4 Cara Atasi Caregiver Guilt, Kunci Waras Merawat Ortu Lansia

Merawat orangtua yang sudah masuk usia lansia itu memang sebuah privilese, tapi bohong banget kalau dibilang gak menguras emosi dan tenaga. Kadang ada momen di mana kamu merasa sudah melakukan segalanya, tapi rasanya masih kurang terus, ya? Perasaan bersalah yang terus-menerus menghantui saat merawat orang terkasih ini yang disebut dengan caregiver guilt, dan asal kamu tahu, memahami apa itu caregiver guilt jadi langkah pertama untuk berdamai dengan keadaan, lho.
Kalau kamu terus-terusan membiarkan perasaan bersalah ini menumpuk, pelan-pelan kamu bakal mengalami yang namanya burnout parah. Fisik kamu bakal gampang drop, mental kamu makin rapuh, dan ujung-ujungnya kamu malah gak bisa memberikan perawatan terbaik buat mereka, nih. Apalagi mumpung bulan September ini diperingati sebagai Bulan Kesadaran Demensia dan Alzheimer Sedunia, ini momen yang pas banget buat kamu mengevaluasi lagi cara merawat mereka tanpa harus mengorbankan kewarasan dirimu sendiri. Disimak, ya!
1. Terima kenyataan kalau kamu bukan superhero

ilustrasi merasa lelah setelah menjaga orangtua lansia (pexels.com/kaboompics.com) Ekspektasi buat selalu jadi anak yang sempurna kerap jadi jebakan paling berbahaya buat mental kamu sendiri, lho. Kamu memaksakan diri untuk siap siaga 24 jam sehari, 7 hari seminggu, seolah-olah kamu punya tenaga yang gak ada habisnya. Padahal, realitanya fisik dan emosi manusia itu mempunyai batas toleransi yang gak bisa terus-terusan dipaksa kerja rodi.
Guys, menyadari batasan diri sendiri ini sangat penting supaya kamu gak gampang merasa gagal ketika melakukan satu kesalahan kecil. Misalnya, pas orangtua lagi susah banget diajak makan, kamu gak perlu langsung merasa jadi anak durhaka cuma karena kamu sempat menghela napas panjang atau sedikit kesal. Wajar kalau kamu merasa capek dan ingin tiduran seharian, kok. Ingat, ya, mengakui kalau kamu kelelahan itu bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kalau kamu jujur sama diri sendiri, ya.
2. Bagi tugas dan jangan gengsi minta tolong

ilustrasi bicara dengan saudara tentang pembagian waktu menjaga orangtua lansia (pexels.com/Damian Santos) Banyak dari anak yang terkena jebakan toxic independence alias merasa harus bisa membereskan semuanya sendirian demi membuktikan bakti ke orangtua. Padahal, merawat lansia itu ibarat maraton jangka panjang, bukan lari sprint yang bisa diselesaikan dalam hitungan menit. Kamu butuh sistem dukungan atau support system yang solid dari anggota keluarga lain, pasangan, atau bahkan tenaga perawat profesional.
Menyimpan semua beban di pundakmu sendirian cuma bakal bikin emosimu meledak di waktu yang gak terduga, lho. Jadi, gak usah gengsi buat bikin jadwal piket sama kakak atau adikmu buat sekadar menemani ibu kontrol ke rumah sakit atau membelikan popok ayah, ya. Kalau kamu anak tunggal, jangan ragu buat pakai jasa homecare kalau memang ada budget lebih, hitung-hitung investasi buat kewarasan mentalmu.
3. Luangkan waktu untuk me time tanpa rasa bersalah

ilustrasi ngopi bareng teman-teman (pexels.com/Vitaly Gariev) Konsep self-care atau merawat diri sendiri sering kali disalahartikan sebagai tindakan egois oleh para caregiver. Ketika kamu mengambil cuti sejenak dari tugas merawat orangtua untuk bersantai, tiba-tiba rasa bersalah itu datang menyerang pikiran. Kamu merasa gak pantas bersenang-senang atau sekadar minum kopi di kafe sementara orangtuamu terbaring sakit di rumah.
Padahal, mengisi ulang energimu sendiri itu hukumnya wajib, karena kamu gak bakal bisa menuangkan air dari teko yang sudah kosong melompong. Contohnya, curi-curi waktu satu jam buat creambath di salon atau sekadar nongkrong ngopi cantik bareng teman-teman terdekatmu di akhir pekan. Gak perlu mikir yang aneh-aneh selama orangtuamu sudah ada yang menjaga di rumah saat kamu pergi. Percaya deh, orangtuamu juga pasti lebih senang melihat anaknya ceria dan segar saat merawat mereka, kok.
4. Gabung ke komunitas yang punya nasib sama

ilustrasi berbagi keluh kesah di komunitas caregiver (pexels.com/Pavel Danilyuk) Terkadang, curhat ke teman yang gak punya pengalaman merawat lansia itu rasanya kurang nyambung dan berujung pada rasa hampa. Mereka mungkin berniat baik dengan memberikan simpati, tapi mereka belum tentu paham betul seberat apa tekanan mental yang setiap hari kamu hadapi. Makanya, terhubung dengan orang-orang yang sedang berada di fase kehidupan yang sama bisa jadi obat penawar luka yang luar biasa.
Di dalam sebuah komunitas caregiver, kamu bisa bebas berkeluh kesah tanpa takut dihakimi atau dicap sebagai anak yang kurang bersyukur. Kamu bisa mulai dengan memanfaatkan media sosial untuk cari grup dukungan (support group) caregiver Alzheimer atau demensia di Facebook, Telegram, atau Instagram. Di sana, kamu bisa bertukar informasi penting soal obat-obatan, tips mengakali lansia yang tantrum, sampai sekadar saling mengirim meme lucu buat menghibur diri. Mendengar cerita dari orang lain akan membuatmu sadar bahwa kamu gak pernah sendirian menghadapi badai kehidupan ini, lho.
Menyadari bahwa caregiver guilt adalah reaksi emosional yang normal akan membantumu menjadi perawat sekaligus anak yang lebih tangguh buat orangtuamu. Jangan lupa untuk selalu memeluk dirimu sendiri dan mengapresiasi setiap usaha kecil yang sudah kamu lakukan hari ini. Kamu sudah melakukan yang terbaik, dan orangtuamu sangat beruntung memiliki anak sehebat kamu. Tetap semangat!






















