Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Dampak Performative Reading, Kamu Baca untuk Paham atau Pamer?

5 min read
5 Dampak Performative Reading, Kamu Baca untuk Paham atau Pamer?
ilustrasi membaca buku (pexels.com/George Milton)
  • Performative reading muncul ketika aktivitas membaca lebih diarahkan untuk membangun citra dan meraih pengakuan sosial daripada memahami gagasan secara mendalam.
  • Jumlah buku, kutipan, dan jenis bacaan dapat dijadikan ukuran kecerdasan atau status, padahal kualitas pemahaman tidak ditentukan oleh kuantitas maupun prestise buku.
  • Saat pengetahuan dipakai untuk terlihat pintar, pembaca berisiko mengabaikan refleksi, koreksi, perspektif berbeda, serta penerapan gagasan dalam cara berpikir dan bertindak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Membaca buku kerap dipandang sebagai aktivitas untuk memperluas wawasan, melatih daya kritis, dan memahami berbagai perspektif. Namun, di tengah budaya yang mengutamakan media sosial seperti sekarang, membaca juga dapat menjadi cara untuk membangun citra diri.

Buku yang sedang dibaca, jumlah halaman yang ditamatkan, hingga kutipan yang dibagikan bisa menjadi bagian dari identitas yang ingin ditampilkan kepada orang lain. Fenomena ini dikenal sebagai performative reading, yakni kecenderungan menampilkan aktivitas membaca demi kesan atau pengakuan sosial, bukan semata-mata untuk memperoleh pemahaman.

Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan tentang bagaimana pengetahuan dihargai dalam kehidupan modern. Apakah kita membaca karena ingin memahami sesuatu atau karena ingin terlihat sebagai orang yang berwawasan? Tentu, membagikan bacaan di media sosial tidak otomatis menunjukkan perilaku performatif. Namun, ketika citra intelektual lebih diutamakan daripada proses berpikir, ada beberapa persoalan mendasar yang patut direnungkan. Yuk, simak satu per satu berikut ini!

  1. 1. Pengetahuan mulai dinilai dari seberapa baik kita menampilkannya

    Membaca buku.
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/Gary Barnes)

    Media sosial memungkinkan orang membagikan pengalaman membaca melalui foto buku, kutipan, ulasan, hingga pencapaian membaca tahunan. Aktivitas ini dapat menginspirasi orang lain dan memperluas diskusi tentang literasi. Namun, ketika penampilan menjadi fokus utama, pengetahuan berisiko dinilai berdasarkan seberapa menarik seseorang menampilkannya. Buku yang terlihat di meja kerja atau kutipan filosofis yang diunggah bisa menjadi simbol kecerdasan, meskipun tidak selalu mencerminkan kedalaman pemahaman pemiliknya.

    Persoalannya bukan terletak pada kebiasaan membagikan bacaan, melainkan pada perubahan tujuan yang mungkin menyertainya. Jika pengakuan sosial menjadi motivasi utama, seseorang dapat lebih sibuk membangun citra sebagai pembaca daripada mengolah gagasan yang ditemukan. Pengetahuan akhirnya diperlakukan seperti sesuatu yang perlu dipamerkan agar diakui, bukan sesuatu yang perlu dipahami dan dipertanyakan. Dalam kondisi ini, penampilan intelektual berpotensi lebih dihargai daripada proses intelektual itu sendiri.

  2. 2. Banyak membaca dianggap sama dengan banyak memahami

    Membaca buku.
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Jumlah buku yang ditamatkan sering digunakan sebagai ukuran produktivitas membaca. Target tertentu bahkan dapat membantu membangun kebiasaan membaca secara konsisten. Namun, persoalan muncul ketika kuantitas dianggap sebagai bukti langsung dari kedalaman wawasan. Seseorang yang menamatkan puluhan buku dalam setahun belum tentu memahami seluruh gagasan di dalamnya, sebagaimana orang yang membaca beberapa buku secara mendalam tidak otomatis memiliki wawasan lebih sempit. Kualitas pemahaman tidak bisa diukur hanya melalui angka.

    Dalam konteks performative reading, pencapaian membaca dapat berubah menjadi sesuatu yang perlu diperlihatkan untuk memperoleh pengakuan. Pembaca mungkin terdorong menyelesaikan buku secepat mungkin agar targetnya tercapai, meskipun belum sempat merenungkan isinya. Padahal, memahami pengetahuan membutuhkan proses yang lebih kompleks, seperti menghubungkan gagasan, mempertanyakan argumen, dan mengevaluasi bukti. Ketika jumlah bacaan menjadi tujuan utama, membaca berisiko kehilangan fungsinya sebagai sarana belajar dan justru berubah menjadi ajang pembuktian produktivitas.

