Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
9 Tips Hadapi Orangtua yang Melarang Bantu Tugas Domestik Istri
ilustrasi memasak (pexels.com/Vlada Karpovich)
  • Artikel menyoroti pentingnya suami modern ikut mengerjakan tugas domestik sebagai bentuk tanggung jawab dan kerja sama dengan istri, meski mendapat penolakan dari orangtua berpandangan tradisional.
  • Ditekankan bahwa membantu pekerjaan rumah tidak mengurangi kejantanan pria, justru memperkuat hubungan keluarga, menciptakan kedekatan dengan anak, serta membangun komunikasi hangat dengan pasangan.
  • Selain meringankan beban istri dan menghemat biaya rumah tangga, sikap saling bantu juga menjadi contoh positif bagi anak dalam memahami kesetaraan peran di dalam keluarga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebagai seorang pria sekaligus suami, sikapmu sudah sangat tepat. Kamu bukan suami yang cuma ingin tahu segala urusan di rumah beres di tangan istri. Dirimu tidak membebankan tugas sebesar itu ke pundaknya.

Kamu tipe suami modern yang menganggap bahwa bersama-sama mengerjakan berbagai tugas rumah tangga adalah keharusan. Mengepel, menyapu, mencuci, memasak, hingga mengasuh anak merupakan hal biasa bagimu. Malah aneh bagimu jika masih ada tipe suami yang alergi terhadap tugas domestik.

Akan tetapi, sikapmu dapat memicu reaksi negatif dari orangtua yang masih menganut gaya lama dalam menjalankan rumah tangga. Mereka gak mau anak lelakinya merendahkan martabat dengan membantu pekerjaan domestik. Mereka merasa tugasmu sebagai suami hanya mencari uang. Bagaimana cara hadapi orangtua yang melarang bantu tugas domestik istri?

1. Jelaskan bahwa istri juga membantumu mencari uang

ilustrasi pasangan (pexels.com/Vitaly Gariev)

Kalau istri saja membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarga, sangat tidak adil jika kamu gak mau membantunya. Bila istri bekerja sekaligus mengurus semua urusan rumah tangga, artinya bebannya dua kali lipat dari bebanmu. Padahal, kamu kepala rumah tangganya. Sudah seharusnya tanggung jawabmu lebih besar atau minimal sama dengan istri.

2. Kalaupun gak kerja, pekerjaan rumah tak ada habisnya pasti melelahkan

ilustrasi menyetrika (pexels.com/cottonbro studio)

Jika pun istri tidak bekerja mencari uang, bukan berarti ia tak perlu dibantu. Bayangkan rasanya menggendong anak ke sana-kemari sambil menyapu dan mengepel. Kemudian memasak, mencuci, dan sebagainya. Pun tugas domestik begini berjalan hampir 24 jam penuh, plus tanpa hari libur sama sekali. Sudah sewajarnya suami ikut turun tangan.

3. Kamu juga ingin bisa dekat dengan anak-anak

ilustrasi ayah dan putrinya (pexels.com/More Amore)

Ayah yang paling mudah dekat dengan anak ialah yang terlibat aktif dalam pengasuhannya. Mengasuh anak meliputi banyak tugas. Misalnya, membuatkan susu dan makanan favoritnya, memandikan, dan sebagainya. Bila kamu menjauhkan diri dari tugas domestik, termasuk memomong anak, di masa tua bakal sengsara karena tak bisa dekat dengan mereka.

4. Salah satu cara punya lebih banyak waktu bersama istri

ilustrasi memasak bersama (pexels.com/Gustavo Fring)

Kamu sibuk bekerja di luar rumah. Waktumu bersama pasangan sangat terbatas. Jika selagi istri sibuk di dapur, dirimu cuma minum kopi sambil baca koran di teras, kapan kalian ngobrol? Dengan kamu ikut melakukan pekerjaan dapur atau mencuci di ruangan sebelah dapur sambil bercakap-cakap ringan, kalian sebenarnya sedang membangun quality time.

5. Kalau istri kecapekan dan stres, kamu juga yang repot

ilustrasi menikmati kopi di dapur (pexels.com/Kenneth Surillo)

Semua suami ingin mendapati istrinya dalam suasana hati yang bagus. Sebab itu akan membuat sikapnya pada suami juga manis. Sebaliknya, kalau istri kelelahan fisik dan psikis, ia bisa sakit. Bila tidak sakit, dia menjadi mudah marah serta enggan berhubungan badan. Kamu juga yang repot.

6. Daripada pakai PRT

ilustrasi membersihkan rumah (pexels.com/Vitaly Gariev)

Gaji pekerja rumah tangga bisa hampir menyamai gajimu. Sekarang tidak ada PRT yang mau digaji Rp1 juta, apalagi cuma ratusan ribu rupiah. Paling tidak setara upah minimum di daerahmu. Pakai jasa laundry juga menghabiskan cukup banyak uang per bulannya. Namun, dengan dirimu yang mau bahu-membahu mengerjakan tugas domestik bareng istri, banyak uang bisa dihemat.

7. Membantu urusan domestik tidak mengubahmu menjadi perempuan

ilustrasi mengeringkan piring (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Orangtua yang masih berpandangan jadul kadang perlu dihadapkan pada fakta yang tidak terbantahkan. Seperti kamu, setiap hari membantu mengerjakan tugas domestik pun tak lantas mengubahmu menjadi perempuan. Dirimu tetap seorang pria sepenuhnya. Bahkan dengan mengambil tanggung jawab yang lebih besar, kamu merasa inilah definisi pria sejati.

8. Biar anak mencontoh kerja sama kalian dan selektif memilih pasangan

ilustrasi pasangan (pexels.com/andri boots)

Kalau kamu punya anak perempuan, dirimu tentu gak ingin melihatnya setiap hari seperti diperbudak dalam perkawinan oleh beban tugas domestik. Kamu ingin ia punya standar suami yang mau turun tangan mengurus rumah seperti ayahnya. Sementara bila anakmu laki-laki, dirimu perlu membuktikan bahwa menyapu, memasak, dan sebagainya tidak meruntuhkan harga diri pria.

9. Toh, hasilnya juga dinikmati bareng

ilustrasi memasak (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Jika rumah bersih, kamu mau istirahat pun nyaman. Masakan enak juga bikin kenyang sekeluarga. Anak-anak yang tumbuh baik dengan karakter positif adalah kebanggaan orangtua mana pun. Semua hasil dari kerja domestik tidak hanya dinikmati istrimu. Gak ada alasan untukmu tak mau membantunya.

Hanya karena orangtua tidak menyetujui kamu ikut mengerjakan urusan domestik, bukan lantas kamu harus menurut. Dirimu bukan anak kecil lagi, melainkan seorang pria dewasa yang harus berani bersikap sesuai dengan apa yang menurutmu tepat. Kamu juga tak perlu menutupi kebiasaanmu membantu istri di depan orangtua. Jika kamu sudah bisa hadapi orangtua yang melarang bantu tugas domestik istri, rumah tangga akan jauh lebih harmonis dan tenang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article