Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

9 Hal yang Sebaiknya Gak Diungkit Orangtua ke Anak Dewasa, biar Gak Bikin Jarak

9 Hal yang Sebaiknya Gak Diungkit Orangtua ke Anak Dewasa, biar Gak Bikin Jarak
ilustrasi anak dimarahi (pexels.com/lizasummer)

Hubungan orangtua dan anak pasti berubah seiring waktu. Anak yang sudah dewasa mulai punya kendali atas hidupnya sendiri, mulai dari pilihan karier sampai cara mereka menjalani keseharian. Sayangnya, masih ada beberapa topik yang sering diungkit dan tanpa sadar bikin hubungan jadi kurang nyaman.

Padahal, komunikasi yang sehat bukan soal seberapa sering menasihati, tapi bagaimana cara saling memahami. Beberapa hal yang dulu terasa wajar dibahas, sekarang bisa terasa sensitif bagi anak yang sudah mandiri. Nah, supaya hubungan tetap hangat, ini dia hal-hal yang sebaiknya gak terus diungkit orangtua ke anak dewasa.

1. Kapan menikah dan punya anak

ilustrasi ibu dan anak berbincang
ilustrasi ibu dan anak berbincang (pexels.com/shkrabaanthony)

Pertanyaan soal menikah dan punya anak sering dianggap ringan, padahal bisa terasa menekan. Tidak semua orang punya rencana hidup yang sama, apalagi untuk hal besar seperti membangun keluarga. Ketika terus ditanyakan, anak bisa merasa hidupnya selalu dibandingkan dengan standar tertentu.

“Pertanyaan ini bisa terasa seperti tekanan, terutama jika mereka sedang menjalani hidup dengan ritme mereka sendiri,” kata Dr. Joel Frank, Psy.D., seorang psikolog di Duality Psychological Services, dikutip dari Parade. “Ini juga bisa mengandung penilaian terhadap pilihan hidup mereka saat ini,” tambahnya.

Di sisi lain, banyak anak dewasa sedang fokus mengejar tujuan pribadi yang berbeda. Mengungkit hal ini berulang kali justru bisa memicu rasa bersalah atau merasa belum cukup. Padahal, setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa tekanan.

2. Kesalahan di masa lalu

ilustrasi memarahi anak (pexels.com/lizasummer)
ilustrasi memarahi anak (pexels.com/lizasummer)

Mengungkit kesalahan lama bisa membuat anak merasa tidak dihargai proses perubahan yang sudah mereka jalani. Apalagi jika kesalahan itu terjadi jauh di masa lalu dan sudah mereka jadikan pelajaran. Hal ini bisa memunculkan kesan bahwa orangtua sulit melihat perkembangan anaknya.

Setiap orang butuh ruang untuk bertumbuh tanpa terus dibayangi masa lalu. Daripada mengingatkan kesalahan, akan lebih berarti jika orangtua mengapresiasi usaha anak untuk jadi lebih baik. Sikap ini juga membantu membangun hubungan yang lebih suportif.

“Intinya, kita semua bisa mengambil manfaat dengan menormalisasi kesalahan, mengakuinya saat terjadi, dan merespons dengan baik ketika orang lain juga mengakui kesalahannya,” jelas Vanessa LoBue, profesor psikologi, dikutip dari Your Tango.

3. Seberapa sering anak menghubungi

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/olly)
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/olly)

Keluhan soal anak yang jarang menelepon biasanya muncul karena rasa rindu. Namun, jika disampaikan terus-menerus, hal ini bisa membuat anak merasa bersalah dan tertekan. Hubungan pun jadi terasa seperti kewajiban, bukan keinginan.

Anak dewasa punya kesibukan dan ritme hidup yang berbeda. Daripada fokus pada seberapa sering berkomunikasi, lebih baik membangun kualitas percakapan yang hangat. Dengan begitu, hubungan tetap dekat tanpa tekanan.

“Percakapan tentang menelepon ke rumah sebenarnya adalah bentuk keinginan untuk terhubung, tetapi disampaikan lewat ukuran yang dangkal,” ujar Sarah Epstein, terapis pernikahan dan keluarga, dikutip dari YourTango.

4. Penampilan fisik

ilustrasi seorang anak perempuan bersedih (pexels.com/liza-summer)
ilustrasi seorang anak perempuan bersedih (pexels.com/liza-summer)

Komentar soal berat badan, gaya berpakaian, atau penampilan sering dianggap bentuk perhatian. Padahal, bagi anak dewasa, hal ini bisa terasa seperti kritik yang menyakitkan. Apalagi jika disampaikan berulang atau tanpa diminta.

Penampilan adalah bagian dari ekspresi diri yang seharusnya dihargai. Terlalu fokus pada fisik justru bisa merusak rasa percaya diri. Akan lebih baik jika orangtua menunjukkan perhatian lewat dukungan emosional.

