Program Bilateral Relations and Intercultural Dialogue for Growth and Empowerment (BRIDGE), yang diinisiasi Singapore International Foundation (SIF) pada 12–16 Januari 2026, menjadi ruang belajar bagi pemimpin muda Indonesia dan Singapura untuk memperdalam pemahaman tentang kohesi sosial, keberagaman, dan kepemimpinan inklusif. Mengusung tema “Fostering Social Cohesion in a Multicultural Society”, program ini menghadirkan rangkaian sesi pembelajaran, kunjungan komunitas, diskusi panel, dan lokakarya pengembangan kapasitas.
Program BRIDGE Jadi Ruang Belajar Pemuda Indonesia-Singapura

- Program BRIDGE oleh Singapore International Foundation mempertemukan pemuda Indonesia dan Singapura untuk belajar tentang kohesi sosial, keberagaman, serta kepemimpinan inklusif melalui sesi pembelajaran, diskusi, dan kunjungan komunitas.
- Peserta dari kedua negara saling memperkaya perspektif tentang identitas dan keberagaman, menekankan pentingnya dialog lintas budaya serta nilai gotong royong sebagai wujud nyata kohesi sosial di kehidupan sehari-hari.
- SIF menilai BRIDGE sebagai wadah membangun jejaring pemimpin muda Asia yang berkelanjutan, menghadapi tantangan kohesi sosial di era digital, dan mendorong kolaborasi lintas negara berbasis teknologi serta empati.
Di tengah masyarakat Asia Tenggara yang semakin terkoneksi, kemampuan untuk memahami perbedaan menjadi modal penting bagi generasi muda. Bukan hanya untuk membangun jejaring lintas negara, tetapi juga untuk memperkuat kohesi sosial di komunitas masing-masing. Melalui BRIDGE, para peserta diajak melihat keberagaman bukan sebagai batas, melainkan sebagai ruang untuk membangun dialog, kolaborasi, dan rasa saling percaya.
Farah H. Sanwari, Senior Manager, Programmes Division, SIF, menjelaskan bahwa inisiatif ini diluncurkan untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat dan membangun pemahaman yang lebih mendalam antara Singapura dan komunitas luar negeri melalui kerja sama yang berdampak sosial.
“Indonesia merupakan salah satu mitra terdekat dan terlama Singapura. Hubungan kedua negara tidak hanya berlangsung di tingkat pemerintahan, tetapi juga melibatkan berbagai bentuk kolaborasi antarmasyarakat,” ujar Farah. Tahun ini, SIF menandai lebih dari 30 tahun kolaborasi dengan Indonesia, yang telah berjalan sejak 1992 melalui berbagai inisiatif di bidang kesehatan, pendidikan, iklim, dan pengembangan kepemudaan.
1. Belajar melihat keberagaman dari pengalaman sehari-hari

Bagi Sri Nur Ainingsih, perwakilan peserta Indonesia dari Divisi Organisasi dan Kaderisasi Fatayat NU, salah satu hal paling berkesan dari BRIDGE adalah keterbukaan para peserta dalam mendengarkan dan menghargai pendapat satu sama lain.
Menurutnya, perbedaan bahasa maupun latar belakang tidak menjadi penghalang dalam membangun dialog. Ia melihat peserta dari Singapura sebagai kelompok yang kompak dan memiliki kecintaan kuat terhadap negaranya, meskipun hidup dalam masyarakat yang multikultural.
Pengalaman mengikuti BRIDGE juga memperluas pemahaman Sri tentang kohesi sosial. Ia menyadari bahwa nilai tersebut sebenarnya sudah sangat dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia.
“Gotong royong membersihkan lingkungan sekitar tanpa melihat perbedaan suku, ras, budaya, dan agama adalah salah satu contoh kohesi sosial yang sangat lekat dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia,” ujarnya.
Dari berbagai sesi yang diikuti, Sri menilai bahwa dialog lintas agama dan ras menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk diterapkan di Indonesia. Ia berencana membawa pulang pembelajaran tersebut melalui kegiatan dialog bersama organisasi atau komunitas, termasuk membuka ruang diskusi melalui media sosial.
Sebagai aktivis yang berfokus pada pengembangan kepemimpinan dan komunitas, Sri berharap dapat mendorong generasi muda untuk berpikir lebih terbuka dan menghargai perbedaan melalui cara-cara sederhana. Misalnya dengan mendengarkan, melibatkan, dan memberi kesempatan kepada setiap orang untuk berkontribusi sesuai kemampuan yang ingin mereka kembangkan.
Baginya, program seperti BRIDGE sangat penting karena mampu membangun persahabatan lintas negara, memperluas wawasan, dan menumbuhkan rasa saling menghormati antara pemuda Indonesia dan Singapura.
2. Indonesia memberi perspektif baru bagi peserta Singapura

