ilustrasi orang tua dan anak (pexels.com/Anna Shvets)
Ketika anak mulai menghabiskan lebih banyak waktu menonton video, bermain gim, atau menjelajahi konten digital, orangtua mungkin langsung berfokus pada durasi penggunaan gawainya. Padahal, selain mempertimbangkan batas waktu layar, penting juga untuk memahami apa yang membuat anak tertarik menghabiskan banyak waktu di sana. Gawai bisa menjadi hiburan yang menyenangkan, tetapi terkadang juga menjadi pilihan ketika anak merasa bosan atau kesulitan menemukan teman untuk berbicara dan bermain.
Coba amati apakah anak masih memiliki kesempatan untuk melakukan kegiatan menyenangkan bersama keluarga. Kamu bisa mengajaknya memasak makanan sederhana, bermain permainan papan, berjalan santai, atau memilih film yang dapat dinikmati bersama. Jadikan aktivitas tersebut sebagai kesempatan untuk terhubung, bukan sekadar cara mengalihkan perhatian anak dari layar. Jika kamu ingin menerapkan aturan penggunaan gawai, buat kesepakatan yang jelas dan berlaku secara konsisten bagi seluruh keluarga. Anak akan lebih mudah menerima batasan ketika dia juga mendapatkan alternatif kegiatan yang menyenangkan dan merasakan kehadiran orangtua secara nyata.
Mengenali tanda-tanda anak membutuhkan lebih banyak waktu bersama orangtua bukan berarti kamu harus selalu tersedia setiap saat. Orangtua juga memiliki pekerjaan, tanggung jawab rumah tangga, dan kebutuhan untuk beristirahat. Hal yang lebih penting adalah memastikan bahwa di tengah berbagai kesibukan tersebut, anak tetap memiliki kesempatan untuk merasakan perhatian dan kedekatan emosional yang konsisten.
Kamu bisa memulainya melalui kebiasaan sederhana, seperti mendengarkan cerita anak selama sepuluh menit sebelum tidur, makan bersama tanpa ponsel, atau bermain sebentar setelah menyelesaikan pekerjaan. Gak perlu menunggu akhir pekan atau liburan panjang untuk menciptakan kenangan bersama. Jika perubahan perilaku anak berlangsung lama, semakin mengganggu kesehariannya, atau disertai kesedihan dan kecemasan yang menetap, pertimbangkan untuk berdiskusi dengan guru atau tenaga profesional. Sebab, yang dibutuhkan anak bukanlah orangtua yang selalu sempurna, melainkan sosok yang berusaha hadir, mendengarkan, dan membuatnya merasa bahwa dirinya berarti.