Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Antisipasi dalam Hidup, Berjaga-jaga Lebih Baik ketimbang Terlambat
ilustrasi berpikir (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)
  • Artikel menekankan pentingnya antisipasi dalam hidup agar tidak panik saat masalah datang, dengan bertindak sebelum hal buruk benar-benar terjadi.
  • Ditekankan enam langkah antisipasi: hidup di bawah kemampuan, menjaga hubungan baik, punya lebih dari satu sumber pendapatan, memiliki asuransi aktif, berbuat baik secara terukur, dan peka terhadap perubahan.
  • Tujuan utama dari berbagai langkah ini adalah menciptakan rasa aman dan tenang menghadapi ketidakpastian hidup tanpa harus bergantung pada keberuntungan semata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam hidup pasti ada berbagai masalah. Namun, situasinya akan lebih buruk jika kamu tidak pernah mencoba mengantisipasi potensi persoalan yang ada. Dirimu mesti bertindak bahkan sebelum sesuatu yang dikhawatirkan benar-benar terjadi.

Tidak ada penundaan. Pilihanmu hanya melakukan pencegahan sekarang atau kamu akan terlambat. Dirimu yang terlebih dahulu bertindak atau persoalannya duluan datang. Ini bukan cara hidup yang penuh dengan kecemasan.

Justru apabila sesuatu sudah diantisipasi sejak awal, kamu bakal hidup lebih tenang. Perihal sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi atau tidak merupakan urusan belakangan. Terpenting, dirimu gak panik kemudian. Apa saja antisipasi dalam hidup yang bisa kamu lakukan?

1. Hidup di bawah kemampuan

ilustrasi belanja (pexels.com/Sam Lion)

Kamu bisa membayar lebih apa pun, tapi tidak harus melakukannya. Apalagi kalau kamu ingin masa depan yang lebih aman. Ciptakan ruang lega dalam kebiasaan belanjamu.

Harus ada selisih yang lumayan besar antara kemampuanmu membayar yang sesungguhnya dan uang yang dikeluarkan. Contoh, dari segi pendapatan, kamu mampu hampir setiap hari makan di restoran bersama keluarga dengan bujet 500 ribu rupiah sekali makan. Namun, jika dirimu memilih cuma sebulan sekali makan di restoran dengan bujet 500 ribu sampai 1 juta rupiah, banyak uang bisa diselamatkan.

Di luar itu, kamu gonta-ganti belanja di supermarket, pasar tradisional, atau tukang sayur keliling dan memasak sendiri. Lebih baik sekarang dirimu membatasi makan di restoran sebulan sekali daripada suatu saat untuk makan sederhana saja uangnya gak ada. Lebih banyak penghasilan yang disisihkan seperti kasur empuk yang menopangmu kala terjadi masalah ekonomi global maupun nasional.

2. Menjaga hubungan baik

ilustrasi kelompok kerja (pexels.com/Atlantic Ambience)

Menjaga hubungan baik tidak berarti kamu mesti menjilat sana-sini. Dirimu hanya tidak perlu mencari masalah dengan siapa pun. Jika pun terjadi persoalan antara kamu dengan orang lain, selesaikan dengan baik-baik.

Orang lain dan hubungan yang harmonis kadang tampak tidak berharga saat kamu merasa bisa melakukan segalanya sendirian. Akan tetapi, situasi dapat berubah kapan pun. Jangan sampai ketika dirimu memerlukan bantuan atau kerja sama dengan orang lain, buruknya hubungan selama ini menjadi sandungan.

Membina hubungan baik itu gampang. Tidak harus dengan kamu royal pada mereka dengan sering mentraktir atau kasih kado. Cukup dirimu menjadi pribadi yang ramah sebagai teman serta menghindari pertengkaran sarat emosi.

3. Punya sumber pendapatan lebih dari satu

ilustrasi kelompok kerja (pexels.com/Moose Photos)

Bayangkan seandainya kamu menjadi petani. Kalau dirimu hanya menggarap satu petak sawah kemudian hama menghabiskan bulir-bulir padi, kamu gak panen sama sekali. Itu sama dengan dirimu tidak bisa makan.

