Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengapa Orangtua Gen Z Bisa Terjebak Obsesi Membentuk Anak Sempurna?

Mengapa Orangtua Gen Z Bisa Terjebak Obsesi Membentuk Anak Sempurna?
Ilustrasi anak-anak (pexels.com/Nicola Barts)
  • Media sosial membuat orangtua Gen Z terus melihat versi terbaik keluarga lain, memicu perbandingan, kecemasan, dan pola asuh lebih overprotektif terhadap perkembangan anak.
  • Pencapaian anak dapat dianggap sebagai ukuran keberhasilan orangtua, sehingga tekanan kompetitif mendorong ekspektasi perfeksionis, fokus prestasi, serta kontrol berlebihan.
  • Orangtua perlu memprioritaskan kebutuhan, ritme, dan minat anak; mengurangi perbandingan, membuka ruang gagal, serta membangun rasa aman dan komunikasi di rumah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Gen Z mulai masuk ke fase menjadi orangtua di tengah budaya yang serba terlihat. Parenting pun bukan lagi urusan di rumah saja, tapi ikut muncul di TikTok, Instagram, grup parenting, sampai konten keluarga yang menampilkan anak pintar, aktif, sopan, sehat, dan selalu terlihat “baik-baik saja”.

Masalahnya, ketika kehidupan anak terlalu sering dibandingkan dengan versi terbaik keluarga lain, keinginan memberi yang terbaik bisa pelan-pelan berubah jadi tuntutan. Anak bukan cuma diharapkan tumbuh dengan baik, tapi juga terlihat berhasil di depan orang lain. Lantas, kenapa orangtua bisa sampai terjebak dalam standar anak yang serba sempurna?

  1. 1. Media sosial bikin perbandingan terasa gak ada habisnya

    Ilustrasi anak sekolah
    Ilustrasi anak sekolah (pexels.com/ Andrea Piacquadio)

    Media sosial bikin kita gampang melihat kehidupan keluarga lain dalam versi terbaiknya. Ada anak yang terlihat aktif ikut banyak kegiatan, punya prestasi sejak kecil, makanannya selalu sehat, sampai rutinitas hariannya tampak serba rapi. Masalahnya, potongan hidup seperti ini bisa tanpa sadar jadi standar baru untuk menilai diri sendiri dan perkembangan anak.

    Riset yang terbit di Family Relations pada 2026 menemukan bahwa kebiasaan membandingkan diri dengan orangtua lain di media sosial berkaitan dengan meningkatnya kecemasan orangtua dan pola asuh yang lebih overprotektif. Saat orangtua mulai merasa anak lain “lebih maju”, dorongan untuk terus mengejar, mengatur, atau memastikan anak gak tertinggal bisa jadi makin kuat.

    “Pola asuh overprotektif dapat menjadi reaksi terhadap tekanan sosial dan media sosial," tutur Katherine M. Ryan dkk., peneliti Griffith University, dalam studi yang diterbitkan di Family Relations (2026)

  2. 2. Anak bisa ikut jadi ukuran keberhasilan orangtua

    ilustrasi anak berperan sebagai dokter
    ilustrasi anak berperan sebagai dokter (pexels.com/Yan Krukau)

    Ada tekanan halus ketika pencapaian anak mulai terasa seperti pencapaian orangtua juga. Anak dapat nilai bagus, menang lomba, tampil rapi, atau punya banyak kemampuan lalu semuanya dibagikan ke media sosial. Gak ada yang salah dengan merasa bangga, tapi situasinya bisa jadi rumit kalau anak mulai diarahkan untuk mempertahankan image keluarga yang “sempurna”.

    Riset terbaru tentang perfeksionisme juga menunjukkan bahwa kecemasan orangtua terhadap posisi dan pencapaian anak bisa mendorong pola asuh yang lebih fokus pada prestasi dan kontrol. Meta-analisis dari American Psychological Association menyebut tekanan kompetitif dan kecemasan soal pencapaian anak sebagai salah satu jalur yang bisa meneruskan ekspektasi perfeksionis antar generasi.

    “Kecemasan orangtua terhadap posisi dan daya saing anak mereka dapat mendorong pola asuh yang lebih berorientasi pada pencapaian dan cenderung mengontrol," tutur Thomas Curran dan Andrew P. Hill, peneliti perfeksionisme, dikutip dari American Psychological Association.

  3. 3. Fokus pada kebutuhan anak, bukan penilaian orang lain

    Ilusrasi anak
    Ilusrasi anak (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Salah satu cara paling sederhana untuk keluar dari standar “anak harus sempurna” adalah kembali melihat apa yang benar-benar dibutuhkan anak, bukan apa yang terlihat bagus di mata orang lain. Setiap anak punya ritme perkembangan, minat, dan cara belajar yang berbeda, jadi membandingkan mereka dengan anak lain justru gampang bikin orangtua kehilangan perspektif.

    Orangtua juga bisa mulai mengurangi kebiasaan membandingkan lewat media sosial, lebih banyak mengajak anak ngobrol, dan memberi ruang untuk gagal tanpa langsung dianggap sebagai masalah. Prestasi tetap boleh diapresiasi, tapi jangan sampai jadi satu-satunya ukuran keberhasilan karena rasa aman, percaya diri, dan hubungan yang sehat di rumah justru punya pengaruh besar pada tumbuh kembang anak.

    Anak gak harus selalu jadi yang paling cepat, paling pintar, atau paling menonjol untuk bisa tumbuh dengan baik. Kadang, yang paling mereka butuhkan justru orangtua yang hadir, mau mendengar, dan tetap bangga meski mereka gak selalu terlihat sempurna di depan orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More