Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Bijak Larang Remaja Pacaran Tanpa Bikin Hubungan Renggang

ilustrasi menasehati dengan tenang
ilustrasi menasehati dengan tenang (freepik.com/freepik)
Intinya sih...
  • Orangtua harus menjelaskan alasan larangan pacaran dengan bahasa tenang dan logis, serta menggunakan contoh yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
  • Orangtua perlu mendengarkan pendapat dan perasaan remaja terkait larangan pacaran, memberi ruang untuk ekspresi emosi mereka agar merasa dipahami.
  • Fokus pada nilai-nilai yang ingin ditanamkan daripada sekadar larangan, bangun kepercayaan dan kesepakatan bersama, serta berikan contoh sikap dewasa dalam hubungan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Melarang anak pacaran di usia remaja bisa jadi sumber konflik antara orangtua dan anak. Orangtua hanya ingin melindungi anak dari risiko emosional, akademik, maupun sosial. Tapi di sisi lain remaja sedang berada di fase ingin diakui, dipercaya, dan merasa dimengerti. Kalau larangan disampaikan dengan cara keras dan tanpa dialog sebelumnya, remaja justru memberontak atau memilih menyembunyikan hubungan.

Padahal, tujuan utama orangtua bukan hanya melarang, tapi menjaga anak tetap aman dan fokus pada masa depan. Sikap bijak sangat dibutuhkan supaya larangan ini gak merusak hubungan orangtua dan anak. Pendekatan yang tepat membuat remaja lebih terbuka dan mau mendengarkan alasan orangtua. Dengan komunikasi yang sehat, larangan pacaran bisa dipahami sebagai bentuk perhatian. Nah, biar larangan ini gak berujung drama, ada beberapa cara yang bisa dicoba.

1. Jelaskan alasan larangan dengan bahasa tenang

ilustrasi ibu menasehati anak remaja
ilustrasi ibu menasehati anak remaja (freepik.com/stockking)

Orangtua harus menjelaskan alasan larangan pacaran tanpa nada menghakimi. Remaja lebih menerima penjelasan logis dibandingkan perintah sepihak. Jelaskan kalau larangan ini bukan karena gak percaya, tapi karena kamu ingin menjaga emosional dan masa depan mereka. Gunakan contoh yang relate dengan kehidupan sehari-hari biar lebih mudah dipahami.

Hindari cerira yang menakut-nakuti atau terlalu ekstrem yang membuat anak tersinggung. Saat orangtua berbicara dengan tenang, mereka akan merasa dihargai sebagai individu yang bisa berpikir. Penjelasan yang jujur membantu remaja melihat sudut pandang orangtua. Dari sini, larangan gak terkesan seperti tekanan, tapi sebagai bentuk kepedulian.

2. Dengarkan pendapat dan perasaan remaja

ilustrasi mendengarkan perasaan anak
ilustrasi mendengarkan perasaan anak (freepik.com/freepik)

Menyikapi larangan pacaran gak hanya berbicara satu arah, tapi orangtua harus bisa mendengarkan. Beri ruang remaja untuk mengungkapkan perasaannya, kebingungan, atau kekecewaannya. Jangan langsung memotong atau menyangkal perasaan mereka. Validasi emosi anak dengan mengatakan kalau rasa ketertarikan lawan jenis adalah hal wajar.

Sikap ini membuat remaja merasa lebih dipahami, bukan dihakimi. Saat mereka didengar, remaja biasanya lebih terbuka dan bisa bersikap jujur. Orangtua juga bisa memahami apa yang sedang dirasakan anak. Dari dialog dua arah ini, keputusan yang diambil lebih adil bagi kedua pihak.

3. Fokus pada nilai bukan sekadar larangan

ilustrasi menjelaskan tentang nilai
ilustrasi menjelaskan tentang nilai (freepik.com/freepik)

Daripada terus menekankan kata “gak boleh pacaran,” coba alihkan fokus pada nilai yang ingin ditanamkan. Misalnya ajarkan soal tanggung jawab, batasan diri, dan cara menghargai lawan jenis. Jelaskan kalau hubungan sehat butuh kedewasaan emosional yang terus berkembang. Dengan memahami nilai di balik larangan ini, anak gak hanya patuh karena takut, tetapi karena mengerti.

Pendekatan ini membantu remaja belajar membuat keputusan yang bijak. Nilai yang kuat menjadi pegangan saat orangtua gak ada di samping mereka. Larangan bisa berubah menjadi proses pembelajaran, bukan sekadar aturan yang kaku. Cara ini membuat remaja lebih siap menghadapi hubungan romantis di masa depan.

4. Bangun kepercayaan dan kesepakatan bersama

ilustrasi membuat kesepakatan
ilustrasi membuat kesepakatan (freepik.com/pressmaster)

Kepercayaan menjadi kunci yang penting dalam menyikapi isu pacaran pada remaja. Orangtua bisa mengajak anak membuat kesepakatan bareng, jadi gak hanya menetapkan aturan sepihak. Misalnya, fokus pada pertemanan sehat dan pasang batasan interaksi yang wajar. Dengan adanya kesepakatan, remaja merasa tetap terlibat dalam keputusan yang menyangkut dirinya.

Hal ini mengurangi keinginan berbohong atau menyembunyikan sesuatu. Orangtua lebih mudah memantau tanpa kesan yang terlalu mengontrol secara berlebihan. Kepercayaan yang dibangun sejak dini bisa memperkuat hubungan jangka panjang. Remaja belajar kalau kebebasan pasti datang bersama tanggung jawab.

5. Beri contoh sikap dewasa dalam hubungan

ilustrasi memberi contoh yang baik
ilustrasi memberi contoh yang baik (freepik.com/faststocklv)

Remaja banyak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang mereka dengar. Orangtua bisa memberikan contoh bagaimana hubungan sehat dan saling menghargai dijalani. Tunjukkan cara komunikasi yang baik, menyelesaikan konflik tanpa emosi, dan saling menghormati pasangan. Contoh nyata ini lebih efektif dibandingkan memberikan nasihat panjang lebar.

Saat mereka melihat teladan positif di rumah, remaja pasti memiliki gambaran hubungan yang ideal. Ini membantu mereka memahami alasan di balik larangan pacaran di usia dini. Jadi, orangtua gak hanya melarang, tapi juga memberikan bekal. Dengan begitu, remaja lebih siap saat mereka siap menjalani hubungan romantis.

Larangan pacaran pada remaja bukan hal mudah bagi orangtua maupun anak. Tapi, cara menyikapinya sangat menentukan dampak pada hubungan keluarga. Dengan pendekatan yang bijak, terbuka, dan penuh empati, orangtua bisa mencegah konflik. Orangtua tetap menjaga nilai dan batasan tanpa kehilangan kepercayaan anak.

Remaja tetap merasa dihargai dan lebih memahami niat baik di balik larangan orangtua. Komunikasi yang sehat adalah kunci utama saat menghadapi isu sensitif ini. Dengan saling mendengarkan dan memahami, larangan gak lagi terkesan mengekang. Justru, menjadi momen penting untuk memperkuat ikatan orangtua dan remaja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Kebiasaan Baik Jelang Ramadan 2026, Ibadah makin Maksimal

14 Feb 2026, 19:28 WIBLife