Namun, jika kamu masih punya petak sawah di lokasi lain yang aman dari hama atau usaha berbeda, pemasukan memang berkurang. Akan tetapi, gak sampai nol rupiah. Malah pendapatan dari panen petak sawah lain atau usaha di rumah bisa lebih bagus dari sebelumnya.

Jangan menunggu satu-satunya pekerjaanmu tak lagi dapat memberikan apa pun untukmu. Miliki setidaknya dua sumber penghasilan. Lebih baik lagi kedua sumur itu tidak saling memengaruhi. Sehingga ketika satu sumur kering, air di sumur satunya gak otomatis ikut surut.

4. Memiliki asuransi kesehatan dan jangan sampai gak aktif

ilustrasi asuransi kesehatan (pexels.com/Leeloo The First)

Asuransi kesehatan memang terasa tidak berguna ketika dirimu sehat. Malah membayar asuransi yang paling murah sekalipun terlihat seperti pemborosan. Pikirmu, mending uangnya disimpan sendiri atau digunakan buat hal-hal lain.

Persoalannya, kamu tidak tahu kapan masalah kesehatan serius akan menimpamu atau keluargamu. Ketika itu terjadi dan dirimu gak punya tabungan yang sangat banyak, seharusnya asuransi menjadi andalan. Namun, karena kamu bahkan tidak memilikinya, masalah menjadi rumit.

Uang senilai premi asuransi yang selama ini disimpan sendiri tidak cukup untuk menanggung biaya pengobatan. Bahkan sebagian uangnya sudah dipakai buat berbagai hal yang sebenarnya kurang penting. Kalau asuransi sudah ada, dirimu pun tidak boleh lalai membayarnya sehingga tidak aktif. Sama saja nanti asuransi tak dapat langsung digunakan buat berobat.

5. Melakukan kebaikan secara terukur

ilustrasi kegiatan sosial (pexels.com/RDNE Stock project)

Berbuat baik tentu mulia. Namun, bila ukurannya gak jelas, bisa berakibat buruk untukmu. Misalnya, kamu menyedekahkan sebanyak mungkin pendapatanmu. Dirimu terlalu yakin bulan depan uang bakal datang lagi.

Namun, ternyata bulan depan malah gajimu dipotong, bahkan santer terdengar isu PHK. Sedekah tanpa perhitungan sama sekali telanjur membuatmu tak punya dana darurat. Berbuat baik tetap harus mendahulukan kebutuhan-kebutuhanmu.

Jika ada kelebihan rezeki, baru diarahkan untuk kegiatan sosial. Begitu pula bentuk bantuan lainnya. Seperti membantu orang yang terlalu menghabiskan waktumu bikin dirimu gak sempat bekerja. Padahal, kamu cuma dibayar per pekerjaan yang berhasil diselesaikan. Itu artinya pendapatanmu akan berkurang banyak.

6. Peka terhadap sinyal perubahan

ilustrasi berpikir (pexels.com/cottonbro studio)

Banyak perubahan tidak terjadi tiba-tiba. Kecuali perubahan karena bencana alam yang sulit diprediksi seperti gempa bumi. Di luar itu biasanya sudah ada tanda-tandanya. Hanya saja, terkadang kamu gak memperhatikan.

Bahkan ketika dirimu sempat merasakan tanda-tandanya, bukannya segera mengantisipasi, malah mengabaikannya. Kamu menyepelekan dan terlalu berpikir positif di situasi yang gak tepat. Setiap sinyal perubahan kudu diperhatikan serta dipantau terus.

Bila tanda bertambah, artinya kemungkinan terjadinya perubahan situasi dan kondisi kian nyata. Kamu kudu bergerak cepat, tetapi jangan sembrono. Secara mental, dirimu sudah lebih siap. Kamu pun telah merancang strategi untuk mengatasinya.

Antisipasi dalam hidup kalau gak disesuaikan bakal memperkeruh situasi dan bikin canggung. Rasanya terlalu banyak hal tidak terduga dan di luar ekspektasi yang terjadi. Kamu bingung serta mengalami kesulitan. Padahal, sebagian besarnya masih dapat dicegah sejak dini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team