Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Balita Sering Memukul Diri Sendiri? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Balita Sering Memukul Diri Sendiri? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
ilustrasi anak menangis (pexels.com/keiraburton)

Melihat balita memukul dirinya sendiri tentu bikin orangtua kaget sekaligus khawatir. Apalagi jika perilaku ini terjadi berulang, muncul tiba-tiba, atau terlihat cukup keras. Namun, dalam banyak kasus, hal ini sebenarnya masih termasuk bagian dari proses perkembangan anak.

Balita masih belajar mengenali emosi dan cara mengekspresikannya dengan tepat. Karena itu, penting bagi orangtua untuk memahami penyebab di balik perilaku ini sebelum menentukan cara mengatasinya. Dengan pendekatan yang tepat, kebiasaan ini biasanya akan berkurang seiring waktu. Yuk, cari tahu penyebab dan cara mengatasinya berikut ini!

1. Frustrasi karena belum bisa mengungkapkan perasaan

ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/jepgambardella)
ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/jepgambardella)

Balita sering memukul dirinya sendiri karena belum mampu mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Emosi seperti marah, kecewa, atau bingung bisa terasa sangat besar, sementara kemampuan berbicara mereka masih terbatas. Akibatnya, memukul diri menjadi salah satu cara untuk meluapkan perasaan tersebut.

Kondisi ini juga berkaitan dengan perkembangan otak anak yang belum matang. Saat anak sedang emosional, mereka belum bisa berpikir logis seperti orang dewasa. Karena itu, alih-alih menasihati, lebih efektif untuk membantu mereka menenangkan diri terlebih dahulu.

“Saat anak sedang tantrum, emosi yang mereka rasakan menjadi sangat kuat hingga meluap dan sulit dikendalikan. Kemampuan otak untuk mengatur emosi belum cukup kuat, sehingga perasaan tersebut terasa lebih besar dan mengambil alih kendali,” ujar Dr. Mary Margaret Gleason, seorang psikiater anak dan remaja, dikutip dari Newyork Times.

2. Sedang merasakan sakit fisik

ilustrasi ayah menggendong anak menangis (pexels.com/baphi)
ilustrasi ayah menggendong anak menangis (pexels.com/baphi)

Balita yang tiba-tiba memukul dirinya sendiri juga bisa jadi sedang merasakan sakit. Misalnya, infeksi telinga atau tumbuh gigi sering membuat anak tidak nyaman, tetapi mereka belum bisa menjelaskannya. Memukul kepala atau bagian tubuh tertentu bisa menjadi cara mereka memberi tahu rasa sakit tersebut.

Selain itu, beberapa anak juga menggunakan perilaku ini untuk menenangkan diri. Sensasi fisik dari memukul bisa membantu mereka mengalihkan perhatian dari rasa tidak nyaman. Karena itu, penting untuk memperhatikan bagian tubuh yang sering mereka pukul.

“Jika hal ini jarang terjadi, biasanya tidak perlu dikhawatirkan. Namun, jika anak tidak bisa menghentikan perilaku tersebut dan melakukannya setiap kali menghadapi masalah, maka perlu perhatian lebih,” ujar Lourdes Quintana, spesialis perkembangan bayi dan balita, dikutip dari Parents.

3. Mencari perhatian atau reaksi dari orangtua

ilustrasi anak menangis (pexels.com/keiraburton)
ilustrasi anak menangis (pexels.com/keiraburton)

Balita sangat menyukai perhatian, bahkan perhatian kecil sekalipun bisa terasa besar bagi mereka. Jika sebelumnya orangtua bereaksi kuat saat anak memukul diri, mereka mungkin akan mengulanginya untuk mendapatkan respons yang sama. Ini bukan karena anak nakal, tetapi karena mereka belajar dari reaksi yang diberikan.

Respons orangtua sangat memengaruhi perilaku anak. Anak cenderung meniru tidak hanya tindakan, tetapi juga emosi yang ditunjukkan orangtua. Jika orangtua tetap tenang, anak pun lebih mudah ikut merasa tenang.

4. Cara menenangkan diri atau mencari stimulasi

ilustrasi anak berbaring di pangkuan ibu (pexels.com/kseniachernaya)
ilustrasi anak berbaring di pangkuan ibu (pexels.com/kseniachernaya)

Beberapa balita memiliki kebutuhan sensorik yang lebih tinggi, sehingga mereka mencari stimulasi fisik tertentu. Memukul diri sendiri atau melakukan gerakan berulang bisa menjadi cara mereka menenangkan diri saat stres atau lelah. Ini sering terjadi tanpa disadari oleh anak. Dalam situasi ini, penting untuk memberikan alternatif yang lebih aman.

Ketika menenangkan anak, sebaiknya utamakan tindakan dibandingkan kata-kata, karena anak cenderung meniru emosi yang ditunjukkan melalui bahasa tubuh, nada suara, dan ekspresi wajah. Dikutip dari Newyork Times, Dr. Charles Nelson, seorang ahli perkembangan anak dan autism, menyarankan salah satu cara, yaitu dengan berjongkok sejajar dan melakukan kontak mata agar anak merasa diperhatikan dan tidak sendirian.

Selain itu, orangtua juga bisa membantu anak menenangkan diri melalui cara lain seperti memberikan mainan sensorik, anak bisa diajak memeluk boneka, menarik napas dalam, atau melakukan aktivitas fisik ringan. Dengan begitu kebutuhan mereka tetap terpenuhi tanpa harus melukai diri sendiri.

5. Atasi dengan ciptakan rasa aman dan bantu anak memahami emosi

ilustrasi ibu bersama anak (pexels.com/pnwprod)
ilustrasi ibu bersama anak (pexels.com/pnwprod)

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memastikan anak berada di lingkungan yang aman. Jauhkan benda berbahaya dan, jika perlu, peluk anak dengan lembut untuk menghentikan perilaku tersebut. Fokus utama saat itu adalah menenangkan, bukan menegur.

Setelah anak lebih tenang, bantu mereka memahami apa yang sedang dirasakan. Gunakan kalimat sederhana agar anak merasa dipahami dan didukung. Dari sini, orangtua bisa mulai mengajarkan cara yang lebih sehat untuk mengekspresikan emosi.

Perilaku balita yang memukul diri sendiri memang bisa terasa mengkhawatirkan, tetapi sering kali merupakan fase perkembangan. Kuncinya adalah memahami penyebabnya, tetap tenang, dan memberikan respon yang tepat. Jika perilaku ini terjadi terus-menerus atau sampai melukai anak, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us