Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Quarter Life Crisis Makin Terasa setelah Lebaran? Ini Alasannya
ilustrasi keluarga Muslim yang merayakan Lebaran (pexels.com/RDNE Stock project)

Lebaran seharusnya jadi momen untuk recharge. Ketemu keluarga, makan enak, dan rehat sejenak dari rutinitas. Tapi anehnya, setelah semua itu selesai, justru banyak milenial merasa kosong. Bukan cuma sepi, tapi juga mulai mempertanyakan hidup sendiri.

Dari obrolan basa-basi yang berubah jadi “interogasi halus”, sampai melihat pencapaian orang lain saat kumpul keluarga, semua itu bisa memicu satu hal, yakni quarter life crisis. Perasaan bingung, tertinggal, dan mempertanyakan arah hidup sering kali muncul lebih kuat justru setelah Lebaran. Kenapa bisa begitu? Ini beberapa alasannya.

1. Terlalu banyak perbandingan sosial

ilustrasi keluarga yang saling bercerita (pexels.com/Muneeb Malhotra)

Saat Lebaran, kita sering bertemu keluarga besar, teman lama, atau kenalan yang sudah lama tidak dijumpai. Tanpa sadar, obrolan sederhana bisa berubah jadi ajang perbandingan hidup.

Melihat orang lain yang terlihat “lebih maju” bisa memicu rasa tertinggal. Padahal, yang terlihat hanya permukaannya saja. Setiap orang punya timeline berbeda, tapi momen seperti ini sering membuat kita lupa akan hal itu.

2. Pertanyaan klasik yang menekan

ilustrasi keluarga yang sedang merayakan Lebaran (pexels.com/RDNE Stock project)

“Kerja di mana sekarang?”
“Kapan nikah?”
“Udah punya rumah belum?”

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar biasa, tapi jika diterima berulang kali, efeknya bisa cukup berat. Apalagi kalau kita sendiri masih belum yakin dengan arah hidup yang sedang dijalani.

Lama-lama, pertanyaan tersebut berubah jadi tekanan internal. Kita mulai merasa harus punya jawaban, harus punya pencapaian, dan harus terlihat “baik-baik saja” di mata orang lain.

3. Waktu luang yang membuka ruang overthinking

ilustrasi seorang wanita yang sedang bersedih (pexels.com/Mikhail Nilov)

Selama Lebaran, ritme hidup melambat. Tidak ada deadline, tidak ada tekanan kerja, dan waktu terasa lebih longgar. Di satu sisi ini menyenangkan, tapi di sisi lain juga membuka ruang untuk berpikir lebih dalam.

Ketika pikiran tidak sibuk, kita jadi lebih reflektif. Mulai dari mempertanyakan karier, hubungan, sampai tujuan hidup. Tanpa distraksi, semua pertanyaan yang sebelumnya tertunda akhirnya muncul ke permukaan.

4. Kontras antara hangatnya Lebaran dan realita setelahnya

ilustrasi keluarga yang saling bermaaf-maafan (pexels.com/Wahyu Prabowo)

Lebaran penuh dengan kehangatan. Ada keluarga, ada tawa, ada rasa “pulang”. Tapi setelah itu selesai, kita kembali ke kehidupan masing-masing yang mungkin tidak selalu sehangat itu.

Perubahan yang cukup kontras ini bisa memicu rasa kosong. Dari yang sebelumnya merasa terhubung, tiba-tiba kembali sendiri. Momen ini sering membuat kita mempertanyakan: sebenarnya hidup yang kita jalani sekarang sudah sesuai atau belum?

5. Ekspektasi hidup yang terasa semakin dekat

ilustrasi seorang wanita merasa bersalah (pexels.com/Liza Summer)

Seiring bertambahnya usia, ekspektasi hidup terasa semakin nyata. Karier harus stabil, hubungan harus jelas, dan masa depan harus mulai direncanakan dengan serius.

Lebaran sering menjadi “pengingat halus” akan semua itu. Melihat keluarga, sepupu, atau teman yang sudah berada di fase hidup tertentu bisa membuat kita merasa tertinggal, meskipun sebenarnya kita sedang berada di jalur yang berbeda.

Quarter life crisis setelah Lebaran bukan sesuatu yang aneh. Justru ini adalah respons yang cukup umum ketika seseorang mulai lebih sadar akan posisi hidupnya saat ini. Perasaan bingung, cemas, atau tertinggal adalah bagian dari proses bertumbuh.

Yang penting, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kamu gagal hanya karena belum sampai di titik tertentu. Hidup bukan perlombaan dengan satu garis finish yang sama. Mungkin kamu hanya sedang berada di jalur yang berbeda, dengan waktu yang juga berbeda dan itu tidak apa-apa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAtqo Sy