“Berapa pun usiamu, seberapa rumit hubungan yang dijalani, atau seberapa membuat tidak nyaman orang-orang di sekitarmu, kamu tetap punya kesempatan untuk berubah. Kamu bisa belajar berani menyuarakan pendapat, mengambil risiko, dan menyadari nilai dirimu sendiri,” ujar Tonya Lester, seorang psikoterapis, dikutip dari Your Tango.

5. Cara mengelola keuangan

ilustrasi makan bersama keluarga (pexels.com/nicolemichalou)
ilustrasi makan bersama keluarga (pexels.com/nicolemichalou)

Pertanyaan seperti “yakin mampu beli itu?” bisa terdengar meragukan kemampuan anak. Padahal, jika sudah mandiri secara finansial, anak tentu sedang belajar mengelola keuangannya sendiri. Sikap terlalu mengontrol justru bisa terasa mengganggu.

“Jenis komunikasi seperti ini membuat orangtua tetap berada di posisi ‘ahli’ dan menanamkan benih keraguan atau rasa tidak aman pada anak dewasa,” jelas Dr. Michele Goldman, Ph.D., psikolog sekaligus penasihat media di Hope for Depression Research Foundation, dikutip dari Parade. “Pernyataan ini menyiratkan bahwa anak tidak tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri atau sedang membuat keputusan yang salah,” tambahnya.

Memberi saran tetap boleh, tapi sebaiknya tidak dalam bentuk tekanan. Anak dewasa juga butuh kepercayaan untuk mengambil keputusan sendiri. Dengan begitu, mereka bisa belajar sekaligus merasa dihargai.

6. Pilihan karier

ilustrasi pria berdiri di tengah makan keluarga (pexels.com/askarabayev)
ilustrasi pria berdiri di tengah makan keluarga (pexels.com/askarabayev)

Komentar soal pekerjaan sering muncul karena rasa khawatir. Namun, jika terlalu sering dipertanyakan, anak bisa merasa tidak didukung. Apalagi jika mereka sudah berusaha keras menjalani pilihan tersebut.

Karier adalah perjalanan personal yang tidak selalu sesuai ekspektasi orang lain. Anak dewasa butuh kepercayaan untuk mengeksplorasi jalannya sendiri. Dukungan tanpa syarat akan terasa jauh lebih berarti.

7. Cerita memalukan masa kecil

ilustrasi dinner keluarga (pexels.com/cottonbro)
ilustrasi dinner keluarga (pexels.com/cottonbro)

Cerita masa kecil yang lucu memang bisa jadi bahan nostalgia. Tapi, jika terus diulang apalagi di depan orang lain, anak bisa merasa tidak nyaman. Hal yang dulu terasa lucu bisa berubah jadi memalukan.

Anak dewasa ingin dilihat sebagai diri mereka saat ini. Terlalu sering mengungkit masa lalu bisa membuat orangtua terlihat sulit move on. Menghargai perubahan anak akan membuat hubungan terasa lebih dewasa.

8. Kondisi rumah atau gaya hidup

ilustrasi menutup sofa dengan kain (pexels.com/bluebird)
ilustrasi menutup sofa dengan kain (pexels.com/bluebird)

Komentar tentang rumah atau gaya hidup sering kali terasa seperti penilaian. Padahal, setiap orang punya preferensi dan standar hidup yang berbeda. Kritik seperti ini bisa membuat anak merasa tidak cukup baik.

Rumah adalah ruang pribadi yang mencerminkan kepribadian seseorang. Menghargai pilihan anak akan membuat mereka merasa diterima. Ini juga membantu menjaga hubungan tetap nyaman dan terbuka.

9. Perbandingan dengan orangtua di usia yang sama

ilustrasi berbincang dengan orangtua (pexels.com/olly)
ilustrasi berbincang dengan orangtua (pexels.com/olly)

Kalimat seperti “dulu di umur kamu…” sering diucapkan tanpa sadar. Namun, hal ini bisa membuat anak merasa tertinggal atau kurang berhasil. Padahal, kondisi zaman sudah sangat berbeda.

“Tidak semua hal harus dijadikan kompetisi tentang siapa yang lebih menderita atau lebih beruntung,” ujar Dr. Goldman. “Meskipun mungkin orangtua memang mengalami masa yang lebih sulit, mengatakan bahwa anak tidak punya alasan untuk mengeluh justru mengabaikan pengalaman yang sedang mereka alami,” tambahnya.

Setiap generasi punya tantangan masing-masing. Membandingkan hanya akan menambah tekanan tanpa solusi. Lebih baik fokus pada perjalanan anak sekarang dan bagaimana mendukung mereka.

Menjaga hubungan orangtua dan anak dewasa tetap harmonis memang butuh penyesuaian. Mengurangi kebiasaan mengungkit hal sensitif bisa jadi langkah kecil dengan dampak besar. Pada akhirnya, hubungan yang sehat dibangun dari rasa saling menghargai dan memahami.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Related Articles

See More

Detail Look Lady Gaga dan Doechii di Video Clip RUNWAY, Ikonik

29 Apr 2026, 23:12 WIBLife