Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apakah Terlalu Sering Memuji Anak Bisa Jadi Bumerang?

ilustrasi ibu dan anak
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Vanessa Loring)

Memuji anak sering dianggap sebagai bentuk pengasuhan yang positif dan penuh kasih sayang. Banyak orang tua percaya bahwa pujian dapat meningkatkan rasa percaya diri dan membuat anak merasa dihargai. Setiap keberhasilan kecil pun tak jarang langsung disambut dengan kata-kata manis. Niatnya jelas baik, yaitu agar anak tumbuh dengan perasaan aman dan yakin pada dirinya sendiri. Namun, gak sedikit orang tua mulai bertanya-tanya ketika anak justru menjadi mudah menyerah atau terlalu haus pengakuan. Dari sini muncul pertanyaan penting, apakah pujian yang terlalu sering justru bisa menjadi bumerang.

Di tengah maraknya konten parenting, pujian kerap diposisikan sebagai solusi instan untuk membangun mental anak. Anak dipuji agar semangat, dipuji agar menurut, dan dipuji agar merasa bahagia. Sayangnya, gak semua pujian berdampak positif jika diberikan tanpa pertimbangan. Cara, waktu, dan jenis pujian ternyata sangat berpengaruh pada perkembangan pola pikir anak. Alih-alih membangun motivasi intrinsik, pujian berlebihan justru bisa menggesernya. Maka, penting bagi orang tua untuk memahami sisi lain dari pujian.

1. Pujian dan niat baik orang tua

ilustrasi memberikan pujian pada anak (freepik.com/freepik)
ilustrasi memberikan pujian pada anak (freepik.com/freepik)

Pujian hampir selalu lahir dari niat baik orang tua. Saat melihat anak berusaha, orang tua ingin menunjukkan apresiasi dan dukungan. Pujian menjadi bahasa cinta yang mudah dan terasa aman. Anak yang dipuji terlihat senang dan orang tua pun merasa berhasil. Hubungan emosional terasa hangat dan positif. Dalam jangka pendek, pujian memang bisa meningkatkan suasana hati anak.

Namun, niat baik gak selalu berbanding lurus dengan dampak jangka panjang. Jika pujian diberikan terlalu sering dan pada hal-hal yang terlalu umum, maknanya bisa berkurang. Anak bisa menganggap pujian sebagai sesuatu yang otomatis, bukan sebagai bentuk apresiasi yang tulus. Bahkan, anak bisa belajar bahwa apa pun yang ia lakukan akan selalu dipuji. Di titik ini, pujian gak lagi menjadi penguat, melainkan kebiasaan kosong. Orang tua pun perlu mulai reflektif terhadap pola ini.

2. Ketika pujian menggeser motivasi anak

ilustrasi menemani anak belajar dan memberi pujian (freepik.com/our-team)
ilustrasi menemani anak belajar dan memberi pujian (freepik.com/our-team)

Anak pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu dan dorongan belajar alami. Ia mencoba sesuatu karena penasaran dan ingin bisa. Namun, ketika pujian menjadi fokus utama, motivasi anak bisa bergeser. Anak melakukan sesuatu bukan lagi karena ingin belajar, tetapi demi mendapatkan pujian. Proses belajar berubah menjadi proses mencari pengakuan. Tanpa disadari, motivasi intrinsik perlahan melemah.

Dalam jangka panjang, anak bisa menjadi sangat bergantung pada penilaian eksternal. Ia merasa kurang yakin jika gak ada pujian yang menyertai usahanya. Bahkan, anak bisa enggan mencoba hal baru jika merasa belum tentu dipuji. Kondisi ini membuat anak bermain aman dan menghindari tantangan. Padahal, tantangan justru penting untuk perkembangan. Di sinilah pujian berlebihan mulai menunjukkan efek bumerangnya.

3. Pujian yang salah sasaran dan dampaknya

ilustrasi seseorang memberikan pujian (freepik.com/master1305)
ilustrasi seseorang memberikan pujian (freepik.com/master1305)

Gak semua pujian berdampak sama pada anak. Pujian yang berfokus pada hasil atau label tertentu biasanya menimbulkan tekanan tersembunyi. Ketika anak sering disebut pintar, hebat, atau juara, ia bisa merasa harus selalu memenuhi label tersebut. Anak menjadi takut gagal karena kegagalan dianggap merusak citra dirinya. Akibatnya, ia bisa merasa cemas saat menghadapi tugas sulit.

