"Keputusan untuk berhenti tidak harus dibuat setelah percakapan pertama. Berikan waktu, cari kemungkinan penyesuaian, dan bekerja samalah untuk menemukan jalan terbaik," ujar Patton Smith.
Anak Sering Mau Berhenti dari Aktivitas Baru? Ini Alasannya!

Pernah gak si kecil terlihat sangat antusias saat minta ikut les renang, sepak bola, atau kelas menari, tetapi baru beberapa kali datang sudah ingin berhenti? Situasi seperti ini cukup sering membuat orang tua bingung. Di satu sisi, kita ingin anak bebas mengeksplorasi minatnya. Namun di sisi lain, rasanya sayang juga ketika sudah mengeluarkan biaya dan waktu untuk aktivitas tersebut.
Sebelum buru-buru menganggap anak mudah menyerah, ada baiknya memahami alasan di balik keputusannya. Menurut para ahli, keinginan anak untuk berhenti dari suatu aktivitas tidak selalu berarti mereka malas atau tidak punya komitmen. Berikut beberapa alasan yang mungkin menjadi penyebabnya.
1. Anak merasa cemas atau tidak nyaman

Terkadang, keinginan untuk berhenti muncul karena anak merasa cemas saat menjalani aktivitas baru. Mereka mungkin takut gagal, takut melakukan kesalahan, atau merasa tidak percaya diri ketika melihat kemampuan teman-temannya.
Dikutip dari Parents, Nina Kaiser, PhD, seorang psikolog, menjelaskan bahwa kecemasan sering kali membuat seseorang memilih menghindari situasi yang dianggap menakutkan. Karena itu, orang tua perlu mencari tahu apakah anak benar-benar tidak menyukai aktivitas tersebut atau hanya sedang merasa khawatir saat menjalaninya.
2. Lingkungan yang tidak nyaman dan tekanan yang terlalu besar

Ada kalanya, bukan aktivitasnya yang menjadi masalah, melainkan lingkungan tempat anak menjalankannya. Mereka mungkin menghadapi pelatih yang terlalu keras, teman yang kurang ramah, atau suasana yang membuat mereka merasa tidak nyaman. Pengalaman negatif seperti ini bisa membuat anak kehilangan minat meskipun sebenarnya menyukai aktivitas tersebut.
Menurut psikiater anak dan remaja Asha Patton Smith, MD, dikutip dari Parents, beberapa anak juga dapat merasa tertekan oleh ekspektasi yang terlalu tinggi atau mengalami kelelahan karena jadwal yang terlalu padat. Ketika aktivitas yang seharusnya menyenangkan justru terasa seperti beban, motivasi anak cenderung menurun dengan cepat.
3. Masih mencari minat yang benar-benar disukai

Bagi anak-anak, mencoba banyak hal sebenarnya merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang. Mereka masih mencari tahu apa yang membuat mereka tertarik dan bersemangat dalam jangka panjang.
Karena itu, tidak heran jika hari ini mereka menyukai sepak bola, lalu beberapa bulan kemudian lebih tertarik pada menggambar atau berenang. Eksplorasi seperti ini justru membantu anak mengenali bakat dan minat yang paling sesuai dengan dirinya.
“Tujuan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di usia muda adalah untuk memberikan pengalaman yang beragam kepada anak. Dengan mengenalkan mereka pada berbagai jenis aktivitas, anak memiliki kesempatan menemukan minat dan bakat yang mungkin sebelumnya tidak terlihat” ujar Nina Kaiser.
4. Aktivitas yang dipilih bukan berasal dari keinginan anak

Kadang tanpa sadar, orang tua memilih aktivitas berdasarkan keinginan pribadi. Misalnya, berharap anak menyukai olahraga yang dulu disukai ayah atau ibunya saat kecil.
“Pentingnya mencari aktivitas yang sesuai dengan minat anak, bukan memaksa mereka mengikuti olahraga atau kegiatan yang sebenarnya tidak mereka sukai,” jelas Nina Kaiser.
Padahal, setiap anak memiliki karakter, minat, dan kekuatan yang berbeda. Melibatkan mereka dalam proses memilih aktivitas dapat meningkatkan rasa memiliki dan membuat mereka lebih termotivasi untuk menjalaninya.
5. Anak belum siap menghadapi proses belajar

Beberapa anak nyaman menjadi pemula. Sebagian anak memiliki ekspektasi tinggi terhadap dirinya sendiri sehingga mudah frustrasi ketika belum bisa melakukan sesuatu dengan baik.
Akibatnya, mereka memilih berhenti karena merasa tidak berbakat atau tidak cukup hebat. Di sinilah peran orang tua dibutuhkan untuk mengingatkan bahwa tujuan utama mencoba aktivitas baru adalah belajar dan berkembang, bukan langsung menjadi yang terbaik.
"Bahkan sebagai orang dewasa, kita sering kesulitan bertahan dalam sesuatu yang baru, terutama ketika merasa tidak yakin, merasa tidak cukup baik, atau berada di luar zona nyaman," ujar Vanessa Lapointe, psikolog dan pendidik keluarga serta penulis buku Discipline Without Damage, dikutip dari Fortune.
6. Ada masalah yang perlu diperhatikan lebih lanjut

Jika anak terus-menerus kehilangan minat terhadap hampir semua aktivitas yang dicoba, orang tua mungkin perlu melihat lebih dalam. Menurut Dr. Patton Smith, kondisi ini terkadang dapat berkaitan dengan masalah seperti kecemasan atau depresi.
Meski tidak selalu demikian, perubahan perilaku yang terjadi secara konsisten patut diperhatikan. Jika disertai tanda lain seperti mudah sedih, menarik diri, atau kehilangan minat pada banyak hal, konsultasi dengan profesional bisa menjadi langkah yang bijak.
Pada akhirnya, tidak semua keputusan anak untuk berhenti berarti mereka gagal belajar tentang komitmen. Terkadang, proses mencoba, tidak suka, lalu mencari hal lain yang lebih cocok justru menjadi bagian penting dari perjalanan mereka mengenal diri sendiri.


![[QUIZ] Apakah Kesedihan Paling Mendalam yang Tengah Kamu Rasakan?](https://image.idntimes.com/post/20250608/siyavash-lolo-uEfDGm_Fkvk-unsplash.jpg)
















