Kamu pernah membaca buku di ruang publik? Fenomena itu nyatanya bukan lagi kegiatan yang jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku membaca di ruang publik kerap kita jumpai di tempat-tempat umum seperti taman kota, transportasi umum, maupun kafe. Namun, belakangan ini kebiasaan itu seolah mengalami pergeseran makna, dari yang awalnya sebagai aktivitas personal untuk memperluas wawasan atau menikmati cerita, bergeser menjadi medium representasi diri demi validasi.
Dalam sebuah artikel berjudul The Curious Notoriety of “Performative Reading” (2025) yang ditulis oleh Brady Brickner-Wood dan diterbitkan The New Yorker, istilah performative reader mengacu pada seorang pembaca yang memperlakukan buku layaknya aksesori. Mereka membawa buku sebagai strategi untuk menarik atensi atau sekadar memuaskan diri dengan merasa lebih unggul dibanding orang lain. Di saat orang sekeliling sibuk menatap layar, performative reader justru tampil mencolok dengan buku fisik di tangan, seakan mendeklarasikan bahwa diri mereka berbeda dan cerdas.
Padahal, kalau dipikir-pikir, buku yang mereka pegang belum tentu sedang benar-benar dibaca. Fenomena performative reading menunjukkan bahwa aktivitas membaca dilakukan untuk membangun citra diri. Sama seperti tas bermerek atau pakaian trendi, buku pun bisa berfungsi sebagai atribut gaya hidup.
