Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Burnout atau Salah Jurusan? Begini Cara Membedakannya
ilustrasi mahasiswa sedang belajar (pexels.com/olia danilevich)
  • Artikel menjelaskan perbedaan antara burnout dan salah jurusan, dua kondisi yang sering disalahartikan karena sama-sama membuat mahasiswa kehilangan motivasi belajar.
  • Burnout ditandai kelelahan fisik dan mental akibat tekanan berlebih, sedangkan salah jurusan muncul dari rasa tidak cocok dan ketidaktertarikan mendalam terhadap bidang studi.
  • Penulis menekankan pentingnya refleksi diri sebelum mengambil keputusan besar, seperti pindah jurusan, serta menjaga kesehatan mental dengan memberi waktu istirahat bila hanya mengalami burnout.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setelah berhasil masuk ke jurusan favoritmu, ternyata problematika kehidupan mahasiswa masih belum selesai. Baru masuk semester dua, kamu langsung merasa jangan-jangan sebenarnya kamu salah masuk jurusan. Ya, awalnya semangat masuk kuliah dan bangga mengenakan jaket almamater. Namun, makin lama, tugas menumpuk, presentasi tidak ada habisnya, materi kuliah terasa sulit dipahami, yang membuat kamu bertanya-tanya apakah kamu berada di tempat yang tepat?

Masalahnya, tidak semua rasa lelah berarti salah jurusan. Kadang yang terjadi sebenarnya hanya burnout. Dan dua hal ini sering tertukar karena sama-sama menyebabkan kehilangan motivasi belajar. Kalau salah memahami kondisi sendiri, keputusan yang diambil juga bisa buru-buru. Ada yang langsung ingin pindah jurusan, padahal sebenarnya hanya terlalu lelah dan butuh istirahat. Ada juga yang memaksa bertahan, padahal memang bidangnya memang tidak cocok sama sekali. Nah, sebelum panik dan menyimpulkan macam-macam, coba kenali dulu perbedanya.

1. Saat burnout, semua hal terasa melelahkan

ilustrasi laki-laki merasa lelah (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Burnout itu kondisi saat tubuh dan pikiran terasa lelah terus-menerus akibat tekanan yang berkepanjangan. Bukan malas, hanya saja memang energinya seperti habis. Biasanya burnout membuat mahasiswa:

  • lebih mudah emosi

  • kesulitan fokus

  • kehilangan motivasi

  • capek walau tidak banyak beraktivitas

  • tugas kecil terasa berat sekali

Yang menarik, burnout biasanya tidak hanya terjadi di kuliah. Hal lain juga ikut terasa melelahkan. Malas buka laptop, malas ketemu orang, dan hobi yang biasanya disukai pun jadi tidak menarik lagi.

Misalnya, dulu kamu suka desain, editing, atau organisasi kampus. Sekarang kamu malas melakukan semua ini. Nah, itu bisa jadi tanda burnout

Burnout juga sering muncul saat ritme hidup sedang kacau. Tidur berantakan, tugas menumpuk, overthinking soal nilai, belum lagi tekanan dari keluarga atau lingkungan. Jadi, sebenarnya bukan jurusannya yang salah, tapi kapasitas mentalnya lagi penuh.

2. Kalau salah jurusan, bukan sekadar capek, tapi memang selalu terasa “bukan tempatku”

ilustrasi mahasiswa sedang kuliah (pexels.com/Monstera Production)

Berbeda dengan burnout, salah jurusan biasanya punya pola yang lebih konsisten sejak awal. Bukan hanya capek, tapi memang tidak tertarik dengan materi yang dipelajari. Contohnya:

  • masuk jurusan akuntansi karena ikut teman, padahal tidak suka hitung-hitungan

  • kuliah teknik karena disuruh orangtua, padahal lebih suka dunia kreatif

  • masuk kedokteran demi gengsi, tapi ternyata tidak tahan hafalan dan praktik

Orang yang salah jurusan sering merasa “asing” dengan apa yang dipelajari. Saat teman-temannya antusias membahas materi, dia justru bingung kenapa semuanya terlihat menarik untuk orang lain. Yang membuat berat, rasa tidak cocok itu biasanya muncul terus-menerus. Bahkan, ketika sedang libur, pikiran soal kuliah tetap membuat tidak nyaman.

3. Coba tanya ke diri sendiri

ilustrasi seseorang sedang berpikir (pexels.com/Athena)

Kadang jawabannya sebenarnya sudah ada, tapi tenggelam karena terlalu stres. Coba pikirkan beberapa hal ini:

  1. Apakah kamu masih merasa penasaran dengan bidang itu?

Meski capek, orang yang burnout biasanya masih punya sedikit rasa tertarik. Misalnya, tetap senang ketika berhasil memahami materi tertentu atau menikmati praktik tertentu. Kalau benar-benar salah jurusan, kamu hampir tidak pernah merasa penasaran

  1. Kalau tugasnya dikurangi, apakah kamu masih ingin belajar hal itu?

Ini penting sekali. Kadang yang membuat ingin menyerah bukan ilmunya, tapi sistem kuliahnya yang bikin kewalahan. Deadline, revisi, tugas kelompok, organisasi, semuanya campur jadi satu. Coba bayangkan kalau tekanannya dikurangi. Apakah kamu masih bisa menikmati bidang tersebut?

  1. Apakah kamu lelah atau memang tidak suka?

Dua hal ini beda tipis tapi efeknya besar. Orang yang lelah biasanya masih bisa berkata, “Sebenarnya aku suka, cuma lagi capek.” Sedangkan orang yang salah jurusan lebih sering berkata, “Aku gak bisa membayangkan melakukan ini terus.”

4. Jangan langsung membandingkan diri dengan teman

ilustrasi mengerjakan tugas kelompok (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Kadang rasa salah masuk jurusan muncul karena melihat orang lain lebih jago dan lebih menikmati kuliah. Padahal belum tentu kamu salah tempat. Bisa jadi kamu hanya sedang kehilangan rasa percaya diri.

Di media sosial juga semuanya terlihat sempurna. Ada yang sudah magang keren, IPK tinggi, aktif organisasi, ikut lomba sana-sini. Akhirnya, kita merasa tertinggal dan mulai mempertanyakan diri sendiri. Padahal tiap orang punya ritme yang beda.

5. Tidak apa-apa kalau ternyata memang salah jurusan

ilustrasi belajar biologi (pexels.com/RDNE Stock project)

Banyak orang takut mengakui ini karena merasa sudah terlanjur terjun. Padahal pindah arah bukan berarti gagal. Ada orang yang baru sadar passion-nya setelah kuliah berjalan beberapa semester. Ada juga yang akhirnya bekerja di bidang yang sama sekali berbeda dari jurusannya. Kuliah memang penting, tapi kesehatan mental dan rasa nyaman dengan masa depan juga gak kalah penting.

Kalau setelah dipikir matang ternyata memang salah jurusan, setidaknya kamu jujur pada diri sendiri. Dan itu jauh lebih baik daripada memaksakan diri bertahun-tahun sambil merasa tersiksa. Namun, kalau ternyata yang terjadi adalah burnout, mungkin yang kamu butuhkan bukan pindah jurusan. Bisa jadi kamu hanya perlu istirahat, mengatur ulang ritme hidup, dan memberi napas untuk diri sendiri sebentar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article