Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kucing dan Healing Culture: Teman Sunyi di Tengah Hidup yang Ramai

Kucing dan Healing Culture: Teman Sunyi di Tengah Hidup yang Ramai
ilustrasi perempuan dengan kucing (unsplash.com/Tran Mau Tri Tam)
Share Article

Di tengah rutinitas yang padat dan tekanan hidup yang datang silih berganti, banyak orang mulai mencari cara sederhana untuk menenangkan diri. Fenomena healing culture pun semakin populer seiring dengan kebutuhan banyak orang dalam mencari ketenangan, mulai dari staycation, journaling, hingga menghabiskan waktu bersama hewan peliharaan. Di antara berbagai pilihan itu, kucing menjadi salah satu “teman healing” yang paling dekat dan menenangkan bagi banyak orang.

Tingkahnya yang lucu, kebiasaan tidur santai, hingga suara dengkuran lembutnya sering kali memberi rasa nyaman tanpa perlu banyak kata. Kehadiran kucing seolah menjadi ruang tenang di tengah hidup yang ramai dan serba cepat. Gak heran, banyak orang merasa lebih rileks, ditemani, bahkan emosinya lebih stabil hanya dengan bermain atau duduk bersama kucing kesayangan di rumah.

1. Kenapa generasi sekarang mudah lelah

ilustrasi menggendong kucing
ilustrasi menggendong kucing (pexels.com/Sam Lion)

Melansir dari Greater Good Megazine, psikolog sosial Sara H. Konrath, menyebut, generasi muda yang sering dianggap malas, manja, atau tidak punya etos kerja gak sepenuhnya benar. Ia menjelaskan bahwa generasi muda sebenarnya bukan malas, melainkan mengalami burnout akibat tekanan hidup yang terus meningkat. Selain itu, overthinking, hustle culture, paparan media sosial juga semakin memperparah keadaan.

Konrath menjelaskan bahwa stereotip terhadap anak muda sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Setiap generasi cenderung menganggap generasi setelahnya lebih lemah atau kurang disiplin. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa generasi muda saat ini justru memiliki tingkat kecerdasan yang meningkat, kemampuan menahan diri yang lebih baik, dan empati yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.

Masalah utamanya terletak pada tekanan yang mereka hadapi. Anak muda sekarang tumbuh dengan ekspektasi besar untuk sukses secara akademik, finansial, dan sosial dalam waktu bersamaan. Burnout pada generasi muda terlihat dari meningkatnya stres, kecemasan, depresi, hingga rasa tidak percaya pada masa depan. Banyak anak muda merasa kerja keras mereka tidak selalu sebanding dengan hasil yang didapat. Akibatnya, muncul rasa lelah emosional dan kehilangan motivasi.

2. Kenapa kucing terasa menenangkan

ilustrasi memandang kucing
ilustrasi memandang kucing (pexels.com/cottonbro studio)

Melansir dari Chewy, dijelaskan bahwa suara dengkuran atau purring pada kucing ternyata bukan cuma tanda mereka sedang senang. Kucing biasanya mendengkur saat merasa nyaman, misalnya ketika dielus atau tidur santai dekat pemiliknya. Namun, dalam beberapa kondisi, kucing juga bisa mendengkur saat stres atau ingin menenangkan dirinya sendiri.

Menariknya, suara dengkuran kucing juga sering memberi efek menenangkan bagi manusia. Brian Faulkner, dokter hewan, mengutip dari Petplan, bermain atau sekadar mendengar suara kucing bisa membantu mengurangi stres dan membuat suasana hati terasa lebih baik. Itulah kenapa banyak orang merasa lebih rileks dan nyaman setelah menghabiskan waktu bersama kucing peliharaannya.

"Berpelukan dengan kucing dapat mengangkat semangat kita setelah seharian bekerja keras," ucapnya.

3. Kucing sebagai teman sunyi

ilustrasi mengusap kucing
ilustrasi mengusap kucing (unsplash.com/Helena Lopes)

Di tengah rutinitas yang melelahkan, banyak orang merasa kehadiran kucing bisa menjadi sumber kenyamanan emosional. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemilik kucing cenderung merasa gak terlalu kesepian dan memiliki kondisi emosional yang lebih baik dibanding mereka yang tidak memelihara hewan.

