Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Berhenti Romantisasi Autisme: Gak Semua Orang Autistik itu Genius

Berhenti Romantisasi Autisme: Gak Semua Orang Autistik itu Genius
tulisan autism di telapak tangan (pexels.com/Polina)
Intinya Sih
  • Drama seperti Good Doctor dan Extraordinary Attorney Woo membuat publik memahami autisme, tapi juga memicu romantisasi bahwa semua individu autistik pasti jenius.
  • Savant syndrome tergolong langka, hanya sebagian kecil individu autistik yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang tertentu seperti musik, seni, atau matematika.
  • Menghargai individu autistik berarti menerima keberagaman spektrum mereka tanpa romantisasi berlebihan serta mendorong media menampilkan representasi yang lebih seimbang dan realistis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pernah menyaksikan drama Korea berjudul Good Doctor? Drama tersebut populer karena menyajikan premis cerita yang menarik, yakni tentang seorang residen bedah pediatrik bernama Park Shi-on (yang diperankan oleh Joo Won) yang mengidap autisme dan savant syndrome. Kemudian, ada juga drama Extraordinary Attorney Woo yang mengangkat tema serupa tentang autisme melalui karakter utamanya. Berbeda dengan Good Doctor yang tokoh utamanya berprofesi sebagai dokter, drama Extraordinary Attorney Woo menampilkan sosok Woo Young-woo (yang diperankan oleh Park Eun-bin) sebagai seorang pengacara.

Kedua drama ini sama-sama populer di kalangan masyarakat Indonesia dan sama-sama memberikan sudut pandang baru tentang autisme. Dari kedua drama ini, tak sedikit dari kita yang lantas meromantisasi autisme, bahwa individu autistik adalah seorang yang genius. Di balik tantangan yang perlu mereka hadapi dalam dunia profesional maupun lingkungan sosial, mereka dinilai punya kemampuan di atas rata-rata manusia pada umumnya, ingatan mereka luar biasa. Namun, apakah realitas selalu seindah drama Korea?

1. Representasi individu autistik di media dapat memunculkan romantisasi autisme

ilustrasi anak dengan spektrum autisme
ilustrasi anak dengan spektrum autisme (pexels.com/Proyek Saham RDNE)

Good Doctor dan Extraordinary Attorney Woo memang mampu memberikan perspektif menarik mengenai dunia individu autistik. Sebagai penonton, kita bisa memahami lebih dalam bagaimana individu autistik menjalankan kesehariannya dan menghadapi dunianya. Dari sana kita seolah beranggapan: anak autistik itu jenius, anak autistik itu punya kemampuan melebihi orang biasa, anak autistik itu punya bakat amat mengesankan, anak autistik itu punya kecerdasan di atas rata-rata, anak autistik itu punya memori yang cemerlang.

Maka, terjadilah romantisasi autisme. Sayangnya, romantisasi berlebihan justru bisa menciptakan standar yang tidak realistis. Standar ini lantas dapat menjadi beban baru bagi individu autistik yang tak memiliki kemampuan luar biasa itu (yang kerap disajikan di layar kaca).

Representasi disabilitas di media tak selalu sejalan dengan realitas di lapangan. Dalam konteks autisme, faktanya, spektrum autisme itu luas dan beragam. Dengan kata lain, tidak semua individu autistik memiliki savant syndrome atau kemampuan jenius seperti halnya Park Shi-on di Good Doctor dan Woo Young-woo di Extraordinary Attorney Woo.

2. Savant syndrom adalah kondisi yang langka

ilustrasi anak sedang melukis
ilustrasi anak sedang melukis (pexels.com/studio cottonbro)

Savant syndrome adalah kemampuan luar biasa seseorang yang diikuti gangguan mental, termasuk pada kondisi spektrum autisme. Sindrom ini cenderung langka. Dilansir laman Pijarpsikologi, kemampuan menemui kemampuan savant pada non-autisme sebesar 1 persen, sedangkan pada pengidap autisme mencapai sebesar 10 persen. Individu autistik yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang tertentu ini disebut autistic savant.

Menurut seorang psikiater asal Amerika Serikat bernama Darold Treffert, kemampuan savant dapat dikategorikan menjadi lima, yakni musik, seni, penghitungan kalender, matematika, dan mekanik atau spasial. Ada pula kemampuan lainnya yang jarang dijumpai seperti kemampuan bahasa, sensorik, dan pengetahuan luar biasa di bidang tertentu (neurofisiologi, statistik, atau navigasi).

3. Menghargai individu autistik tanpa romantisasi

ilustrasi anak sedang menekuni hobinya (pexels.com/MART PRODUCTION)
ilustrasi anak sedang menekuni hobinya (pexels.com/MART PRODUCTION)

Angka persentasi individu autistik dengan savant syndrome terbilang kecil, bukan? Maka, representasi disabilitas yang kerap muncul di media tak bisa disamaratakan. Realitas di lapangan sering kali lebih menantang bagi pengidap autisme, mulai dari perjuangan berinteraksi hingga kesulitan dalam hal bina diri. Autistik dengan savant syndrome tetap perlu dibimbing agar mereka dapat mengembangkan dan mengasah potensinya dengan baik.

Menghargai spektrum autisme tidak terbatas pada melakukan romantisasi, ya, terlebih jika didasarkan pada representasi di layar kaca semata. Menghargai individu autistik berarti menerima mereka apa adanya dan beradaptasi dengan keunikan cara kerja otak mereka. Di samping itu, media juga perlu menyajikan representasi yang seimbang agar masyarakat tak mudah terjebak dalam persepsi tunggal. Ini berarti media juga harus berani menampilkan sisi rentan dan biasa mereka. Dengan begitu, kita sama-sama dapat menghilangkan stigma yang ada.

Setiap manusia itu unik dan dunia ini begitu luas untuk semua jenis cara berpikir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us