Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Novel Distopia yang Menggugah soal Kebebasan Perempuan
ilustrasi orang membaca novel (pexels.com/Min An)
  • The Handmaid’s Tale menggambarkan Offred di Republik Gilead, tempat perempuan dipaksa menjadi handmaid dan kehilangan hak membaca, bekerja, bersekolah, serta memiliki uang.
  • Vox mengikuti Dr. Jean McClellan di dunia yang membatasi perempuan hingga 100 kata sehari dengan hukuman setrum, sementara The Grace Year menyoroti kontrol atas masa depan perempuan 17 tahun.
  • The Power membalik hierarki gender melalui kemampuan perempuan menghasilkan sengatan listrik mematikan, mengeksplorasi dominasi, kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah gak kamu membayangkan hidup di dunia ketika hak dasar manusia dirampas begitu saja? Atau ketika kamu tiba-tiba punya kekuatan yang membuatmu bisa mengendalikan sistem? Distopia menjadi salah satu genre populer di kalangan pecinta buku. Gak sekadar menyajikan alur yang menegangkan, novel genre ini juga menawarkan refleksi yang mendalam. Nah, kalau kamu sedang mencari bacaan yang menggugah pikiran tentang kebebasan perempuan, berikut 4 rekomendasi novel distopia yang wajib kamu selami!

1. The Handmaid’s Tale (Kisah Sang Handmaid) karya Margaret Atwood

cover novel The Handmaid’s Tale (Kisah Sang Handmaid) karya Margaret Atwood (www.amazon.it)

Terjemahan Indonesia buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dengan tebal 448 halaman. Sangat tebal memang, tapi sepadan dengan kisah yang disajikan. Novel ini berfokus pada kehidupan Offred, seorang perempuan yang hidup di bawah pemerintah Republik Gilead.

Di negara tersebut, ada istilah handmaid, yaitu perempuan yang ditugaskan secara paksa untuk melahirkan anak bagi para penguasa elit dan istri mereka yang mandul. Para handmaid harus patuh, kalau melawan, mereka akan dihukum berat. Offred termasuk handmaid.

Novel ini menggambarkan secara jelas bagaimana hak-hak perempuan diabaikan dan dirampas secara paksa. Di Gilead, perempuan gak boleh membaca buku, bersekolah, bekerja, dan punya uang sendiri. Mereka hanya boleh keluar rumah untuk belanja.

Membaca novel distopia ini membuat kamu menyadari betapa rentannya hak-hak dasar manusia di bawah pemimpin yang otoriter dan ekstrem. Margaret Atwood sebagai penulis berhasil menyajikan kritik sosial yang tajam serta pengalaman emosional yang mendalam bagi pembacanya.

2. Vox karya Christina Dalcher

cover novel Vox karya Christina Dalcher (www.amazon.com)

Selanjutnya adalah buku karya Christina Dalcher berjudul Vox. Buku ini juga pernah dibaca oleh Maudi Ayunda lho. Vox gak kalah merinding dari The Handmaid’s Tale dan bisa membuat kamu marah semarah-marahnya.

Dalam dunia Vox, pemerintah membatasi hak bicara perempuan hanya sebanyak 100 kata per hari. Jika melanggar, ada konsekuensi yang wajib diterima, yaitu disetrum. Bayangkan kalau ini terjadi padamu, artinya kamu kehilangan suaramu, kamu gak bisa bekerja secara bebas, kamu gak mendapatkan hak belajar karena suaramu dibatasi.

Melalui sudut pandang tokoh bernama Dr. Jean McClellan, seorang ilmuwan linguistik, novel ini memperlihatkan bagaimana masyarakat bisa hancur karena mengabaikan kesetaraan demi ideologi ekstrem yang diagungkan. Jean pun mulai membuat perlawanannya sendiri saat kesempatan emas muncul di hadapannya.

3. The Grace Year karya Kim Liggett

cover novel The Grace Year karya Kim Liggett (www.amazon.com)

The Grace Year (Tahun Anugerah) merupakan novel bergenre distopia karya Kim Liggett yang rilis pada tahun 2019 dan diterbitkan oleh Penerbit Wednesday Books. Ceritanya penuh petualangan dan sarat akan pesan moral. Novel ini berlatar di sebuah pemerintahan yang memperlakukan perempuan sebagai objek. Saat berusia 17 tahun, perempuan lantas dinikahkan kepada siapa pun yang memilih mereka atau dipekerjakan sebagai pekerja kasar.

Nah, sebelum menjalani semua itu, perempuan dari Garner County dikirim untuk menjalani tahun anugerah atau disebut the grace year. Selama satu tahun penuh, mereka diasingkan ke sebuah tempat terpencil agar sihir mereka hilang. Orang-orang dari Garner County meyakini bahwa sihir memberikan kekuatan bagi perempuan. Kim Liggett menulis buku ini untuk orang-orang yang merasa bahwa keputusan hidup mereka bukan milik mereka sendiri. Di dunia modern, hal semacam itu masih ada, bukan?

4. The Power karya Naomi Alderman

cover novel The Power karya Naomi Alderman (www.amazon.com)

Terakhir adalah The Power karya Naomi Alderman. Jika novel-novel sebelumnya membahas tentang ketidakberdayaan perempuan, novel ini menawarkan alur cerita yang bertolak belakang, yakni perempuan yang mendominasi dan memegang kekuatan atas laki-laki. Dalam The Power, para perempuan punya kemampuan menghasilkan sengatan listrik yang mematikan.

Melalui sudut pandang berbagai tokoh, sang penulis Naomi Alderman memperlihatkan bagaimana wujud dunia saat hierarki gender dibalik (bukan lagi laki-laki yang memegang kuasa). The Power merupakan novel yang mengangkat isu feminisme, menghadirkan narasi serta pesan moral yang kuat terkait kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Novel ini sudah ada terjemahan bahasa Indonesianya, ya.

Membaca novel-novel tersebut memberikan kamu perspektif baru tentang kebebasan. Melalui kisah-kisah berbagai tokoh, kita seolah diingatkan untuk berani bersuara dan menegakkan keadilan maupun kesetaraan. Selamat membaca, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article