Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Alasan Logis Co-Parenting Jauh Lebih Baik daripada Orangtua Tunggal

Ilustrasi mengasuh anak
Ilustrasi mengasuh anak (freepik.com/jcomp)
Intinya sih...
  • Co-parenting membagi tanggung jawab, mengurangi stres orangtua tunggal, dan memberikan waktu istirahat yang lebih seimbang.
  • Anak mendapat peran dari kedua orangtua, merasakan kedekatan emosional, dan belajar berbagai nilai dari masing-masing orangtua.
  • Pembagian peran yang jelas, contoh hubungan sehat, dukungan emosional stabil, dan waktu berkualitas bersama anak menjadi lebih banyak.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Peran menjadi orangtua itu sangat menantang, apalagi kalau harus menjalani semuanya sendirian. Orangtua tunggal sering menghadapi banyak tekanan mulai dari urusan anak, pekerjaan, dan kebutuhan rumah tangga. Pastinya ini membuat rasa lelah dan stres yang makin menumpuk hingga membuat kualitas waktu bersama anak berkurang. Nah, disinilah peran co-parenting yang menjadi solusi untuk meringankan beban tersebut.

Dengan berbagi tanggung jawab, kedua orangtua tetap hadir dalam kehidupan anak secara seimbang. Anak pun merasakan kasih sayang utuh dari kedua orangtua. Selain itu, co-parenting juga memberi contoh hubungan sehat dan kerjasama yang positif bagi anak. Jangan heran kalau kini banyak yang mulai memilih co-parenting sebagai alternatif pola asuh anak setelah perceraian. Yuk, simak kelima alasan lainnya di bawah ini!

1. Beban tanggung jawab jadi lebih ringan

Ilustrasi mengasuh
Ilustrasi mengasuh (freepik.com/freepik)

Menjadi orangtua tunggal itu gak mudah, semua urusan anak harus dikerjakan sendirian. Tapi, dengan co-parenting, beban ini bisa dibagi dua, sehingga masing-masing orangtua punya waktu istirahat dan recharge energi. Anak juga tetap merasakan kehadiran kedua orangtua tanpa salah satu pihak merasa kewalahan. Kalau anak sakit atau ada kegiatan sekolah yang mendadak, kedua orangtua tetap saling support.

Otomatis bisa mengurangi stres yang sering dialami orangtua tunggal. Sistem dari co-parenting juga bisa dibuat lebih fleksibel supaya kedua orangtua juga bisa lebih nyaman. Waktu berkualitas bareng anak tetap maksimal karena setiap orangtua punya kesempatan sama untuk fokus mendidik. Tanggung jawab gak lagi jadi beban salah satu pihak.

2. Anak mendapat peran dari kedua orangtua

Ilustrasi bermain dengan anak
Ilustrasi bermain dengan anak (freepik.com/presspoto)

Anak butuh figur lengkap dari ayah dan ibu, gak hanya secara fisik tapi juga emosional. Dengan co-parenting anak tetap merasakan kedekatan dengan kedua orangtua meski gak lagi tinggal bersama. Anak belajar berbagai nilai yang berbeda dari masing-masing orangtua. Kalau ayah yang mengajarkan ketegasan brarti ibu bisa mengajarkan kelembutan.

Anak tetap merasa aman karena tahu kedua orangtua tetap hadir meski tidak tinggal bersama. Gak ada kehilangan atau ketergantungan berlebihan pada satu orangtua saja. Kedekatan dengan kedua figur orangtua ini mendukung perkembangan sosial anak. Secara emosional tumbuh kembang anak juga tetap seimbang.

3. Pembagian peran bisa lebih jelas

Ilustrasi membagi tugas
Ilustrasi membagi tugas (freepik.com/freepik)

Pola asuh co-parenting setiap orangtua punya pembagian peran yang jelas. Misalnya, ayah fokus dengan urusan sekolah dan kegiatan anak, sedangkan ibunya fokus menangani kebutuhan sehari-hari. Kalau pembagian diatur dengan jelas, gak ada yang merasa kewalahan atau terbebani sendirian. Anak lebih mudah menyesuaikan diri karena ada rutinitas yang konsisten dari kedua orangtua.

