Buku Nonfiksi yang Akan Mengubah Cara Berpikirmu Menjadi Lebih Kritis

- Thinking Fast and Slow karya Daniel Kahneman membahas pengambilan keputusan, pemikiran intuitif, serta kerentanan otak terhadap bias kognitif dan kepercayaan berlebihan.
- Matinya Kepakaran karya Tom Nichols menyoroti kecenderungan mempercayai influencer ketimbang pakar, sekaligus pentingnya mencari informasi dari sumber yang tepat.
- Mengapa Negara Gagal? karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson menjelaskan peran institusi politik-ekonomi inklusif atau ekstraktif terhadap kesejahteraan negara.
Membaca buku bisa memberi pandangan dan perspektif baru bagi pembaca. Hadirnya berbagai judul, topik, serta tema bacaan dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas bagi pembaca. Dari buku bacaan yang dinikmati, pembaca juga bisa melihat perspektif berbeda tentang suatu tema. Tentunya, hal ini akan menggugah nalar berpikir agar lebih kritis.
Daya pikir kritis dapat ditumbuhkan melalui kegiatan seperti membaca. Kamu perlu menemukan buku dengan tema tertentu agar daya pikir kritis dapat terus terasah.
1. Thinking Fast and Slow

sampul buku Thinking, Fast and Slow (dok. Macmillan Publisher) Buku Thinking Fast and Slow karya Daniel Kahneman akan mengulik mengenai pertimbangan dan pengambilan keputusan individual atas dasar penemuan di bidang psikologi selama puluhan tahun ke belakang. Dalam buku ini, Daniel menunjukkan bagaimana kemampuan otak manusia menunjukkan kemampuan yang luar biasa, namun juga rentan akan bias dari proses berpikir cepat.
Buku nonfiksi ini akan membahas secara lebih menyeluruh cara berpikir intuitif pada pikiran dan perilaku manusia. Jika mengulik secara mendalam, buku ini akan memberi pemaparan tentang dampak dari hilangnya antusiasme dan terlalu besarnya kepercayaan pada strategi tertentu. Pembaca juga akan memahami sulitnya memprediksi apa yang akan membuat bahagia kelak, serta dampak dalam bias kognitif dalam berbagai bidang.
2. Matinya Kepakaran

Matinya Kepakaran (gramedia.com) Buku Matinya Kepakaran ditulis oleh Tom Nichols untuk menjelaskan pentingnya pakar dalam menavigasi dan memberi arah kehidupan. Akan tetapi, sebagaimana kondisi sosial saat ini, lebih banyak orang percaya dengan influencer yang memiliki banyak followers daripada mendengarkan pandangan pakar. Tom memotret fenomena ini dengan istilah "Matinya Kepakaran", sehingga pendapat yang keliru bisa dianggap sebagai kebenaran.
Dalam buku ini, Tom akan memberi perspektif yang lebih luas agar banyak orang bisa lebih disiplin dalam mencari informasi dari sumber yang tepat. Sebab, informasi yang keliru dapat berdampak pada kehidupan sehari-hari, bahkan menentukan arah negara. Anti intelektualisme semakin marak dan pakar tidak didengar. Bacaan ini akan membuka pandangan baru serta menumbuhkan daya pikir kritis untuk melihat masalah secara lebih luas.
3. Mengapa Negara Gagal?

Mengapa Negara Gagal. (gramedia.com) Di dunia, beberapa negara begitu kaya, namun sebagian lainnya sangatlah miskin. Pertanyaan muncul mengenai bagaimana kesenjangan dapat terjadi di sejumlah negara. Faktor apakah yang membuat kondisi di suatu negara sangat berbeda dengan negara lainnya? Daron Acemoglu dan James A. Robinson mengulik secara mendalam pertanyaan semacam ini untuk memberi pandangan secara lebih luas.
Daron dan James memaparkan bagaimana institusi politik-ekonomi suatu negara yang menjadi penentu kesejahteraan rakyatnya. Negara dengan institusi politik-ekonomi yang bersifat inklusif, berpotensi untuk menjadi negara kaya, sementara negara dengan institusi politik-ekonominya bersifat ekstraktif, cenderung miskin. Inilah pemaparan tentang mengapa negara menjadi gagal.
Buku-buku di atas bisa dibaca untuk memberi perspektif berbeda bagi pembaca. Genre dari masing-masing buku juga berbeda, bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan selera.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















