- ANGKATAN BALAI PUSTAKA
Sejarah Puisi dan Chairil Anwar sebagai Ikon Pemberontakan Sastra

- 28 April diperingati sebagai Hari Puisi Nasional untuk mengenang wafatnya Chairil Anwar, penyair legendaris yang juga menjadi simbol revolusi sastra Indonesia.
- Perkembangan puisi Indonesia dimulai dari Angkatan Balai Pustaka hingga Puisi Kontemporer, dengan tiap periode membawa perubahan bentuk, tema, dan gaya penulisan.
- Chairil Anwar menjadi ikon pemberontakan sastra karena membebaskan puisi dari bentuk terikat serta memperkenalkan bahasa lugas dan ekspresif yang mencerminkan semangat kemerdekaan.
28 April merupakan Hari Puisi Nasional. Peringatan hari tersebut adalah untuk mengenang wafatnya penyair legendaris Indonesia, Chairil Anwar. Hari Puisi Indonesia juga diperingati setiap tanggal 26 Juli sebagai hari lahir Chairil Anwar. Dua tanggal tersebut seakan menjadi simbol besar bagi perjalanan hidup seorang penyair sekaligus sang revolusioner Chairil Anwar.
Sebagai seorang penyair, Chairil Anwar aktif melahirkan karya-karya luar biasa. Ia bukan saja sosok perangkai kata, tetapi juga sosok penting di balik lahirnya Angkatan ’45. Lantas, bagaimana sebenarnya sejarah puisi Indonesia dan mengapa Chairil Anwar menjadi ikon pemberontakan sastra?
1. Apa itu puisi?

Apa yang ada di pikiran kalian saat mendengar kata puisi? Puisi memang tak lepas dari yang namanya imajinasi dan diksi indahnya. Secara etimologi, kata puisi berasal dari bahasa Yunani yakni poesis yang berarti membangun, membentuk, membuat, menciptakan. Dalam konteks sastra, puisi mengacu pada ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, dan penyusunan bait. Puisi juga dapat diartikan sebagai ungkapan perasaan penulis yang dituangkan ke dalam bait dan berirama serta memiliki kedalaman makna.
Berdasarkan definisi itu, kita jadi memahami bahwa puisi itu bukan sekadar keindahan kata, melainkan pengalaman batin sang penulis. Ketika menulis puisi, sang penulis tak hanya memindahkan kata-kata ke dalam bait dari pikirannya, tetapi juga sedang memproses emosinya.
2. Sejarah dan perkembangan puisi Indonesia