Pengalaman serupa juga dirasakan Rustam Shariq Mujtaba, perwakilan peserta Singapura yang juga merupakan pendiri Project Broken Barges. Baginya, salah satu hal paling menarik dari peserta Indonesia adalah kemampuan mereka membangun keakraban dengan cepat, meskipun datang dari berbagai daerah dan sebagian besar belum pernah bertemu secara langsung.
Rustam mengaku terkesan melihat bagaimana peserta Indonesia dari berbagai wilayah, mulai dari Jambi hingga Maluku, dapat melewati perbedaan geografis dan budaya dengan begitu natural.
Ia mengingat salah satu percakapan dengan teman sekamarnya yang mengatakan, “Kita semua orang Indonesia, kenapa harus dibedakan?” Bagi Rustam, pernyataan sederhana itu menunjukkan adanya rasa hormat dan identitas bersama yang kuat di antara peserta Indonesia.
Sebagai warga Singapura, Rustam juga melihat program ini memperkaya pemahamannya tentang keberagaman di negaranya sendiri. Melalui interaksi dengan peserta Indonesia, ia menyadari bahwa seseorang dapat memegang beberapa identitas sekaligus—sebagai warga negara, sekaligus sebagai bagian dari komunitas budaya tertentu.
Menurut Rustam, pengalaman ini juga relevan bagi Singapura, yang sebagai negara relatif muda masih terus mengeksplorasi percakapan tentang identitas. Ia menilai masyarakat Singapura dapat semakin memperdalam pemahaman bahwa ras dan budaya tidak selalu sama, serta bahwa setiap kelompok ras memiliki identitas budaya yang lebih kaya dan berlapis.
3. Teknologi sebagai jembatan cerita dan kolaborasi

Sebagai profesional di bidang health tech sekaligus penggerak komunitas yang berfokus pada pelestarian warisan budaya, Rustam melihat peluang kolaborasi lintas negara setelah mengikuti BRIDGE.
Ia menilai teknologi dapat membuka ruang kreativitas baru bagi kolaborasi budaya, meskipun bukan satu-satunya faktor utama. Melalui Project Broken Barges, komunitas yang ia dirikan, Rustam berupaya mendokumentasikan sejarah lisan, arsip, dan cerita komunitas di kawasan timur laut Singapura, termasuk kampung-kampung Melayu, Jawa, Bawean, dan Orang Laut yang pernah hidup di wilayah tersebut. Ke depan, ia berharap dapat memanfaatkan teknologi seperti GenAI, visualisasi, dan extended reality untuk menghidupkan kembali cerita-cerita komunitas tersebut.
Salah satu sesi yang paling membekas bagi Rustam adalah panel “Future-ready Youth – Cultivating Inclusive Leaders for Tomorrow”. Menurutnya, sesi tersebut menghadirkan diskusi yang sangat kaya, mulai dari kebijakan pemerintah, dinamika media sosial, hingga isu reintegrasi dalam konteks ekstremisme.
Ia juga mencatat diskusi tentang bahaya digital dan kohesi sosial, termasuk perbandingan antara fenomena “trolls” di Singapura dan “buzzers” di Indonesia. Bagi Rustam, sesi tersebut menunjukkan bahwa tantangan kohesi sosial hari ini tidak hanya terjadi di ruang fisik, tetapi juga di ruang digital.
4. Tantangan kohesi sosial di era digital

