ilustrasi ibu dan anak berbincang (pexels.com/shkrabaanthony)
Orangtua punya peran penting dalam membantu remaja menghadapi tekanan dari media sosial. Salah satunya dengan membangun komunikasi yang terbuka, bukan sekadar melarang, tapi benar-benar ngobrol soal konten apa yang mereka lihat setiap hari. Selain itu, literasi digital juga perlu dikenalkan sejak dini supaya anak tak gampang percaya dengan standar cantik di media sosial.
“Cara yang paling efektif yang saya temukan untuk menghadapi tekanan ini adalah dengan terus-menerus melakukan percakapan terbuka, mendorong anak untuk berpikir kritis terhadap pesan budaya, serta meningkatkan literasi media mereka,” ujar Dr. Finkelstein.
Remaja juga perlu dibantu untuk memahami bahwa media sosial bukan realita sepenuhnya. Banyak konten yang sudah diedit, dikurasi, dan tidak menggambarkan kehidupan sebenarnya. Dengan cara ini, mereka bisa lebih kritis dan tidak mudah terpengaruh.
Budaya glow up memang terlihat seru dan inspiratif di permukaan. Tapi kalau gak disikapi dengan bijak, ada tekanan halus yang bisa pelan-pelan mengubah cara remaja menilai diri mereka sendiri. Dan kalau dibiarkan terus, ini bisa berdampak ke kesehatan mental mereka dalam jangka panjang.