Komunikasi antara orangtua juga lebih terstruktur dan efektif. Berbeda dengan orangtua tunggal yang harus multitasking tanpa bantuan pasangan atau mantan. Dengan pembagian peran, waktu untuk anak jauh lebih berkualitas. Anak pun bisa merasakan konsistensi orangtua dalam pengasuhan.

4. Memberikan contoh hubungan sehat untuk anak

Ilustrasi bersama anak
Ilustrasi bersama anak (pedes.com/Pavel Danilyuk)

Co-parenting mengajarkan anak soal kompromi, kerja sama, dan saling menghargai perbedaan. Mereka bisa belajar meski orangtua nya tidak bersama, keduanya tetap bisa bekerja sama demi kebaikan anak. Ini menjadi contoh hubungan sehat yang nantinya bisa ditiru anak saat dewasa. Anak belajar kalau konflik bisa diselesaikan tanpa saling bermusuhan.

Mereka juga bisa mengapresiasi kalau perbedaan gak harus berpisah total. Anak lebih paham tentang pentingnya komunikasi terbuka dalam sebuah hubungan. Inilah yang membuat anak lebih siap menghadapi masalah sosial di sekolah maupun di lingkup pertemanan. Sehingga, mereka tumbuh jadi pribadi yang lebih dewasa dan empatik.

5. Anak punya dukungan emosional yang lebih stabil

Ilustrasi menemani anak
Ilustrasi menemani anak (pexels.com/Agung Pandit Wiguna)

Orangtua tunggal harus menanggung semua tekanan sendiri, termasuk masalah emosional anak. Tapi, dalam co-parenting, kedua orangtua tetap saling mendukung tumbuh kembang anak secara emosional. Kalau anak lagi stres karena tugas sekolah, satu orangtua bisa mengajak bicara dan menenangkan, dan yang lain membantu mengatur urusan anak sehari-hari. Ini yang membuat anak merasa lebih aman dan didengar.

Anak lebih mudah mengekspresikan perasaan nya karena punya dua figur untuk berbagi. Dukungan emosional yang seimbang membantu perkembangan mental anak lebih stabil. Orangtua pun gak merasa terbebani atau frustasi saat mengasuh dan mendidik anak meski sudah berpisah dari pasangan. Rumah tetap menjadi tempat yang penuh kasih sayang meski orang tua tidak lagi bersama.

6. Lebih banyak waktu berkualitas bareng anak

Ilustrasi mengasuh anak bersama
Ilustrasi mengasuh anak bersama (pexels.com/Emma Bauso)

Co-parenting juga kasih kesempatan bagi setiap orangtua untuk fokus dengan kualitas, bukan kuantitas waktu bersama anak. Saat punya kesempatan mengajak anak bermain, belajar, atau mengeksplor hobi, bisa memanfaatkan momen tanpa terburu-buru. Anak bakal merasa setiap waktu bersama orangtua selalu penuh perhatian dan meaningful. Orangtua tunggal sering kesulitan melakukan ini karena harus multitasking atau mengejar deadline pekerjaan.

Dengan co-parenting, anak bisa ikut berbagai kegiatan yang sebelumnya gak bisa dilakukan. Kedekatan emosional dengan kedua orangtua jadi lebih kuat meski tak lagi bersama. Anak tumbuh dengan banyak pengalaman dari kedua orangtua nya. Momen kebersamaan menjadi lebih hangat dan berkesan meski harus membagi waktu.

Co-parenting gak cuma berbagai tanggung jawab, tapi menciptakan lingkungan yang sehat untuk anak. Anak tumbuh dengan merasakan kehadiran kedua orangtua, mendapatkan dukungan emosional, dan belajar tentang kerja sama yang baik. Orangtua juga gak terbebani sendirian, jadi bisa lebih fokus memberikan perhatian yang berkualitas. Ditambah dengan pembagian peran yang jelas membuat rutinitas lebih teratur.

Anak mendapatkan contoh hubungan yang sehat meski orang tua tak lagi tinggal bersama. Ini membantu perkembangan mental, emosional, dan sosial anak menjadi lebih seimbang. Co-parenting bisa jadi solusi terbaik bagi keluarga yang pengen bahagia meski dalam kondisi berbeda. Intinya, kebahagiaan anak tetap prioritas utama dengan pola asuh co-parenting.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Life

See More

3 Susunan Acara Isra Mikraj 2026, Cocok untuk Acara Sekolah!

07 Jan 2026, 12:03 WIBLife