Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Trik “Jessica” Viral: Cara Unik Menghentikan Tantrum Balita, Bener Ampuh?

Trik “Jessica” Viral: Cara Unik Menghentikan Tantrum Balita, Bener Ampuh?
ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/yankrukov)

Pernah gak sih kamu lagi di tempat umum, misalnya di antrean kasir atau lagi duduk santai di kafe tiba-tiba ada suara tangisan balita yang pecah begitu saja? Awalnya pelan, lalu makin keras, sampai semua orang di sekitar langsung menoleh. Orangtuanya sudah mencoba berbagai cara, dari membujuk, mengalihkan perhatian, sampai menggendong, tapi tantrumnya tetap jalan terus.

Nah, di tengah situasi yang relatable buat banyak orangtua ini, muncul satu “trik aneh” yang lagi viral di media sosial. Bukannya menenangkan dengan kata-kata lembut, orangtua justru memanggil nama random seperti “Jessica” dan ajaibnya, si anak langsung diam seketika. Kedengarannya sederhana dan sedikit absurd, tapi justru di situlah letak menariknya.

Fenomena ini pun langsung bikin banyak orangtua penasaran dan mencoba sendiri di rumah. Tapi, apakah trik ini benar-benar ampuh, atau hanya sekadar tren viral sesaat? Yuk, cari tahu lebih lanjut tentang trik “Jessica” berikut ini!

1. Apa itu tren Jessica?

ilustrasi ibu bersama anak (pexels.com/pnwprod)
ilustrasi ibu bersama anak (pexels.com/pnwprod)

Tren “Jessica” jadi salah satu metode parenting yang lagi ramai dibahas di media sosial. Cara ini digunakan untuk meredakan tantrum balita dengan trik sederhana tapi cukup nyeleneh, yaitu menyebut nama seseorang, seperti “Jessica” atau pura-pura mencarinya saat anak sedang menangis. Meski terdengar random, justru hal inilah yang bikin banyak orangtua penasaran dan ikut mencobanya.

Menariknya, pola dari tren ini juga hampir selalu sama di berbagai video. Awalnya terlihat balita yang sedang menangis atau mengamuk, lalu orangtua tiba-tiba memanggil nama “Jessica” dengan nada santai atau penasaran. Reaksi anak pun sering bikin kaget, karena mereka bisa langsung berhenti, terlihat bingung, bahkan ikut mencari sosok “Jessica” yang sebenarnya gak ada.

2. Kenapa trik ini bisa berhasil?

ilustrasi anak berbaring di pangkuan ibu (pexels.com/kseniachernaya)
ilustrasi anak berbaring di pangkuan ibu (pexels.com/kseniachernaya)

Secara ilmiah, trik ini bekerja karena memanfaatkan teknik pattern interrupt atau pengalihan pola. Ketika anak sedang meltdown, bagian emosional otak mereka mengambil alih, sehingga mereka sulit berpikir jernih atau mengontrol diri. Seperti dijelaskan oleh Dr. Madison Szar, seorang dokter anak, dikutip dari Motherly, anak-anak punya emosi yang besar, tapi kontrol diri yang rendah dan cara yang terbatas untuk mengekspresikan perasaan tersebut.

“Mengatakan ‘Jessica, Jessica di mana?’ mendorong balita untuk berhenti sejenak dan keluar dari lingkaran emosinya,” kata Dr. Madison Szar.

Karena itu, menyebut nama yang tidak terduga seperti “Jessica” bisa menjadi semacam rem mendadak bagi emosi anak. Mereka berhenti sejenak karena otaknya dipaksa memproses hal baru, bukan terus terjebak dalam emosi yang sama. Selain itu, saat orang tua melakukannya dengan suara tenang, anak juga cenderung meniru dan perlahan ikut menenangkan diri.

“Ketika kamu tiba-tiba mengatakan sesuatu yang tidak biasa, terutama dengan nada yang tenang, itu semacam menginterupsi pola eskalasi yang sedang terjadi di otak mereka,” Dr. Mona Amin, seorang dokter anak sekaligus kreator konten media sosial, dikutip dari USA TODAY.

3. Apakah harus nama Jessica?

ilustrasi ayah menggendong anak menangis (pexels.com/baphi)
ilustrasi ayah menggendong anak menangis (pexels.com/baphi)

Menariknya, tidak ada alasan khusus mengapa harus menggunakan nama “Jessica”. Kunci utama dari trik ini bukan pada namanya, melainkan pada efek kejutan yang muncul saat anak mendengar sesuatu yang tidak biasa.

Dr. Madison Szar menyebut, “Kalimat seperti ‘Kamu dengar itu?’ atau ‘Itu bau apa ya?’ juga bisa memberikan efek yang sama,” karena mampu memutus “loop emosi” pada anak. Di usia 12–24 bulan, cara ini cenderung lebih efektif karena rasa ingin tahu mereka sedang tinggi, sehingga pertanyaan yang mengejutkan bisa menciptakan jeda tanpa menambah distraksi.

4. Apakah trik ini cocok untuk semua anak?

ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/jepgambardella)
ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/jepgambardella)

Meski terlihat efektif, tren “Jessica” tidak selalu cocok untuk semua anak. Para ahli menilai bahwa cara ini sangat bergantung pada usia dan karakter anak, sehingga tidak bisa dijadikan solusi di setiap situasi. Metode ini biasanya lebih ampuh pada balita yang masih mudah terdistraksi, sementara anak yang lebih besar cenderung mulai memahami situasi dengan lebih kompleks.

Selain itu, distraksi bukanlah inti dari pengasuhan, melainkan hanya salah satu alat bantu. Orangtua tetap perlu membantu anak mengenali dan mengelola emosinya, bukan sekadar menghentikan tantrum sesaat.

“Pengalihan mungkin berhasil dalam situasi tertentu atau sesaat, tetapi pekerjaan utama dalam mengasuh anak adalah memberikan validasi bahwa mereka boleh merasa frustrasi atau kesal,” jelas Dr. Ari Brown, seorang dokter spesialis anak, dikutip dari USA TODAY.

5. Apakah tren Jessica bisa berbahaya?

ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/yankrukov)
ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/yankrukov)

Tren “Jessica” juga menuai pro dan kontra, terutama terkait apakah metode ini aman untuk anak. Beberapa orang menilai cara ini kurang tepat karena mengandalkan distraksi yang bisa membingungkan anak, meskipun terlihat efektif.

Namun, dari sudut pandang ahli, metode ini tidak dianggap berbahaya selama digunakan dengan cara yang tepat. Dr. Mona Amin menjelaskan bahwa trik ini aman selama tidak disertai unsur menakut-nakuti, seperti mengatakan ‘Jessica akan datang memarahi kamu.’

Sementara itu, Dr. Lauren Hughes, seorang dokter anak, dikutip dari USA TODAY, menegaskan bahwa teknik ini sebaiknya hanya menjadi alat tambahan yang digunakan di waktu yang tepat, bukan pengganti untuk membahas emosi atau membantu anak mengelola tantrumnya secara langsung.

Trik “Jessica” memang bisa jadi solusi cepat saat menghadapi tantrum balita, apalagi di situasi yang bikin panik. Tapi, penting diingat bahwa ini bukan solusi utama dalam pola asuh. Pada akhirnya, yang paling penting adalah bagaimana orang tua tetap hadir, memahami emosi anak, dan membantu mereka belajar mengelolanya dengan lebih sehat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us