Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Tips Public Speaking ala Bayu Oktara, Bukan Cuma Berani Bicara!

5 Tips Public Speaking ala Bayu Oktara, Bukan Cuma Berani Bicara!
Bayu Oktara, dalam perilisan buku karyanya berjudul Suara yang Menggerakkan Dunia di Gramedia Jalma
Intinya Sih
  • Bayu Oktara menekankan pentingnya memahami audiens dan berkomunikasi dengan empati agar pesan tersampaikan efektif sesuai karakter pendengar.
  • Ia mendorong penggunaan pengalaman hidup pribadi sebagai bahan cerita autentik yang membuat komunikasi terasa nyata dan mudah diterima audiens.
  • Bayu juga menyoroti perlunya mengendalikan rasa gugup, menentukan tujuan komunikasi sejak awal, serta membangun personal branding lewat konsistensi nilai diri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kemampuan berbicara di depan umum menjadi salah satu keterampilan yang semakin penting di era modern. Bukan hanya bagi presenter, pembicara, atau pejabat publik, tetapi juga mahasiswa, profesional, hingga siapa saja yang ingin menyampaikan ide dengan lebih efektif.

Namun, public speaking sebenarnya bukan sekadar berbicara di depan banyak orang. Lebih dari itu, kemampuan ini berkaitan dengan bagaimana sebuah pesan dapat dipahami, diterima, bahkan menggerakkan audiens untuk berpikir atau bertindak. Dalam peluncuran bukunya, Suara yang Menggerakkan Dunia, Bayu Oktara membagikan sejumlah pandangan dan pengalaman yang bisa menjadi pelajaran bagi siapa saja yang ingin meningkatkan kemampuan komunikasi mereka.

1. Kenali audiens sebelum mulai berbicara

ilustrasi public speaking (pexels.com/Mikael Blomkvist)
ilustrasi public speaking (pexels.com/Mikael Blomkvist)

Salah satu kesalahan yang sering terjadi saat berkomunikasi adalah terlalu fokus pada pesan yang ingin disampaikan tanpa memahami siapa yang akan menerima pesan tersebut. Padahal, karakter audiens sangat menentukan apakah sebuah pesan akan efektif atau tidak.

Menurut Bayu, memahami lawan bicara merupakan fondasi utama dalam komunikasi yang baik. Pesan yang relevan akan lebih mudah diterima ketika disesuaikan dengan kebutuhan, latar belakang, dan karakter audiens.

"Lupa pesan yang relevan, harus tahu siapa lawan bicara. Salah satu chapter di buku membahas bagaimana cara mengenali berbagai karakter audiens agar pesan sampai dan efektif," ujar Bayu dalam acara yang berlangsung pada Rabu (10/6/2026) di Gramedia Jalma, tersebut.

Ia juga menekankan, bahwa komunikasi yang efektif harus dibangun dengan empati. Sebab, memahami audiens bukan hanya soal mengetahui siapa mereka, tetapi juga memahami cara mereka berpikir dan merasakan sesuatu.

2. Jadikan pengalaman hidup sebagai bahan cerita

ilustrasi public speaking (pexels.com/ICSA)
ilustrasi public speaking (pexels.com/ICSA)

Banyak orang merasa kesulitan mencari materi atau ide saat berbicara. Padahal, sumber inspirasi yang paling dekat sebenarnya berasal dari pengalaman hidup sendiri.

Bayu percaya bahwa setiap orang memiliki cerita yang unik dan berharga untuk dibagikan. Pengalaman tersebut dapat diolah menjadi pesan yang lebih autentik dan mudah diterima audiens karena terasa nyata.

"Pengalaman hidup setiap orang berbeda, bisa diekstraksi jadi sebuah pesan, itu bisa jadi pembeda," katanya.

Cerita yang lahir dari pengalaman pribadi juga membuat komunikasi terasa lebih manusiawi. Audiens cenderung lebih mudah terhubung dengan kisah yang jujur dibandingkan dengan teori yang disampaikan secara kaku.