Jika kita melihat pada perkembangannya, perkembangan karya sastra di Indonesia terbagi menjadi beberapa kategori sesuai dengan model dan ciri strukturnya.
Perkembangan puisi di Indonesia diawali dengan Angkatan Balai Pustaka atau dikenal dengan Angkatan ’20-an. Angakatan Balai Pustaka berlangsung dari tahun 1920 sampai dengan sekitar tahun 1933. Di angkatan ini, puisinya berupa syair, pantun, dan mantra yang merupakan puisi terikat.
- ANGKATAN PUJANGGA BARU
Setelah Angkatan Balai Pustaka, muncul Angkatan Pujangga Baru atau Angkatan ’30-an yang berlangsung mulai tahun 1933 sampai dengan tahun 1945. Jika angkatan sebelumnya puisi banyak dipengaruhi oleh puisi lama yang terikat, di Angkatan Pujangga Baru diciptakanlah puisi baru. Sejumlah jenis puisi baru itu seperti distichon (2 baris), tersina (3 baris), quartrin (4 baris), quint (5 baris), sextet (6 baris), septima (7 baris), oktaf (8 baris), dan soneta (14 baris). Penyair di periode ini ada Amir Hamzah sebagai Raja Pujangga Baru, J.E. Tatengkeng, dan lain-lain.
- ANGKATAN 45
Kemudian, ada Angkatan 45 yang berlangsung tahun 1945 sampai dengan tahun 1953. Kalau periode sebelumnya dilakukan pembaharuan bentuk puisi, di periode ini dilakukan perubahan menyeluruh. Bentuk puisi soneta, tersina, dan lainnya tak dipergunakan lagi. Ini berarti puisi punya struktur yang bebas. Di angkatan ini, banyak puisi beraliran ekspresionisme dan realisme, gaya sinisme dan ironi, serta masalah kemasyarakatan dan kemanusiaan. Penyair di angkatan ini ialah Chairil Anwar, Sitor Situmorang, dan lain-lain.
- ANGKATAN 50 DAN 66
Setelah itu, ada Angkatan ’50-an sampai ’60-an. Ini berarti setelah kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, puisi menjadi lebih beragam. Muncul gaya Balada yang dipelopori oleh W.S. Rendra. Tema yang diangkat pun banyak tentang kritik dan realitas sosial. Ada pula Angkatan 66 yang didominasi oleh sajak demonstrasi. Pernyair seperti Taufiq Ismail dan Rendra menjadi penyair yang giat mengobarkan semangat aktivis kala itu. Di periode ini juga berkembang dua aliran besar puisi, yakni neo-romantisme dan intelektualisme.
- ANGKATAN PUISI KONTEMPORER
Terakhir, adalah Puisi Kontemporer hingga sekarang. Puisi kontemporer adalah puisi yang melepaskan diri dari bentuk terikatnya. Bentuk dan gaya tidak mengikuti kaidah puisi pada umumnya. Salah satu hal penting dalam puisi ini adalah penjungkirbalikan kata-kata baru dan penciptaan idiom-idiom baru. Adapun penyair puisi kontemporer seperti Sutardji, Emha Ainun Najib, dan Sapardi Djoko Darmono.
3. Mengapa Chairil Anwar jadi ikon pemberontakan sastra?

Sebagaimana kita ketahui, Chairil Anwar termasuk dalam penyair Angkatan 45. Salah satu ciri khas angkatan ini adalah puisi beraliran ekspresionisme dan realisme, gaya sinisme dan ironi, serta masalah kemasyarakatan dan kemanusiaan. Begitu pula yang terdapat dalam puisi Chairil Anwar, termasuk puisi populernya berjudul “Aku”. Kemudian, sebelum Chairil muncul, puisi masih terikat, Chairil lalu membebaskan puisi dari belenggu itu. Ia memperkenalkan puisi bebasnya. Chairil juga melakukan pemberontakan melalui diksinya. Jika sebelumnya puisi menggunakan bahasa yang sopan dan puitis, Chairil justru menggunakan bahasa sehari-hari yang tajam, jujur, dan terdengar kasar. Ingat salah satu larik dalam puisi berjudul “Aku”? Di sana, terdapat larik yang berbunyi “Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang”.
Chairil berhasil mendobrak estetika lama dengan membebaskan kreativitas penyair Indonesia. Dalam puisi-puisinya, ekspresionismenya begitu jelas. Sesuai dengan semangat tahun 45, Chairil Anwar merepresentasikan sikap pantang menyerah dan kemandiriannya itu melalui puisinya yang menggetarkan dan autentik, tanpa menggunakan kata-kata yang indah. Ia berpuisi tanpa kaku, tanpa terikat, melainkan bebas dan liar.
Apakah kamu jadi semakin paham tentang sejarah perkembangan puisi di Indonesia dan sosok Chairil Anwar sebagai ikon pemberontakan sastra? Dengan memahami perkembangan karya sastra di negeri ini, kamu jadi semakin menghargai betapa dinamisnya bahasa dan betapa menariknya sastra. Sosok Chairil juga bisa jadi inspirasi kita untuk berani bersuara dan melahirkan karya-karya hingga kita bisa terus hidup seribu tahun lagi.


















