Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bolehkah Orangtua dan Anak Pakai Panggilan 'Aku-Kamu'?

Bolehkah Orangtua dan Anak Pakai Panggilan 'Aku-Kamu'?
ilustrasi ibu mengobrol dengan dua anaknya yang masih kecil (pexels.com/Ivan S)
Intinya Sih
  • Setiap keluarga punya nilai dan kebiasaan komunikasi berbeda, sehingga penggunaan panggilan 'aku-kamu' antara orangtua dan anak tidak bisa disamaratakan sebagai sopan atau tidak sopan.
  • Sebagian orangtua memilih gaya 'aku-kamu' untuk menciptakan hubungan yang lebih akrab dan terbuka dengan anak tanpa mengurangi rasa hormat maupun wibawa dalam keluarga.
  • Panggilan 'aku-kamu' umumnya hanya digunakan di rumah, sementara anak tetap diajarkan berbicara sopan kepada orang lain sesuai norma sosial yang berlaku.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia, cara orangtua dan anak saling memanggil memang cukup beragam. Ada yang terbiasa menggunakan sebutan formal seperti “Mama-Papa” atau “Ibu-Ayah”, lengkap dengan sapaan “saya” dan “kamu” yang lebih sopan. Namun, tak sedikit pula keluarga yang justru nyaman menggunakan “aku” dan “kamu” dalam komunikasi mereka.

Biarpun terdengar tidak umum di sebagian lingkungan, nyatanya pola komunikasi seperti ini tetap dipilih oleh beberapa keluarga dengan alasan tertentu. Maka, ini menimbulkan pertanyaan bagi mereka yang kurang familier dengan hal ini, apakah panggilan “aku-kamu” antara orangtua dan anak terhitung kurang sopan? Atau justru ini hanya soal perbedaan sudut pandang saja? Nah, daripada bingung, yuk, simak pemaparan menarik soal fenomena ini lewat artikel berikut!

1. Tergantung sudut pandang setiap keluarga

ilustrasi anak laki-laki berbicara dengan ayahnya
ilustrasi anak laki-laki berbicara dengan ayahnya (pexels.com/RDNE Stock project)

Setiap keluarga memiliki nilai, kebiasaan, dan cara komunikasi yang berbeda-beda. Karena itu, wajar jika ada yang menganggap penggunaan “aku-kamu” antara orangtua dan anak terasa kurang sopan. Terlebih, dalam budaya Indonesia yang menjunjung tinggi tata krama, penggunaan kata panggilan sehari-hari cukup sering dikaitkan dengan penghormatan.

Namun, penting diingat bahwa sopan atau tidaknya sebuah panggilan, sebenarnya tidak bisa disamaratakan. Kenyataannya, ada keluarga yang tetap menjunjung tinggi rasa hormat, meskipun rutin menggunakan gaya bahasa atau kata sapaan yang lebih santai. Maka, selama tidak menghilangkan nilai saling menghargai, perbedaan ini seharusnya tidak langsung dianggap sebagai sesuatu yang keliru.

2. Ada orangtua yang memang prefer dipanggil "aku-kamu"

ilustrasi orangtua yang prefer memakai kata panggilan "aku-kamu" dengan anaknya
ilustrasi orangtua yang prefer memakai kata panggilan "aku-kamu" dengan anaknya (pexels.com/Julia M Cameron)

Sebagian orangtua memang sengaja memilih pola komunikasi “aku-kamu” karena terasa lebih dekat dan akrab. Mereka ingin membangun hubungan yang hangat dengan anak, tanpa terkesan terlalu kaku atau berjarak. Dengan itu, anak juga diharapkan dapat lebih terbuka dalam menyampaikan perasaan maupun pendapat pribadinya.

Selain itu, pendekatan ini sering digunakan demi menciptakan suasana yang lebih setara, tanpa membuat anak merasa tertekan. Namun, bukan berarti orangtua bakal kehilangan wibawa atau image-nya sebagai sosok yang perlu dihormati. Justru, kedekatan emosional yang terbangun bisa membuat komunikasi jadi jauh lebih efektif. Karena itulah, pilihan ini sering dianggap sebagai cara alternatif dalam membangun bonding yang sehat dalam hubungan keluarga.

