Ilustrasi seorang yang sedang berdoa dan tawakal setelah berusaha (pixabay.com/Konevi)
Abis sibuk membayangkan, ada satu hal yang sering kelupaan: siapa sih yang beneran menentukan hasil hidup kita? Kalau kita percaya semuanya kejadian cuma karena pikiran kita yang kuat, lama-lama posisi Tuhan bisa tergeser tanpa sadar.
Di Islam, kita diajarin lengkap kok: punya harapan baik itu boleh, berdoa boleh, usaha wajib, abis itu tawakal. Kita boleh banget punya target ingin kaya, ingin kerja bagus, ingin nikah sama orang yang kita suka. Silakan. Tapi, jangan sampai mikir semuanya pasti kejadian cuma karena kita mikirinnya cukup kuat.
Kita punya batas. Kita gak bisa mengatur ekonomi, gak bisa mengatur keputusan orang lain, bahkan besok bakal kejadian apa pun kita gak tahu. Jadi kalau keinginan belum kejadian, gak usah langsung mikir "aku kurang positif". Bisa jadi emang strateginya perlu dibenerin, waktunya belum tepat, atau bisa jadi yang menurut kita baik, ternyata bukan yang terbaik menurut Allah.
Tawakal itu bukan pasrah tanpa usaha, tapi usaha semaksimal mungkin tanpa harus merasa bisa mengontrol semua hasil. Jadi, masih boleh gak sih mikir positif? Jawabannya jelas boleh banget.
Punya mimpi silakan. Bikin target silakan. Afirmasi biar lebih pede juga gak apa-apa. Yang perlu diwaspadai itu kalau kita mulai percaya pikiran kita punya kekuatan mutlak buat mengatur semua kejadian hidup.
Hidup bukan mesin yang jalanin apa yang kita ketik di kepala. Ada usaha, kejadian gak terduga, ada orang lain, dan buat kita yang beriman, ada kehendak Allah. Gak perlu takut sedih cuma karena takut vibrasi turun. Gak perlu menyalahkan diri sendiri tiap gagal. Jangan sampai sibuk membayangkan hidup impian sampai lupa menjalani prosesnya. Kalau menurut kamu, berpikir positif selama ini lebih banyak membantu atau malah bikin kamu makin terbebani?