- Dilakukan untuk bersenang-senang bersama
- Kedua pihak merasa nyaman
- Tidak bertujuan merendahkan
- Bisa berhenti ketika salah satu orang merasa tidak nyaman.
Cara Membedakan Candaan atau Bullying, Kenali Tandanya!

Candaan sehat membuat semua pihak nyaman, tidak merendahkan, dan berhenti saat ada yang keberatan.
Lelucon sudah melewati batas bila satu orang terus dijadikan sasaran, ketidaknyamanannya diabaikan, atau materi pribadi dipakai hingga mempermalukan dan menurunkan rasa percaya diri.
Saat melihat bullying, jangan ikut tertawa atau menyebarkan konten; dukung korban, bantu mengalihkan situasi bila aman, dan laporkan kepada orang dewasa atau pihak tepercaya.
Bercanda dengan teman merupakan hal yang wajar dalam pergaulan. Saling melempar lelucon bisa membuat suasana jadi lebih santai dan menyenangkan, baik saat berkumpul langsung maupun berinteraksi di media sosial. Namun, tidak semua hal yang disebut “cuma bercanda” benar-benar merupakan candaan, karena dalam beberapa situasi, perilaku tersebut bisa mengarah pada bullying.
Lantas, bagaimana cara membedakan candaan dan bullying? Hal ini penting dipahami agar kita bisa lebih peka terhadap batasan dalam bercanda dan tidak menganggap sepele perasaan orang lain. Yuk, kenali perbedaannya dan pahami kapan sebuah candaan sudah melewati batas!
Table of Content
Apa bedanya candaan dan bullying?
Candaan dan bullying kadang memang terlihat mirip, apalagi kalau pelaku merasa dirinya hanya bercanda. Namun, perbedaan candaan dan bullying sebenarnya bisa dilihat dari cara dilakukan, respons orang yang menjadi sasaran, hingga dampaknya.
Candaan biasanya dilakukan untuk mencairkan suasana dan membuat orang yang terlibat sama-sama merasa senang. Beberapa tandanya yaitu:
Berbeda dengan candaan, bullying biasanya membuat orang yang menjadi sasaran merasa tidak nyaman atau bahkan tertekan. Beberapa hal berikut bisa menjadi ciri-ciri bullying yang perlu diperhatikan:
- Ada pihak yang menjadi sasaran secara berulang
- Menimbulkan rasa takut, malu, atau tertekan
- Bisa melibatkan ketimpangan kekuatan
- Tetap dilakukan meski korban sudah menunjukkan ketidaknyamanan.
Tanda "candaan" sudah melewati batas

ilustrasi perbuatan bully yang tercela (unsplash.com/La Fabbrica Dei Sogni) Tidak semua candaan bisa dianggap sepele. Ada kalanya candaan justru sudah melewati batas dan mengarah pada perundungan, terutama ketika membuat seseorang merasa tidak nyaman atau direndahkan. Berikut beberapa tandanya.
1. Hanya satu orang yang terus menjadi bahan lelucon
Dalam candaan yang sehat, semua orang seharusnya bisa ikut bercanda tanpa ada satu orang yang terus dijadikan sasaran. Jadi, kalau lelucon selalu diarahkan kepada orang yang sama, ada baiknya mulai melihat apakah orang tersebut sebenarnya masih merasa nyaman atau tidak.
Misalnya, setiap kali berkumpul, ada satu teman yang terus diejek karena penampilannya dan semua orang menganggapnya lucu. Kalau hal ini dilakukan berulang kali, kondisi tersebut bisa menjadi contoh bullying, bukan sekadar candaan biasa.
2. Korban sudah bilang tidak nyaman, tetapi tetap dilanjutkan
Hal yang paling penting adalah memperhatikan respons orang yang menjadi sasaran. Kalau sudah mengatakan tidak nyaman, meminta berhenti, atau menunjukkan bahwa dirinya terganggu, candaan seharusnya tidak perlu diteruskan.
Ucapan seperti “kan cuma bercanda” juga bukan alasan untuk mengabaikan perasaan orang lain. Lebih baik, berhenti ketika teman sudah merasa tidak nyaman merupakan cara sederhana untuk menghargai batasan mereka.
3. Candaan membuat seseorang dipermalukan
Candaan mulai terasa tidak sehat ketika bahan leluconnya menyangkut hal-hal yang sifatnya pribadi, seperti fisik, keluarga, kondisi pribadi, kemampuan, atau kekurangan seseorang. Apalagi kalau hal tersebut memang membuat orang yang bersangkutan merasa minder.
Situasinya bisa terasa lebih berat jika dilakukan di depan banyak orang atau sengaja disebarkan ke media sosial. Bukannya ikut tertawa, orang yang menjadi sasaran justru bisa merasa dipermalukan dan kehilangan rasa percaya diri.
4. Ada dampak yang membuat korban takut atau tertekan
Candaan yang sudah melewati batas biasanya meninggalkan dampak pada orang yang menjadi sasaran. Misalnya, mereka mulai menghindari lingkungan tertentu, takut bertemu orang tertentu, merasa malu, atau menjadi kurang percaya diri.
Kalau sudah muncul dampak seperti ini, jangan buru-buru menganggapnya sebagai candaan biasa. Perasaan dan pengalaman orang yang menjadi sasaran juga perlu diperhatikan, bukan hanya niat orang yang melontarkan lelucon.
Apa yang bisa dilakukan jika melihat bullying?

ilustrasi menghadapi pelaku bully dengan tenang (pexels.com/RDNE Stock project) Melihat teman menjadi sasaran bullying tentu bisa membuat bingung, apalagi kalau takut ikut terseret. Namun, kamu tetap bisa membantu dengan cara yang aman tanpa harus ikut menghadapi pelaku secara langsung. Beberapa hal yang bisa dilakukan yaitu:
- Jangan ikut tertawa atau menyebarkan konten yang mempermalukan korban
- Tunjukkan dukungan kepada teman yang menjadi sasaran
- Jika situasinya aman, bantu menghentikan atau mengalihkan situasi
- Laporkan kepada guru, orang tua, atau pihak yang dipercaya jika perundungan terus terjadi
- Tekankan konsep upstander: tidak harus menjadi korban untuk berani mengambil sikap
Punya suara tentang isu remaja, saatnya jadi karya di IDN Times Xplore 2026
Perundungan bukan tradisi dan candaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk menyakiti orang lain. Kalau kamu punya pandangan atau keresahan tentang isu bullying di lingkungan remaja, ubah suara tersebut menjadi karya melalui kompetisi mading IDN Times Xplore 2026 dengan tema “Redefining Teenage Power”. Cek ketentuan lengkap dan ajak timmu berkarya di mading IDN Times Xplore 2026!



