3. Jangan melawan rasa gugup, tapi coba kendalikan

ilustrasi public speaking (pexels.com/Rika Nyp)
ilustrasi public speaking (pexels.com/Rika Nyp)

Rasa gugup sering dianggap sebagai musuh terbesar dalam public speaking. Padahal, menurut Bayu, grogi adalah respons alami yang dimiliki hampir semua orang ketika harus tampil di depan publik.

Alih-alih berusaha menghilangkannya, ia menyarankan untuk belajar mengelola rasa gugup tersebut. Dengan persiapan yang baik dan teknik sederhana seperti peregangan atau pengaturan napas, seseorang dapat tetap tampil maksimal meski merasa tegang.

"Kita punya self defense untuk merasakan grogi, jangan dilawan, tapi dikendalikan baik dari dalam atau stretching," jelasnya.

Ketika rasa gugup berhasil dikendalikan, energi tersebut justru bisa menjadi dorongan positif yang membuat penyampaian pesan terasa lebih hidup dan bersemangat.

4. Tentukan tujuan komunikasi sejak awal

Bayu Oktara, dalam perilisan buku karyanya berjudul Suara yang Menggerakkan Dunia di Gramedia Jalma
Bayu Oktara, dalam perilisan buku karyanya berjudul Suara yang Menggerakkan Dunia di Gramedia Jalma. 10 Juni 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Sebelum mulai berbicara, penting untuk mengetahui apa tujuan utama dari komunikasi yang dilakukan. Tanpa arah yang jelas, pembicaraan berisiko melebar dan kehilangan fokus.

Bayu menjelaskan, bahwa setiap komunikasi memiliki tujuan yang berbeda. Ada yang bertujuan menghibur, memberikan informasi, memengaruhi, atau mengajak audiens melakukan sesuatu.

"Saat kita bicara, harus tahu tujuan komunikasi. Menghibur, memberikan informasi, memengaruhi, atau mengajak, harus disiapkan goal-nya," ungkapnya.

Tujuan yang jelas juga membantu pembicara mengurangi penggunaan filler words, seperti "eee", "oke", atau "baik" yang sering muncul ketika seseorang kehilangan alur berpikir saat berbicara.

5. Bangun personal branding lewat konsistensi, bukan pencitraan

ilustrasi public speaking (pexels.com/RDNE Stock project)
ilustrasi public speaking (pexels.com/RDNE Stock project)

Kemampuan berbicara yang baik tidak bisa dipisahkan dari personal branding. Namun, Bayu mengingatkan bahwa personal branding berbeda dengan pencitraan yang hanya berfokus pada penampilan luar.

Menurutnya, personal branding dimulai dengan mengenali nilai yang dimiliki diri sendiri. Setelah itu, nilai tersebut disampaikan dan diperlihatkan secara konsisten melalui tindakan maupun komunikasi sehari-hari.

"Personal branding dan pencitraan dua hal berbeda. Personal branding adalah mengenali nilai yang dimiliki, lalu mengajak orang sekitar bisa mengikuti dan memiliki nilai yang sama. Bisa terwujud dengan dilakukan secara konsisten," jelas Bayu.

Ketika seseorang memiliki nilai yang jelas dan konsisten dalam menyampaikannya, audiens akan lebih mudah membangun kepercayaan. Dari situlah pengaruh dan kredibilitas perlahan terbentuk.

Public speaking bukan hanya soal berbicara dengan lancar di depan banyak orang. Kemampuan ini juga berkaitan dengan memahami audiens, menyampaikan pesan yang bermakna, dan membangun hubungan yang lebih kuat melalui komunikasi yang empatik.

Seperti yang diyakini Bayu Oktara, komunikasi yang tepat dapat membuka banyak peluang. Sebab, ketika sebuah pesan berhasil menyentuh hati dan dipahami dengan baik, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada sekadar kata-kata yang diucapkan.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More