Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Trik Ampuh Mengatasi Silent Treatment dari Orangtua Lansia

4 min read
4 Trik Ampuh Mengatasi Silent Treatment dari Orangtua Lansia
ilustrasi orangtua lansia melakukan silent treatment pada anaknya (pexels.com/cottonbro studio)
  • Sikap diam pada orang tua lansia dapat mengganggu komunikasi dan kesehatan mental; perubahan perilaku perlu diperhatikan, terutama bila terkait rasa bingung, kehilangan kendali, atau penurunan kognitif.
  • Cari pemicu sebelum mereka mendiamkan, lalu beri waktu menenangkan diri tanpa menjauh. Tetap tunjukkan perhatian melalui tindakan kecil agar mereka tidak merasa diabaikan.
  • Validasi perasaan tanpa berdebat untuk membuat lansia merasa didengar. Jika percakapan buntu, ajak bernostalgia lewat foto, musik, atau kenangan positif untuk membuka komunikasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Merawat orang tua yang sudah sepuh emang mempunyai tantangan tersendiri, apalagi kalau mereka tiba-tiba mogok bicara. Kamu mungkin pernah merasa bingung saat ayah atau ibu mendadak diam seribu bahasa meski kamu sudah berusaha ngajak ngobrol. Situasi canggung ini sering banget bikin frustrasi, makanya kamu butuh cara cerdas untuk mengatasi silent treatment lansia di rumah.

Jika dibiarkan berlarut-larut, sikap diam ini gak cuma merusak komunikasi, tapi juga bikin mental kamu dan mereka makin down. Apalagi bulan September ini diperingati sebagai Bulan Kesadaran Demensia dan Alzheimer Sedunia, momen pas buat kamu lebih peka terhadap perubahan perilaku orang tua. Bisa jadi, aksi tutup mulut mereka bukan sekadar ngambek biasa, melainkan tanda ada rasa bingung atau insecure yang gak bisa mereka ungkapkan secara lugas, lho.


  1. 1. Cari tahu pemicu utamanya dulu

    ilustrasi tarik napas dalam-dalam
    ilustrasi tarik napas dalam-dalam (unsplash.com/Motoki Tonn)

    Langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah menjadi detektif dadakan di rumah. Coba perhatikan lagi apa yang terjadi sebelum mereka mulai mendiamkanmu. Apakah ada ucapanmu yang menyinggung perasaan mereka secara gak sengaja? Atau mungkin mereka merasa kehilangan kendali atas aktivitas sehari-hari karena kondisi fisiknya yang makin menurun?

    Orang tua yang menua kerap mengalami fase di mana mereka merasa frustrasi karena gak bisa mandiri seperti dulu. Contohnya, mereka mungkin kesal saat dilarang makan makanan bersantan favoritnya, lalu memilih diam sebagai bentuk protes. Daripada ikut-ikutan baper, mending kamu tarik napas panjang dan coba pahami sudut pandang mereka. Anggap saja mereka sedang ada di fase puber kedua, jadi kamu harus ekstra sabar menghadapi emosinya tanpa perlu marah balik, ya.


  2. 2. Beri ruang, tapi jangan dijauhi

    ilustrasi memberikan ruang dan hal yang disukai ornagtua lansia agar lebih tenang
    ilustrasi memberikan ruang dan hal yang disukai ornagtua lansia agar lebih tenang (pexels.com/SHVETS production)

    Terkadang, memaksa lansia untuk langsung bicara saat itu juga malah bikin situasi makin keruh. Sama seperti kamu yang butuh me time saat lagi pusing, mereka juga butuh waktu buat meredakan emosinya, lho. Kamu boleh memberi mereka ruang sejenak agar suasana hati mereka bisa sedikit lebih tenang. Namun, pastikan kamu tetap memantau kondisinya dari jauh agar mereka gak merasa benar-benar diabaikan, ya.

    Memberi ruang itu beda dengan balik mendiamkan mereka alias perang dingin. Misalnya, kamu bisa tetap bawakan teh hangat ke kamarnya, taruh di meja, lalu bilang, "Tehnya diminum ya, kalau mau cerita aku ada di luar." Sentuhan kecil tanpa paksaan ini secara psikologis menunjukkan kalau kamu tetap care walau mereka lagi kumat juteknya.


  3. 3. Gunakan teknik komunikasi validasi

    ilustrasi anak lakukan teknik komunikasi validasi pada orangtua lansia
    ilustrasi anak lakukan teknik komunikasi validasi pada orangtua lansia (pexels.com/SHVETS production)

    Dalam dunia psikologi, ada istilah terapi validasi yang sangat efektif diterapkan untuk lansia, terutama mereka yang mulai mengalami penurunan fungsi kognitif. Konsepnya sederhana banget, yakni kamu mengakui dan menerima perasaan mereka tanpa repot-repot mendebatnya. Saat orang tua merasa emosinya divalidasi, benteng pertahanan mereka biasanya akan perlahan runtuh. Pendekatan ini bikin mereka merasa benar-benar didengar dan dimengerti oleh anaknya sendiri.

    Daripada kamu bilang, "Ah, ibu gitu aja ngambek," mending ubah kalimatnya jadi lebih suportif. Coba ucapkan sesuatu seperti, "Ibu kelihatannya lagi kesal, wajar kalau ibu merasa begitu." Percaya, deh, kalimat ajaib ini ampuh meredakan tensi layaknya air menyiram api unggun. Intinya, tahan ego kamu untuk selalu merasa benar, karena berdebat sama orang tua bukan siapa yang salah. Jadi, tekan egomu, ya.


  4. 4. Ajak bernostalgia lewat memori positif

    ilustrasi mendengarkan apa yang dikatakan orangtua lansia dengan sepenuh hati
    ilustrasi mendengarkan apa yang dikatakan orangtua lansia dengan sepenuh hati (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Kalau obrolan masa kini selalu berujung buntu, cobalah untuk mengenang masa lalu. Lansia biasanya memiliki ingatan jangka panjang yang lebih kuat dan emosional dibandingkan ingatan jangka pendek mereka. Membicarakan kenangan manis di masa lampau bisa memicu produksi hormon bahagia di otak mereka. Metode ini juga sering dipakai sebagai terapi kognitif ringan untuk merawat kesehatan mental lansia di rumah sehari-hari.

    Kamu bisa mulai dengan mengeluarkan album foto lawas atau memutar lagu-lagu jadul favorit mereka di ruang keluarga. Pancing obrolan dengan bertanya santai, "Bu, dulu waktu muda resep rawon andalan mama ini gimana bikinnya, ya?" Saat mereka mulai antusias bercerita, otomatis sikap mendiamkan kamu tadi bakal terlupakan begitu saja, lho.

    Proses mengatasi silent treatment lansia memang butuh stok sabar yang berlapis-lapis, tapi semua itu sepadan demi kedamaian rumah, kok. Ingatlah bahwa di balik diamnya mereka, ada sosok tangguh yang dulu mengajarimu bicara dengan penuh cinta. Tetap semangat merawat mereka, ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More