Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Tanda Anak Butuh Lebih Banyak Waktu Bersama Orangtua, Kenali!
ilustrasi orang tua dan anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)
  • Anak mungkin membutuhkan lebih banyak kedekatan orangtua ketika sering mencari perhatian, mudah marah atau rewel, serta terus meminta ditemani dalam kegiatan sederhana.
  • Tanda lain dapat terlihat saat anak makin jarang bercerita tentang kesehariannya atau lebih memilih gawai, yang perlu diamati bersama perubahan rutinitas dan kebutuhan emosionalnya.
  • Orangtua dianjurkan menyediakan waktu berkualitas secara konsisten melalui obrolan, makan, atau bermain bersama; bila perubahan menetap dan mengganggu, diskusikan dengan guru atau tenaga profesional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah gak kamu merasa sudah memenuhi berbagai kebutuhan anak, mulai dari makanan, pakaian, perlengkapan sekolah, sampai mainan yang dia inginkan, tetapi dia masih saja minta ditemani? Baru selesai bekerja dan duduk sebentar, anak sudah mengajak bermain atau bercerita tentang hal-hal yang mungkin terdengar sepele bagimu. Di tengah kesibukan mengurus rumah dan pekerjaan, permintaan seperti ini terkadang terasa melelahkan, padahal bisa jadi anak sedang berusaha mendapatkan sesuatu yang gak bisa digantikan oleh barang apa pun, yaitu perhatianmu.

Anak memang membutuhkan waktu untuk bermain sendiri dan berinteraksi dengan teman-temannya. Namun, dia juga memerlukan kehadiran orangtua untuk merasa aman, didengarkan, dan dicintai. Ketika waktu bersama keluarga terasa semakin sedikit, sebagian anak mungkin belum mampu mengungkapkan kebutuhannya secara langsung. Mereka justru menunjukkannya melalui perubahan perilaku yang perlu kamu perhatikan, seperti lima tanda berikut.

1. Anak jadi lebih sering mencari perhatian

ilustrasi orang tua dan anak-anak (pexels.com/Vlada Karpovich)

Pernah gak kamu sedang sibuk membalas pesan atau menyelesaikan pekerjaan, lalu anak tiba-tiba datang berkali-kali hanya untuk menunjukkan gambar buatannya? Bahkan, ketika kamu sudah menjawab, dia mungkin kembali memanggil atau mengajukan pertanyaan lain yang sebenarnya bisa menunggu. Situasi seperti ini terkadang membuat orangtua kehilangan kesabaran, terutama jika terjadi ketika pekerjaan sedang menumpuk.

Namun, perilaku mencari perhatian gak selalu berarti anak sengaja mengganggu. Bisa jadi dia sedang merindukan interaksi yang lebih dekat dan ingin memastikan bahwa kamu benar-benar memperhatikannya. Cobalah menyediakan waktu khusus untuk bermain atau mengobrol tanpa terdistraksi ponsel dan pekerjaan rumah. Ketika anak mendapatkan perhatian yang cukup secara konsisten, dia bisa merasa lebih terhubung denganmu tanpa harus terus-menerus mencari cara untuk menarik perhatian.

2. Anak menjadi lebih mudah marah atau rewel

ilustrasi orang tua dan anak (pexels.com/William Fortunato)

Anak yang biasanya ceria tiba-tiba lebih mudah menangis, marah karena hal kecil, atau menunjukkan kekecewaan ketika keinginannya gak terpenuhi. Kamu mungkin mengira dia sedang manja atau sulit diatur, apalagi jika perubahan tersebut muncul ketika rutinitas keluarga sedang padat. Padahal, perilaku emosional seperti ini bisa memiliki berbagai penyebab, termasuk kelelahan, perubahan lingkungan, kesulitan di sekolah, atau kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.

Alih-alih langsung memarahinya, coba perhatikan kapan perilaku tersebut muncul dan apa yang terjadi sebelumnya. Kamu bisa mengajak anak duduk bersama sambil berkata, 'Sepertinya hari ini kamu sedang gak nyaman, ya. Mau cerita sama Ibu atau Ayah?' Berikan ruang baginya untuk mengungkapkan perasaan tanpa takut disalahkan. Jika anak memang membutuhkan lebih banyak kedekatan, momen sederhana seperti membaca buku bersama atau berbincang sebelum tidur bisa membantu memperkuat hubungan emosional kalian.

3. Anak terus meminta ditemani, bahkan untuk kegiatan sederhana

ilustrasi orang tua dan anak (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Sebagian anak yang sebelumnya cukup mandiri bisa mulai meminta orangtua menemaninya melakukan berbagai hal. Dia ingin kamu duduk di sampingnya saat makan, menemaninya bermain, atau tetap berada di dekatnya ketika mengerjakan tugas sekolah. Ketika kamu harus pergi sebentar, dia mungkin langsung mengeluh atau menunjukkan kecemasan karena gak ingin ditinggalkan sendirian.