Selain itu, pujian yang terlalu umum membuat anak kurang memahami apa yang sebenarnya diapresiasi. Anak gak belajar mengenali proses dan usaha yang ia lakukan. Ia hanya tahu bahwa dirinya dipuji, tanpa tahu alasannya secara spesifik. Hal ini membuat pujian kehilangan fungsi edukatifnya. Anak pun sulit mengaitkan keberhasilan dengan usaha nyata. Dampaknya, ketangguhan mental anak gak terbangun dengan optimal.

4. Hubungan pujian dengan ketahanan mental

ilustrasi ibu dan anak (freepik.com/our-team)
ilustrasi ibu dan anak (freepik.com/our-team)

Ketahanan mental anak gak terbentuk dari pujian semata. Anak perlu belajar menghadapi kegagalan, rasa kecewa, dan situasi gak menyenangkan. Jika setiap usaha selalu dipuji tanpa ruang untuk refleksi, anak kehilangan kesempatan belajar dari kesalahan. Ia gak terbiasa mengevaluasi diri secara realistis. Ketika suatu saat pujian gak datang, anak bisa merasa sangat terpukul.

Anak yang terlalu sering dipuji juga berisiko memiliki toleransi rendah terhadap kritik. Kritik dianggap sebagai ancaman, bukan masukan. Padahal, kemampuan menerima umpan balik sangat penting dalam kehidupan sosial dan akademik. Dengan ketahanan mental yang lemah, anak mudah menyerah saat menghadapi hambatan. Kondisi ini biasanya baru terlihat ketika anak memasuki lingkungan yang lebih kompetitif. Pujian yang berlebihan di rumah bisa menjadi salah satu pemicunya.

5. Menggeser fokus dari pujian ke proses

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Banyak ahli parenting menyarankan agar orang tua mulai menggeser cara memuji anak. Fokus gak lagi pada hasil akhir, melainkan pada proses dan usaha. Dengan cara ini, anak belajar bahwa kerja keras dan ketekunanlah yang dihargai. Anak menjadi lebih berani mencoba karena tahu usahanya diapresiasi, bukan hanya keberhasilannya. Pola pikir bertumbuh pun lebih mudah berkembang.

Ketika anak gagal, orang tua tetap bisa hadir tanpa harus selalu memuji. Mendengarkan, mengajak refleksi, dan memberi dukungan emosional biasanya jauh lebih bermakna. Anak belajar bahwa ia diterima apa adanya, bukan karena prestasinya. Hubungan orang tua dan anak pun menjadi lebih sehat. Anak gak merasa harus selalu tampil sempurna. Dari sinilah kepercayaan diri yang lebih kokoh terbentuk.

6. Kapan pujian tetap dibutuhkan anak

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Meskipun memiliki potensi bumerang, pujian tetap dibutuhkan dalam pengasuhan. Anak tetap perlu merasa dihargai dan diakui. Kuncinya terletak pada keseimbangan dan kesadaran orang tua. Pujian yang tulus, spesifik, dan gak berlebihan justru sangat membantu perkembangan emosi anak. Anak merasa dilihat dan dipahami.

Pujian juga penting ketika anak menunjukkan usaha besar atau keberanian mencoba hal baru. Dalam situasi ini, pujian berfungsi sebagai penguat positif yang sehat. Anak belajar bahwa usahanya bermakna. Namun, pujian sebaiknya gak menjadi satu-satunya respon orang tua. Kehadiran, empati, dan dialog tetap menjadi fondasi utama. Dengan begitu, pujian gak berubah menjadi tekanan.

Memuji anak bukanlah kesalahan, tetapi cara memuji perlu terus disadari dan dievaluasi. Pujian yang diberikan tanpa pertimbangan bisa membawa dampak yang gak diinginkan. Anak bisa tumbuh dengan motivasi yang rapuh dan ketahanan mental yang lemah. Padahal, tujuan pengasuhan bukan sekadar membuat anak senang sesaat. Orang tua ingin anak tumbuh tangguh dan percaya diri dalam jangka panjang.

Dengan memahami kapan dan bagaimana memuji, orang tua dapat menghindari efek bumerang tersebut. Pujian yang tepat membantu anak mengenal proses, menerima kegagalan, dan menghargai usaha. Anak belajar bahwa nilai dirinya gak ditentukan oleh pujian semata. Di sanalah pengasuhan menjadi lebih bermakna dan berkelanjutan. Pujian pun kembali pada fungsinya sebagai dukungan, bukan tekanan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kirana Mulya
EditorKirana Mulya
Follow Us

Latest in Life

See More

4 Bulan Lahir yang Akan Menemukan Cinta Sejati di Tahun 2026, Ada Mei!

06 Feb 2026, 20:03 WIBLife