Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Cara Berdamai dengan Strict Parents Saat Kamu Sudah Dewasa

4 Cara Berdamai dengan Strict Parents Saat Kamu Sudah Dewasa
ilustrasi cara berdamai dengan strict parents saat kamu sudah dewasa (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Mulailah dengan memvalidasi luka, marah, dan kecewa masa lalu; menulis jurnal serta memaafkan diri sendiri dapat membantu melegakan beban emosional.
  • Bangun komunikasi sebagai sesama orang dewasa: responsi pertanyaan orangtua dengan tenang dan argumen logis agar kematangan emosional terlihat konsisten.
  • Tetapkan batasan secara lembut tetapi tegas, sambil memahami latar belakang serta trauma antargenerasi orangtua untuk menumbuhkan empati dan mempermudah rekonsiliasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah gak sih kamu merasa capek banget karena harus bohong cuma buat nongkrong atau ngerasa bersalah tiap kali punya pilihan hidup yang beda dari ekspektasi orangtua? Tumbuh dewasa dengan pengawasan super ketat memang sering kali meninggalkan luka batin yang bikin hubungan keluarga terasa canggung saat kita sudah mandiri. Memasuki usia dua puluhan, kamu mungkin mulai mencari tahu cara berdamai dengan strict parents saat sudah dewasa agar hidup terasa lebih damai. Masa-masa transisi ini memang berat, tapi bukan berarti kamu gak bisa memperbaiki keadaan, kok.

Kalau dibiarkan berlarut-larut, perasaan memendam amarah ini justru bisa bikin kamu gampang burnout dan sulit membangun batasan sehat dengan orang lain. Kamu bakal terus-terusan merasa seperti anak kecil yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa, selalu takut salah langkah. Gak mau terus-terusan membawa beban masa lalu ke masa depanmu yang cerah, kan? Oleh karena itu, membangun jembatan komunikasi baru jadi investasi terbaik buat ketenangan mentalmu.


  1. 1. Mulai dengan validasi perasaanmu sendiri

    ilustrasi validasi perasaanmu demi menjaga kesehatan mental
    ilustrasi validasi perasaanmu demi menjaga kesehatan mental (pexels.com/Engin Akyurt)

    Sebelum mencoba berdamai dengan orangtua, langkah paling pertama adalah mengakui dan menerima semua luka yang pernah kamu rasakan. Gak perlu merasa berdosa karena pernah marah atau kecewa terhadap aturan mereka yang dulu terasa sangat mengekang. Mengalami represi emosi sejak kecil memang wajar membuatmu jadi lebih menjaga mekanisme pertahanan diri yang cenderung defensif saat ini. 

    Di dunia psikologi istilah tersebut dinamakan inner child healing, di mana kamu memeluk sisi kekanakanmu yang dulu sering menangis karena gak dibolehin main jauh sama teman-teman. Contoh gampangnya, coba kamu tulis jurnal tentang hal-hal yang dulu bikin kesal, lalu tutup dengan kalimat memaafkan dirimu sendiri. Awalnya pasti agak cringe dan bikin merinding, tapi percayalah efeknya lumayan melegakan beban di dada. 


  2. 2. Posisikan dirimu sebagai sesama orang dewasa

    ilustrasi mendengarkan ayah bicara
    ilustrasi mendengarkan ayah bicara (pexels.com/Julia M Cameron)

    Saat mengobrol santai di ruang keluarga, cobalah ubah mindset kamu dari "anak yang lagi diinterogasi" menjadi "sesama orang dewasa yang sedang bertukar pikiran". Orangtua yang strict biasanya masih terjebak dalam ilusi bahwa kamu adalah balita lucu yang butuh arahan setiap saat. Kalau kamu merespons pertanyaan mereka dengan nada merengek atau marah-marah, mereka justru makin yakin kalau kamu belum matang. Jadi, tunjukkan kematangan emosional lewat nada bicara yang tenang agar mereka mulai segan.

    Kalau mereka mulai mencecar soal kapan nikah atau kenapa pekerjaanmu menghabiskan banyak waktumu, jawablah dengan argumen logis alih-alih meledak emosi. Contohnya, kamu bisa bilang, "Iya nih, aku lagi mengejar target karir biar tabungan aman untuk masa depan". Jangan kasih mereka celah buat memposisikanmu kayak anak SMP yang ketahuan bolos les tambahan. Sekali mereka melihat kedewasaanmu secara konsisten, pelan tapi pasti radar protektif mereka bakal otomatis menurun, kok.


  3. 3. Tetapkan batasan atau boundaries dengan elegan

    ilustrasi batasan sehat antara orangtua dan anak yang sudah dewasa
    ilustrasi batasan sehat antara orangtua dan anak yang sudah dewasa (pexels.com/cottonbro studio)

    Bikin batasan atau boundaries bukan berarti kamu bikin ribut atau memutus tali silaturahmi dengan keluarga yang membesarkanmu. Ini justru cara paling sehat untuk menjaga kewarasanmu dan memberitahu orangtua sejauh mana mereka boleh ikut campur. Proses ini memang butuh nyali ekstra besar, apalagi buat anak yang terbiasa mengiyakan semua titah orangtua di rumah. Namun, percayalah, komunikasi asertif ini penting banget supaya ke depannya gak ada lagi miskomunikasi yang bikin makan hati.

    Praktiknya bisa dimulai dari hal-hal kecil, contohnya saat orangtua minta password handphone atau terus-terusan menanyakan jumlah gaji. Kamu bisa menjawab dengan lembut tapi tegas, "Maaf ya Ma, kalau soal keuangan aku prefer ngatur sendiri, tapi tenang aja aku gak bakal pinjol kok!" Terdengar agak berani memang, tapi ini jauh lebih baik daripada kamu diam-diam overthinking tiap malam di kamar, lho.


  4. 4. Coba pahami generasi dan latar belakang mereka

    ilustrasi mencoba pahami generasi orangtua
    ilustrasi mencoba pahami generasi orangtua (pexels.com/RDNE Stock project)

    Kamu mungkin lupa kalau orangtuamu juga pernah muda dan mungkin tumbuh di lingkungan yang jauh lebih keras dari sekarang. Trauma antargenerasi, atau yang sering disebut intergenerational trauma, sering kali menjadi dalang di balik gaya asuh mereka yang terlalu mengekang. Orangtua mungkin bersikap sangat ketat karena itu satu-satunya cara yang mereka tahu untuk melindungi orang yang paling disayang. 

    Dengan memahami latar belakang masa lalu mereka bisa membantumu menumbuhkan sedikit empati saat sedang tersulut emosi. Coba sesekali ajak mereka nostalgia dan tanya, "Dulu waktu Bapak seumuranku, kakek galak gak sih aturannya?" Biasanya mereka bakal cerita panjang lebar dan tanpa sadar membongkar luka lama mereka sendiri saat masih muda. 

    Dari situ, kamu bakal sadar kalau strict parents itu bukan monster jahat, melainkan manusia biasa yang juga bawa luka pengasuhan dari zaman baheula. Dengan memahami akar masalahnya, kamu jadi lebih mudah memaafkan dan gak terlalu masukin ke hati.

    Proses healing dari luka masa kecil memang panjang, tapi mempraktikkan cara rekonsiliasi dengan strict parents jadi kado terindah yang bisa kamu berikan untuk ketenangan dirimu di masa depan. Gak perlu buru-buru, pelan-pelan saja jahit kembali hubungan yang sempat renggang itu sesuai porsinya masing-masing. Semangat, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More