3. Panggilan "aku-kamu" umumnya hanya digunakan di lingkungan rumah

ilustrasi anak perempuan berbicara dengan ibu ayahnya
ilustrasi anak perempuan berbicara dengan ibu ayahnya (pexels.com/Julia M Cameron)

Biasanya, penggunaan “aku-kamu” ini hanya berlaku di dalam rumah atau lingkungan keluarga inti saja. Artinya, anak tetap diajarkan untuk memahami situasi dan menyesuaikan cara berbicara saat berada di luar rumah. Jadi, jangan dikira kalau orangtua yang menerapkan metode panggilan seperti ini bermaksud agar anak tumbuh jadi rebel dan terbiasa kurang sopan terhadap orang lain yang bukan bagian dari keluarganya.

Ini lebih ke kebiasaan yang berlaku di lingkungan keluarga saja, bukan sesuatu yang dibawa ke mana-mana. Sebab, sebagian orangtua modern berpandangan kalau panggilan sayang dengan "aku-kamu" ini bisa jadi salah satu cara untuk membangun suasana yang lebih intim dan nyaman dengan anak. Karena itulah, penggunaan “aku-kamu” lebih ke soal konteks tempat dan kedekatan, bukan berarti anak bakal dibebaskan berbicara seenaknya di semua situasi.

4. Biasanya ke orang lain tetap menggunakan panggilan sopan

ilustrasi anak yang diajarkan tetap berbicara sopan pada gurunya atau sosok lain yang bukan orangtuanya
ilustrasi anak yang diajarkan tetap berbicara sopan pada gurunya atau sosok lain yang bukan orangtuanya (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Masih kelanjutan dari poin sebelumnya. Orangtua yang menerapkan “aku-kamu” di rumah, umumnya tidak serta-merta membiarkan sang anak menggunakan gaya yang sama ke orang lain. Justru, mereka tetap mengajarkan pentingnya sopan santun saat berinteraksi dengan orang yang lebih tua, seperti tante, kerabat, kakek-nenek, guru, atau tokoh penting di masyarakat.

Hal ini dilakukan demi menjaga nilai etika yang berlaku sejak lama. Karena bagaimanapun juga, interaksi sosial membutuhkan penyesuaian sikap. Maka, anak tetap dibiasakan menggunakan panggilan seperti “Pak”, “Bu”, atau sapaan hormat lainnya. Dengan itu, anak tidak kehilangan kemampuan bersosialisasi secara santun, meskipun di rumahnya sendiri terbiasa bercakap-cakap dengan bahasa yang lebih santai.

5. Tak perlu malu atau harus mengubahnya karena standar sosial

ilustrasi orangtua yang membiasakan anaknya memanggil mereka dengan kata sapaan santai macam "aku-kamu"
ilustrasi orangtua yang membiasakan anaknya memanggil mereka dengan kata sapaan santai macam "aku-kamu" (pexels.com/Thành Đỗ)

Walaupun di Indonesia, penggunaan “aku-kamu” antara orangtua dan anak masih belum terlalu umum, bukan berarti hal tersebut mesti dihindari. Nyatanya, setiap keluarga punya cara masing-masing dalam membangun kedekatan dan kenyamanan dalam komunikasi. Jadi, tidak perlu merasa malu hanya karena berbeda dari kebanyakan orang, apalagi jika pola tersebut justru membuat hubungan keluargamu terasa lebih hangat dan terbuka.

Tak setiap saat kita perlu memaksakan diri untuk berubah hanya demi mengikuti standar sosial. Lagi pula, penggunaan kata sapaan hanyalah soal preferensi dan prinsip yang dianut masing-masing keluarga. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap anggota keluarga saling menghargai satu sama lain demi membuat hubungan tetap terjaga. Toh, pada akhirnya, semua kembali pada kamu dan pasangan, inginnya membangun pola komunikasi seperti apa dengan anak. Apakah yang terasa formal dan strict atau justru yang lebih santai tapi tetap penuh rasa hormat?

Bisa disimpulkan bahwa cara berkomunikasi dalam masing-masing keluarga memang tidak bisa diseragamkan. Setiap pilihan memiliki kelebihan dan pertimbangannya masing-masing. Maka, yang terpenting bukan sekadar soal kata “aku” atau “kamu”, melainkan bagaimana hubungan tetap dijaga sebaik mungkin, baik dari sisi anak terhadap orangtua, maupun sebaliknya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Diana Hasna
EditorDiana Hasna
Follow Us