  3. 3. Selera bacaan berpotensi menjadi penanda status sosial

    Membaca buku.
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/cottonbro studio)

    Tidak semua buku memperoleh penghargaan sosial yang sama. Dalam lingkungan tertentu, membaca karya filsafat, sastra klasik, atau teori sosial mungkin dianggap lebih intelektual daripada membaca novel populer, komik, atau buku hiburan. Persepsi tersebut dapat membuat pilihan bacaan tidak lagi sekadar mencerminkan minat, tetapi juga menjadi cara seseorang menunjukkan posisi sosial dan identitas intelektualnya. Buku tertentu kemudian memiliki nilai simbolis karena dianggap mampu memberikan kesan bahwa pembacanya lebih terdidik atau berwawasan.

    Ketika pola ini menguat, muncul risiko terbentuknya hierarki di antara pembaca. Orang yang menyukai bacaan populer bisa dianggap kurang serius, sementara mereka yang membaca karya-karya tertentu memperoleh pengakuan lebih besar. Padahal, manfaat sebuah buku bergantung pada kebutuhan, konteks, dan cara pembaca mengolah isinya. Karya ringan pun dapat memantik refleksi, sedangkan buku yang dianggap berat tidak otomatis menghasilkan pemahaman mendalam. Krisis muncul ketika prestise sebuah bacaan lebih menentukan nilainya daripada kesempatan yang diberikannya untuk belajar.

  4. 4. Pengetahuan digunakan untuk membangun citra, bukan menguji pemikiran

    Membaca buku.
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/Min An)

    Salah satu tujuan penting mempelajari pengetahuan adalah memperluas cara pandang dan menguji keyakinan yang sudah dimiliki. Membaca dapat mempertemukan kita dengan argumen yang berbeda, menunjukkan kelemahan pemikiran sendiri, atau mendorong perubahan perspektif. Namun, dalam praktik performative reading, pengetahuan terkadang lebih banyak digunakan untuk memperkuat citra diri. Seseorang mungkin mengutip tokoh terkenal atau menggunakan istilah akademis agar terdengar cerdas, tanpa benar-benar memahami konteks maupun batasan gagasan tersebut.

    Kecenderungan ini dapat menghambat perkembangan intelektual karena pengetahuan diperlakukan sebagai alat untuk memenangkan perdebatan atau mempertahankan status, bukan sebagai sarana mencari pemahaman. Padahal, sikap intelektual yang sehat mencakup kesediaan mengakui ketidaktahuan, menerima koreksi, dan mempertimbangkan bukti yang bertentangan dengan keyakinan pribadi. Orang yang benar-benar belajar tidak harus selalu tampak paling tahu. Justru, kemampuan menyadari keterbatasan pengetahuan merupakan bagian penting dari proses berpikir kritis.

  5. 5. Nilai pengetahuan terpisah dari perubahan cara berpikir dan bertindak

    Seorang perempuan membaca buku.
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/Thới Nam Cao)

    Pengetahuan sering dianggap berharga karena dapat mengubah cara seseorang memahami dunia. Setelah membaca buku tentang empati, misalnya, seseorang mungkin mulai mempertimbangkan pengalaman orang lain dengan lebih terbuka. Bacaan tentang ketimpangan sosial juga dapat mendorong pembaca mempertanyakan asumsi yang sebelumnya diterima begitu saja. Namun, jika membaca terutama dilakukan untuk membangun citra, hubungan antara pengetahuan dan perubahan diri bisa menjadi kurang diperhatikan. Yang lebih penting justru kesan bahwa seseorang telah membaca atau mengenal gagasan tertentu.

    Tentu, tidak setiap buku harus langsung mengubah perilaku pembacanya. Ada bacaan yang sekadar menghibur, memberi informasi, atau menawarkan pengalaman estetis. Meski demikian, pengetahuan akan kehilangan sebagian potensinya jika hanya dikumpulkan sebagai simbol intelektualitas tanpa pernah dipikirkan lebih jauh. Membaca tidak harus menghasilkan perubahan besar, tetapi idealnya membuka ruang untuk mempertanyakan sesuatu, memahami perspektif lain, atau meninjau ulang keyakinan. Dengan demikian, nilai pengetahuan tidak berhenti pada apa yang diketahui, tetapi juga pada bagaimana pengetahuan tersebut dipahami dan digunakan.

    Itulah 5 persoalan yang dapat direnungkan dari fenomena performative reading. Membaca bukan hanya tentang membangun citra intelektual atau menunjukkan banyaknya buku yang telah diselesaikan, tetapi juga tentang memahami gagasan, menguji pemikiran, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More