baca ini menjadi refleksi bagaimana sebuah tren bisa mengubah kegiatan personal jadi ajang pencitraan. Maka, sudah saatnya kita memulihkan kesadaran yang sebenarnya dalam berliterasi.























