Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Kita Sering Lupa Alasan Masuk ke Sebuah Ruangan?

Kenapa Kita Sering Lupa Alasan Masuk ke Sebuah Ruangan?
ilustrasi lupa balas chat (pexels.com/Alex Green)
  • Fenomena doorway effect muncul saat perpindahan ruangan mengubah konteks; otak memakai pintu sebagai batas peristiwa sehingga tujuan dari ruangan sebelumnya lebih sulit diakses.
  • Lupa tujuan tidak selalu dipicu pintu: multitasking dan banyak pikiran baru dapat menyingkirkan informasi awal yang dianggap kurang relevan oleh otak.
  • Kembali ke ruangan sebelumnya dapat memunculkan ingatan lagi karena lingkungan lama memberi petunjuk visual dan situasional saat tujuan tersebut pertama kali muncul.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah berjalan ke dapur dengan tujuan yang sangat jelas, tetapi begitu sampai malah bengong dan bertanya dalam hati, “Aku tadi kesini mau ngapain, ya?” Kejadian ini biasanya cuma berlangsung beberapa detik, tetapi rasanya cukup bikin kesal karena beberapa saat sebelumnya kita masih tahu persis apa yang ingin dilakukan.

Kita bahkan bisa saja kembali ke ruangan sebelumnya dan mendadak ingat lagi apa yang hendak diambil atau dikerjakan. Fenomena sehari-hari ini ternyata sudah lama menarik perhatian para peneliti karena berkaitan dengan cara otak menyimpan dan mengambil kembali informasi. 

Salah satu istilah yang sering digunakan untuk menjelaskannya adalah doorway effect. Fenomena tersebut terjadi ketika perpindahan dari satu lingkungan ke lingkungan lain membuat informasi yang sebelumnya ada di pikiran menjadi lebih sulit diingat.

Jadi, sebenarnya apa yang terjadi ketika kita melewati pintu dan tiba-tiba kehilangan “tujuan” yang tadi terasa begitu jelas? Apakah pintunya benar-benar membuat kita lupa atau ada hal lain yang ikut bermain? Ternyata, jawabannya cukup menarik dan sangat dekat dengan cara otak mengatur keseharian kita.

  1. 1. Otak menganggap pintu sebagai batas antara dua kejadian

    Ilustrasi seseorang memasuki ruangan melalui pintu dengan cahaya dari luar sebagai gambaran aktivitas masuk ke dalam ruang.
    ilustrasi masuk ruangan (unsplash.com/Ihor Malytskyi)

    Ketika berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain, otak sebenarnya sedang menerima perubahan konteks. Misalnya, kamu awalnya duduk di ruang tamu sambil menonton TV, lalu teringat ingin mengambil camilan di dapur. Perpindahan dari ruang tamu ke dapur membuat otak berhadapan dengan lingkungan yang berbeda. 

    Dr. Jessica McFadyen dari UCL dan Dr. Oliver Baumann dari Bond University menjelaskan bahwa pintu menjadi batas antara satu konteks dan konteks lainnya. Mereka menulis, “Kita menggunakan batas untuk membagi pengalaman menjadi beberapa kejadian yang terpisah, sehingga kita dapat mengingatnya dengan lebih mudah,” dikutip dari UCL.

    Dalam psikologi kognitif, batas seperti ini dikenal sebagai event boundary atau batas peristiwa. Tujuan yang kamu bawa dari ruangan sebelumnya bisa ikut dianggap sebagai bagian dari peristiwa yang baru saja selesai. Itu sebabnya tujuan untuk mengambil charger, air minum, atau pakaian bisa mendadak sulit diingat kembali. Jadi bukan berarti otak benar-benar menghapus ingatan tersebut, namun informasinya hanya menjadi kurang mudah diakses ketika konteksnya sudah berubah.

  2. 2. Makin banyak pikiran, makin gampang lupa

    ilustrasi lupa
    ilustrasi lupa (freepik.com/benzoix)

    Namun, berpindah ruangan saja ternyata belum tentu membuat kita lupa. Kalau akhir-akhir ini kamu sering lupa tujuan masuk ruangan, bisa jadi masalahnya bukan pada pintunya saja, tetapi karena kamu sambil mikirin banyak hal. Ketika kamu berjalan ke dapur sambil memikirkan chat yang belum dibalas, baru beberapa langkah kamu melihat ponsel, teringat pekerjaan, lalu perhatian berpindah lagi ke hal lain. Akhirnya, tujuan awal mengambil air tadi terselip di antara berbagai pikiran baru. 

    Menurut Dr. Jessica McFadyen dari UCL dan Dr. Oliver Baumann dari Bond University, “Jadi, ketika kejadian baru dimulai, otak kita pada dasarnya menyingkirkan informasi dari kejadian sebelumnya karena informasi tersebut mungkin sudah tidak relevan lagi,” dilansir UCL

    Hal ini menjelaskan kenapa lupa tujuan sering terjadi ketika kita sedang multitasking. Jadi kalau kamu sedang benar-benar ingin mengingat sesuatu, fokus pada satu tujuan awal bisa membantu. Cukup tanamkan lagi dalam kepala, “Aku ke dapur buat ambil air” sebelum berjalan. Kedengarannya sepele, tetapi justru cara sederhana seperti itu bisa membuat tujuan awal tetap bertahan di pikiran. 

  3. 3. Balik ke ruangan sebelumnya kadang bikin ingatan muncul lagi

    ilustrasi teringat sesuatu
    ilustrasi teringat sesuatu (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Hal paling ajaib dari kejadian ini adalah kita sering tiba-tiba ingat setelah kembali ke tempat semula. Tadinya sudah berdiri di dapur dengan wajah kosong, lalu begitu kembali ke kamar, mendadak teringat bahwa sebenarnya kita ingin mengambil charger

    Kembali ke tempat sebelumnya bisa menjadi cara yang masuk akal untuk membantu mengingat. Misalnya, kalau kamu lupa kenapa tadi berdiri dari meja, coba kembali ke posisi semula dan ingat apa yang sedang kamu lakukan beberapa detik sebelumnya. Lingkungan yang sama bisa memberikan petunjuk visual atau situasional yang sebelumnya ada ketika tujuan tersebut muncul.

    Kalau ada saat di mana kamu berdiri di tengah dapur sambil bengong karena lupa mau mengambil apa, gak perlu langsung curiga memorimu bermasalah. Bisa jadi kamu baru saja melewati event boundary sambil membawa terlalu banyak pikiran. Coba ingat kembali apa yang sedang kamu lakukan sebelum berpindah ruangan, lalu fokuskan perhatian pada satu tujuan saja.

    Otak manusia memang punya cara sendiri untuk mengatur informasi dan kadang-kadang sistem tersebut bikin kita terlihat seperti sedang loading. Kalau sudah begini, mungkin bukan memorimu yang buruk, tetapi otakmu cuma sedang terlalu rajin memproses peristiwa baru.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More