Tanpa banyak “menuntut”, kucing mampu memberi rasa ditemani lewat hal-hal sederhana, seperti duduk di dekat pemiliknya, tidur di samping, atau sekadar mendengkur pelan. Kehadiran mereka sering terasa menenangkan karena memberikan companionship tanpa menghakimi. Itulah sebabnya banyak orang menganggap kucing bukan hanya hewan peliharaan, tetapi juga teman sunyi yang membantu meredakan stres dan membuat hati terasa lebih hangat di tengah hidup yang ramai.

Jurnal Psychological Health in a Population of Australian Cat Owners, Cheryl M. Straede &Richard G. Gates M.D., menyebut, memelihara kucing mungkin bermanfaat bagi kesehatan mental. Orang yang memiliki kucing menunjukkan tanda-tanda kesehatan psikologis keseluruhan yang lebih baik daripada mereka yang tidak memiliki hewan peliharaan.

4. Cat parent = mindful living

ilustrasi memeluk kucing
ilustrasi memeluk kucing (pexels.com/cottonbro studio)

Menjadi cat parent sering kali tanpa sadar mengajarkan seseorang untuk hidup lebih mindful dan pelan di tengah rutinitas yang serba cepat. Kucing adalah hewan yang hidup sepenuhnya di momen saat ini. Mereka menikmati tidur siang di bawah matahari, duduk tenang di dekat pemiliknya, atau mendengkur nyaman tanpa terburu-buru. Dari kebiasaan sederhana itu, banyak orang belajar untuk lebih hadir, menikmati momen kecil, dan tidak terus-menerus memikirkan tekanan hidup.

Rutinitas merawat kucing juga bisa menjadi bentuk grounding sehari-hari. Mulai dari menyiapkan makan, membersihkan litter box, hingga menyisir bulu mereka membuat seseorang lebih terhubung dengan aktivitas sederhana yang menenangkan pikiran. Bahkan, suara dengkuran dan sensasi mengelus bulu kucing sering memberi efek rileks yang membantu menurunkan stres setelah hari yang melelahkan.

Di sisi lain, kucing juga seperti mengingatkan bahwa istirahat adalah hal yang wajar. Mereka tidur tanpa rasa bersalah dan menjaga batas nyaman mereka dengan jelas. Kehadiran kucing akhirnya bukan hanya memberi companionship, tetapi juga mengajarkan pentingnya jeda, ketenangan, dan hubungan emosional yang hangat tanpa banyak kata.

5. Merawat kucing sebagai bentuk selfcare

ilustrasi perempuan menggendong kucing
ilustrasi perempuan menggendong kucing (pexels.com/Mikhail Nilov)

Merawat kucing sering dianggap sebagai bentuk self-care sederhana yang bisa membantu menjaga kesehatan mental di tengah rutinitas yang melelahkan. Interaksi kecil seperti mengelus bulu, mendengar suara dengkuran, atau bermain bersama kucing diketahui dapat memberi efek menenangkan dan membantu mengurangi stres. Kehadiran mereka juga membuat banyak orang merasa lebih ditemani sehingga rasa kesepian terasa berkurang.

Banyak orang menjadikan waktu bersama kucing sebagai cara untuk rehat sejenak dari layar dan hiruk-pikuk media sosial. Duduk santai sambil membaca buku ditemani kucing tidur di samping, atau bermain bersama mereka selama beberapa menit, sering kali cukup untuk membuat suasana hati terasa lebih ringan dan tenang.

Di tengah hidup yang semakin sibuk dan penuh tekanan, kucing akhirnya bukan hanya hadir sebagai hewan peliharaan, tetapi juga teman kecil yang membawa rasa tenang. Lewat kebiasaan sederhana bersama mereka, banyak orang belajar untuk beristirahat sejenak, hidup lebih mindful, dan menemukan kenyamanan dalam momen-momen kecil sehari-hari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More

30 Link Twibbon Waisak 2026 Gratis dan Contoh Desainnya

30 Mei 2026, 15:02 WIBLife