7 Tantangan Jurnalis Perempuan di Medan Konflik dan Isu Sensitif

- Jurnalis perempuan menghadapi tantangan berat di medan konflik, mulai dari risiko penyanderaan hingga pelecehan seksual yang sering kali dipicu pandangan bahwa perempuan lebih lemah.
- Kondisi biologis seperti menstruasi serta stereotip negatif membuat jurnalis perempuan harus berjuang ekstra menjaga profesionalitas dan kesehatan saat bertugas di lapangan ekstrem.
- Selain ancaman fisik, mereka juga kerap diragukan kemampuannya, dianggap pemanis kamera, bahkan dipandang sebagai beban tim dalam dunia jurnalistik yang masih didominasi pria.
Menjadi jurnalis adalah pilihan hidup yang amat berani. Apalagi jurnalis perempuan karena seksisme dan misogini masih cukup kuat di berbagai tempat. Padahal, pekerjaan ini cukup berat. Tugas-tugas lapangan sudah menjadi keseharian.
Sementara ruang aman untuk perempuan belum sesuai harapan. Namun, peran jurnalis baik perempuan maupun pria amat penting. Melalui liputan mereka, masyarakat di seluruh penjuru dunia mengetahui informasi yang akurat.
Sementara itu, jurnalis perempuan memberikan warna berbeda dalam setiap liputan. Empati yang tinggi membuat mereka lebih mudah serta luwes menjalin komunikasi dengan siapa pun tanpa kesan cuma mencari berita. Di lapangan terutama ketika liputan di medan konflik atau mengangkat isu-isu sensitif, jurnalis perempuan menghadapi sejumlah tantangan berat. Seperti di bawah ini.
1. Risiko penyanderaan

Tentu korban penyenderaan sebetulnya bisa berjenis kelamin apa pun. Banyak pula pria yang disandera. Seperti pilot pria ketika terbang di area yang rawan konflik. Namun, apabila dalam satu kelompok liputan terdapat pria dan perempuan, maka jurnalis perempuan biasanya lebih rawan disandera.
Ini tidak lepas dari pandangan bahwa perempuan lemah sehingga gak akan bisa melawan. Pun boleh jadi penyanderaan oleh sekelompok pria berujung pada kekerasan seksual terhadap jurnalis perempuan. Jurnalis perempuan harus lebih waspada ketika bertugas di medan konflik.
2. Agak repot saat siklus menstruasi

Kodrat perempuan ini tidak menjadi masalah besar ketika liputan biasa. Mereka masih dapat pergi ke toilet kapan pun diperlukan, membeli serta mengonsumsi vitamin penambah darah, dan tidak merasa terlalu tegang. Akan tetapi, kondisi di area konflik sangat berbeda.
Bagaimanapun juga, datang bulan menuntut perempuan buat menjaga asupan makanan agar kondisi tubuh tidak drop. Namun, ini sulit dilakukan ketika jurnalis perempuan meliput perang, misalnya. Bahkan mereka hendak membersihkan diri saja belum tentu bisa. Perempuan juga mengalami sakit perut, pegal-pegal, dan sebagainya selama siklus menstruasi.
3. Kemampuannya sebagai jurnalis diragukan

Memangnya perempuan bisa apa? Kalimat seperti di atas masih sering terlontar dari sejumlah pria. Kalaupun kalimat tersebut gak dikatakan secara langsung, sikapnya pun sudah tidak menyenangkan. Apalagi ketika jurnalis perempuan terjun ke lapangan yang penuh ketegangan.
Kemampuannya bertahan hidup di situasi sulit saja kerap diragukan. Juga kemampuannya menghadapi ancaman keselamatan yang terus-menerus. Jurnalis perempuan dituntut untuk lebih menunjukkan kemampuannya di medan yang paling sulit sekalipun. Dengan begitu, rasa percaya serta respek akan diperoleh.
4. Dianggap hanya pemanis kamera

Profesi jurnalis yang bisa dilakoni oleh pria dan perempuan tidak berarti pandangan orang terhadap mereka sama. Jurnalis perempuan baik berdandan atau tampil apa adanya masih kerap dianggap cuma pemanis kamera. Agar penonton berita tidak ganti ke saluran lain.
Pandangan seperti ini tentu mencerminkan sikap yang merendahkan kemampuan jurnalis perempuan. Mereka hanya dilihat dari segi fisik yang tampak di kamera. Kemampuannya di bidang jurnalistik justru belum menjadi perhatian utama.
5. Juga beban dalam tim

Dunia jurnalistik masih didominasi pria. Tentu banyak rekan pria yang suportif serta mengagumi kinerja jurnalis perempuan. Namun, tak sedikit pula teman sendiri yang masih memandangnya tidak lebih dari beban dalam tim.
Jika mereka ditugaskan bersama ke area yang jauh dari kata aman, rekan pria seakan-akan harus ekstra menjaganya. Perempuan selalu dipandang lebih manja dan lemah dari pria. Ini membuat jurnalis perempuan dapat kurang memperoleh kesempatan yang sama buat berkembang dalam pekerjaannya.
6. Ancaman, pembuntutan, hingga penyerangan di luar kantor

Ketiga ancaman di atas pada dasarnya dapat dialami oleh siapa pun. Jurnalis atau bukan jurnalis. Juga baik jurnalis perempuan maupun pria. Namun, potensi bahaya pada jurnalis perempuan lebih besar. Lagi-lagi, ini berkaitan erat dengan pandangan bahwa perempuan lebih lemah sehingga mudah ditaklukkan saat sendirian.
Bahkan teror-teror berupa ancaman pun diyakini bikin perempuan seketika gentar. Jurnalis perempuan mesti lebih berhati-hati ketika berada di luar kantor saat atau setelah mereka meliput isu-isu sensitif. Seperti megakorupsi, skandal yang melibatkan penguasa atau keluarganya, dan sebagainya.
7. Pelecehan seksual

Perempuan dan risiko pelecehan seksual masih menjadi PR besar dari masa ke masa. Tak terkecuali di Indonesia dan pada jurnalis perempuan. Ada saja orang yang tidak fokus pada tugas yang sedang dijalankan seorang jurnalis perempuan di lapangan.
Mereka justru melakukan tindakan-tindakan yang sebetulnya termasuk pelecehan seksual. Seperti bersiul dan menggoda. Tidak peduli jurnalis perempuan sedang liputan langsung sekalipun. Jurnalis perempuan mesti tetap berkonsentrasi pada tugasnya sembari mewaspadai kalau-kalau tindakan orang-orang di sekitarnya makin membahayakan.
Menjadi jurnalis perempuan apalagi terjun ke medan penuh konflik dan mengangkat isu sensitif memang gak mudah. Butuh nyali yang sangat besar. Akan tetapi, bila kamu perempuan dan tertarik dengan bidang ini, pendidikan serta pelatihan yang tepat ditambah jam terbang akan membuatmu tangguh di lapangan.


