Perubahan ini gak otomatis menandakan bahwa anak kekurangan perhatian, sebab kebutuhan untuk ditemani juga dipengaruhi usia, temperamen, dan kondisi yang sedang dihadapinya. Meski begitu, kamu bisa mencoba memahami apakah akhir-akhir ini waktu kebersamaan kalian memang berkurang atau ada perubahan yang membuat anak merasa kurang aman. Sediakan waktu untuk melakukan kegiatan bersama, tetapi tetap dorong kemandiriannya secara bertahap. Misalnya, temani anak membaca selama beberapa menit, lalu beri kesempatan kepadanya untuk melanjutkan aktivitas sendiri sambil meyakinkan bahwa kamu tetap tersedia jika dia membutuhkan bantuan.

4. Anak semakin jarang bercerita tentang kesehariannya

ilustrasi orang tua dan anak (pexels.com/Jep Gambardella)

Dulu, anak mungkin langsung bercerita panjang lebar tentang teman sebangku, kejadian lucu di sekolah, atau hal baru yang dipelajarinya hari itu. Sekarang, ketika kamu bertanya tentang kegiatannya, jawabannya hanya singkat seperti 'Biasa aja' atau 'Gak ada apa-apa'. Perubahan ini bisa membuatmu merasa kehilangan kedekatan yang sebelumnya terjalin secara alami.

Sebelum menyimpulkan bahwa anak mulai menjauh, coba evaluasi bagaimana kebiasaan komunikasi di rumah selama ini. Apakah kamu punya waktu untuk mendengarkan ceritanya, atau percakapan kalian lebih banyak berisi pertanyaan tentang nilai, tugas, dan kewajiban? Anak cenderung lebih nyaman bercerita ketika dia merasa didengarkan tanpa langsung dihakimi atau diberi ceramah. Kamu bisa memulai dari obrolan santai saat makan malam, perjalanan pulang sekolah, atau menjelang tidur. Gak perlu memaksanya bercerita panjang karena membangun kembali kebiasaan berbagi juga membutuhkan waktu dan suasana yang nyaman.

5. Anak lebih memilih mencari kedekatan melalui gawai

ilustrasi orang tua dan anak (pexels.com/Anna Shvets)

Ketika anak mulai menghabiskan lebih banyak waktu menonton video, bermain gim, atau menjelajahi konten digital, orangtua mungkin langsung berfokus pada durasi penggunaan gawainya. Padahal, selain mempertimbangkan batas waktu layar, penting juga untuk memahami apa yang membuat anak tertarik menghabiskan banyak waktu di sana. Gawai bisa menjadi hiburan yang menyenangkan, tetapi terkadang juga menjadi pilihan ketika anak merasa bosan atau kesulitan menemukan teman untuk berbicara dan bermain.

Coba amati apakah anak masih memiliki kesempatan untuk melakukan kegiatan menyenangkan bersama keluarga. Kamu bisa mengajaknya memasak makanan sederhana, bermain permainan papan, berjalan santai, atau memilih film yang dapat dinikmati bersama. Jadikan aktivitas tersebut sebagai kesempatan untuk terhubung, bukan sekadar cara mengalihkan perhatian anak dari layar. Jika kamu ingin menerapkan aturan penggunaan gawai, buat kesepakatan yang jelas dan berlaku secara konsisten bagi seluruh keluarga. Anak akan lebih mudah menerima batasan ketika dia juga mendapatkan alternatif kegiatan yang menyenangkan dan merasakan kehadiran orangtua secara nyata.

Mengenali tanda-tanda anak membutuhkan lebih banyak waktu bersama orangtua bukan berarti kamu harus selalu tersedia setiap saat. Orangtua juga memiliki pekerjaan, tanggung jawab rumah tangga, dan kebutuhan untuk beristirahat. Hal yang lebih penting adalah memastikan bahwa di tengah berbagai kesibukan tersebut, anak tetap memiliki kesempatan untuk merasakan perhatian dan kedekatan emosional yang konsisten.

Kamu bisa memulainya melalui kebiasaan sederhana, seperti mendengarkan cerita anak selama sepuluh menit sebelum tidur, makan bersama tanpa ponsel, atau bermain sebentar setelah menyelesaikan pekerjaan. Gak perlu menunggu akhir pekan atau liburan panjang untuk menciptakan kenangan bersama. Jika perubahan perilaku anak berlangsung lama, semakin mengganggu kesehariannya, atau disertai kesedihan dan kecemasan yang menetap, pertimbangkan untuk berdiskusi dengan guru atau tenaga profesional. Sebab, yang dibutuhkan anak bukanlah orangtua yang selalu sempurna, melainkan sosok yang berusaha hadir, mendengarkan, dan membuatnya merasa bahwa dirinya berarti.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article