Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Parenting dan Kesehatan Mental, Orangtua Juga Bisa Capek

Parenting dan Kesehatan Mental, Orangtua Juga Bisa Capek
Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Helena Lopes)
Share Article

Menjadi orangtua sering digambarkan sebagai pengalaman yang penuh kebahagiaan dan makna. Namun di balik momen-momen hangat bersama anak, ada tanggung jawab besar yang harus dijalani setiap hari. Mulai dari mengurus kebutuhan anak, mengatur keuangan keluarga, hingga menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan rumah tangga, semuanya membutuhkan energi fisik dan mental yang tidak sedikit.

Sayangnya, kesehatan mental bagi orangtua masih sering luput dari perhatian. Banyak ayah dan ibu merasa harus selalu kuat demi keluarga sehingga enggan mengakui bahwa mereka sedang lelah, stres, atau kewalahan.

1. Mengenal parent burnout: Ketika kelelahan menjadi kronis

Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by Steven Van Loy)
Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by Steven Van Loy)

Menjadi lelah setelah mengurus anak adalah hal yang wajar. Namun, ada kondisi yang dikenal sebagai parental burnout atau kelelahan ekstrem akibat tuntutan pengasuhan yang berlangsung terus-menerus. Kondisi ini dapat ditandai dengan kelelahan emosional, hilangnya kesenangan dalam mengasuh anak, hingga perasaan tidak mampu menjalankan peran sebagai orangtua.

"Kelelahan orangtua terjadi akibat paparan stres pengasuhan kronis yang berkepanjangan. Penelitian menunjukkan bahwa parental burnout bisa sangat merusak bagi orangtua, anak-anak, dan kemitraan antara orangtua yang berbagi pengasuhan," kata terapis dan konsultan kesehatan mental Talia Filippelli, LCSW, CHHC, CPT, dikutip dari Psychology Today.

Dalam jurnal "Parental Burnout: A Progressive Condition Potentially Compromising Family Well-Being—A Narrative Review" National Library of Medicine, ada beberapa tanda yang dialami orangtua yang mengalami parent burnout. Hal ini juga menjadi masalah serius.

"Parental burnout ditandai dengan ketegangan fisik dan mental yang berkepanjangan serta kelelahan yang terkait dengan peran orangtua, yang mungkin disertai dengan keterasingan emosional dari anak, kelelahan yang luar biasa, dan bahkan keraguan diri mengenai kesesuaian seseorang dalam peran pengasuhan dan perawatan," tulis laporan tersebut.

 

2. Tekanan menjadi orangtua 'sempurna' di era media sosial

Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Helena Lopes)
Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Helena Lopes)

Media sosial sering menampilkan gambaran keluarga yang tampak sempurna. Anak-anak terlihat selalu bahagia, rumah tampak rapi, dan orangtua seolah mampu menjalankan semua peran tanpa kesulitan. Tanpa disadari, paparan konten seperti ini dapat menciptakan tekanan tambahan bagi banyak orangtua.

"Perbandingan sosial, penggunaan media sosial, emosi negatif saat membandingkan diri dengan orang lain di media sosial, dan perbedaan kemampuan melakukan semuanya yang tinggi berkorelasi dengan laporan kelelahan terkait pekerjaan dan pengasuhan anak yang lebih tinggi," demikian laporan studi berjudul "Understudied social influences on work-related and parental burnout: Social media-related emotions, comparisons, and the 'do it all discrepancy'" dalam Frontiers.

3. Kurang tidur dan beban mental yang menumpuk

Ilustrasi kelelahan (unsplash.com/Photo by Stacey Koenitz)
Ilustrasi kelelahan (unsplash.com/Photo by Stacey Koenitz)

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi orangtua, terutama yang memiliki anak kecil, adalah kurang tidur. Bangun tengah malam, mengurus anak yang sakit, atau menenangkan bayi yang menangis dapat mengganggu waktu istirahat selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Kurang tidur dalam jangka panjang bisa meningkatnya risiko stres, gangguan suasana hati, dan penurunan kemampuan mengelola emosi.

"Prioritaskan tidur. Ini sangat penting. Mengatasi kelelahan dan memperbaiki pola tidur yang tidak sehat terlebih dahulu adalah langkah pencegahan. Dengan melakukan itu, kamu akan melindungi anak-anak dari bahaya akibat penelantaran anak dan kekerasan orangtua yang mungkin terjadi setelah tahap kelelahan terjadi," saran Talia Filippelli.

Selain kelelahan fisik, banyak orangtua juga memikul mental load atau beban mental yang tidak terlihat. Mereka harus mengingat jadwal sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, janji dokter, hingga berbagai urusan keluarga lainnya. Akumulasi tugas-tugas kecil ini dapat membuat seseorang merasa kehabisan energi meskipun tidak melakukan pekerjaan fisik yang berat.

4. Mengapa orangtua perlu meminta bantuan?

Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by Tamara Govedarovic)
Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by Tamara Govedarovic)

Masih banyak orangtua yang merasa bahwa meminta bantuan adalah tanda kelemahan. Padahal, manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang membutuhkan dukungan dari orang lain, terutama ketika menghadapi masa-masa yang menantang.

Seperti yang kita ketahui secara umum, untuk melakukan pengasuhan dan membesarkan anakmembutuhkan dukungan keluarga, teman, dan komunitas. Konsep ini juga didukung oleh berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa dukungan sosial dapat membantu mengurangi stres pengasuhan.

"Ketika orangtua berulang kali mengabaikan diri sendiri, hal itu tidak baik bagi mereka maupun anak. Ketika orangtua terlalu lelah, mereka tidak memiliki energi lagi untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri," kata dokter anak dan advokat untuk kesehatan serta kesejahteraan anak-anak Kelly Fradin, MD, dalam Psychology Today.

5. Merawat diri bukan tindakan egois

Ilustrasi bersantai (pexels.com/Munis Asadov)
Ilustrasi bersantai (pexels.com/Munis Asadov)

Banyak orangtua merasa bersalah ketika meluangkan waktu untuk diri sendiri. Mereka khawatir dianggap tidak bertanggung jawab atau kurang peduli terhadap anak. Padahal, merawat diri sendiri merupakan bagian penting dari pengasuhan yang sehat.

"Orangtua juga membutuhkan tidur, nutrisi, olahraga, teman, kegiatan kreatif, hobi, dan segala sesuatu yang membentuk diri mereka. Ketika orangtua mengalami gejala kelelahan, mereka tidak lagi dapat merawat anak-anak mereka atau diri mereka sendiri secara optimal," jelas Kelly Fradin.

Jadi sebagai orangtua juga perlu menjaga kesejahteraannya terlebih dahulu agar dapat membantu orang lain secara optimal termasuk mengasuh anak. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, membaca buku, berolahraga ringan, atau menikmati waktu tenang selama beberapa menit dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan mental.

Kesehatan mental bagi orangtua merupakan bagian penting dari kesejahteraan keluarga secara keseluruhan. Di tengah berbagai tuntutan pengasuhan, wajar jika ayah dan ibu merasa lelah, frustrasi, atau membutuhkan waktu untuk diri sendiri. Mengakui perasaan tersebut bukan berarti gagal, melainkan langkah awal untuk menjaga diri agar tetap sehat secara emosional.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More

Cara Bikin Media Tanam dari Bahan Rumahan untuk Tanaman Hias dan Sayuran

11 Jun 2026, 09:00 WIBLife