Farah dari SIF menilai, salah satu tantangan terbesar dalam membangun kohesi sosial di ASEAN adalah luasnya keberagaman kawasan ini, baik dari sisi etnis, agama, bahasa, tingkat pembangunan ekonomi, maupun sistem politik.
Keragaman tersebut merupakan kekuatan, tetapi pada saat yang sama juga membuat masyarakat hidup dalam realitas sosial yang berbeda-beda. Hal ini dapat membuat proses saling memahami menjadi semakin kompleks.
Selain itu, perkembangan lanskap digital juga membawa tekanan baru. Media sosial dapat memperkuat ruang gema (echo chamber), misinformasi, dan narasi yang memecah belah. Tantangan ini semakin besar ketika tingkat literasi digital belum merata di seluruh kawasan.
Karena itu, SIF menilai program seperti BRIDGE penting untuk membangun ruang dialog yang aman, terbuka, dan saling menghormati. Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari berlangsungnya pertukaran selama kegiatan, tetapi juga dari kualitas dialog, kedalaman diskusi, perubahan perspektif peserta, serta keberlanjutan hubungan setelah program selesai.
Farah menjelaskan bahwa SIF juga melihat apakah para peserta tetap terhubung dan melanjutkan pertukaran gagasan maupun kolaborasi setelah program berakhir. Selain itu, SIF menggunakan survei sebelum dan sesudah program untuk memahami perkembangan persepsi dan pemahaman peserta mengenai kohesi sosial.
5. Membangun jejaring pemimpin muda Asia

Ke depan, SIF berharap dapat terus melibatkan alumni BRIDGE melalui pertemuan daring dan berbagai bentuk keterlibatan lainnya. Tujuannya agar hubungan yang telah terbentuk selama program dapat terus berkembang, sementara ide-ide kolaboratif para peserta dapat berlanjut dan memberikan kontribusi bagi komunitas masing-masing.
BRIDGE sendiri merupakan bagian dari ekosistem program kepemudaan SIF yang lebih luas, bersama dengan ASEAN Youth Fellowship, Asia’s Rising Circle, dan Collective Action for Resilience and Empowerment Programme. Melalui berbagai inisiatif ini, SIF berupaya memperkuat kapasitas kepemimpinan pemuda, membangun kepercayaan lintas negara, serta menciptakan jaringan regional yang berkelanjutan. (WEB/TAMA)



![[QUIZ] Dari Hobi yang Mirip Upin dan Ipin, Apakah Karakter Kamu Paling Menonjol?](https://image.idntimes.com/post/20250506/maxresdefault-17-b4e524f5490f1af799b4ba12a6bd3cbd-93a64d613f604af441389092c346c55f.jpg)

![[QUIZ] Dari Kebiasaanmu Sehari-hari, Apakah Personality ABCD Kamu?](https://image.idntimes.com/post/20250518/alexandre-viana-ss1fyhxfrge-unsplash-120d99068824bc16e20fee794f36b728-c01b99c63340f365fa913d283524bbc2.jpg)




![[QUIZ] Dari Keputusan Bodoh yang Pernah Kamu Buat, Kamu Tipe Panikan atau Suka Overthinking?](https://image.idntimes.com/post/20250514/pexels-rquiros-2219118-11zon-c8c3073f3cdfd54c4866b150b333b870-6da903b78196a694dc9b2d016f80fae8.jpg)
![[QUIZ] Jika Harus Membuat Keputusan Cepat, Mampukah Kamu?](https://image.idntimes.com/post/20250602/waktu-yang-tepat-untuk-menyiapkan-dana-darurat-status-masih-lajang-9cde86371d7fc78c91ae80a6ffab250e-3f9661a4d7a9d57d0115b6addb0c350f.jpg)

![[QUIZ] Apakah Kamu Bisa Membuat Keputusan yang Baik saat Tertekan?](https://image.idntimes.com/post/20250518/pexels-prolificpeople-30669342-2e200d7631513956cc911c6b0712fbd7.jpg)




![[QUIZ] Dari Banyaknya Beban Hidupmu saat Ini, Apakah Kamu Sedang Merasa Kelelahan?](https://image.idntimes.com/post/20250523/screen-shot-2025-05-23-at-115659-e7d9186e4966af11adcb53442fb9cef0-7bcecd47a3e6554ec7665020fd8cb10f.png)
![[QUIZ] Dari Lukisan yang Kamu Pilih, Bagaimana Selera Estetik Kamu?](https://image.idntimes.com/post/20250516/82fda7e2-d1be-4645-aad7-efb40c916609-1b0ff41e9a8a4649da2e26c7a193b2b1-595b3fbffa89646264b383d2f1abbb42.jpeg)