ilustrasi parenting (pexels.com/Karolina Grabowska)
Keinginan orangtua untuk segera menyelesaikan masalah ketika anak dibully merupakan hal yang dapat dimengerti. Namun, langsung mengancam akan mendatangi sekolah atau orangtua pelaku tanpa mendengarkan kebutuhan anak bisa membuatnya semakin cemas.
Anak mungkin takut akan mendapatkan perlakuan yang lebih buruk dari teman-temannya setelah orangtua turun tangan. Selain itu, mengambil alih seluruh keputusan tanpa melibatkan anak dapat membuatnya merasa kehilangan kendali atas situasi yang sedang dihadapi.
Padahal, anak perlu dilibatkan dalam menentukan langkah penyelesaian yang membuatnya merasa aman. Orangtua tetap perlu bertindak ketika keselamatan anak terancam, tetapi sebaiknya menjelaskan terlebih dahulu tindakan yang akan dilakukan dan mempertimbangkan kondisi emosionalnya.
"Saya sering berhati-hati untuk menghubungi pihak sekolah tanpa izin tegas dari anak, terutama bagi siswa SMP atau SMA. Jika mereka tidak merasa dilibatkan dalam rencana penanganannya, hal itu justru bisa memperburuk keadaan," kata Megan.
"Saat Anda menghubungi pihak sekolah, bangunlah percakapan yang bersifat kolaboratif. Anda dan pihak sekolah bekerja sama untuk memecahkan masalah, bukan saling menyalahkan. Sampaikan fakta-fakta yang telah Anda kumpulkan, sertakan tangkapan layar atau dokumentasi pendukung, serta tanyakan langkah apa yang dapat mereka ambil untuk menjamin keselamatan anak Anda. Jika situasi tidak membaik, lakukan eskalasi secara bertahap, mulai dari guru, konselor, kepala sekolah, hingga pengawas sekolah jika diperlukan," jelas Stephanie Ruggiero menambahkan.
Ketika anak mengaku mengalami bullying, orangtua perlu berhati-hati dalam memilih kata-kata agar tidak semakin melukai perasaannya. Hindari kalimat yang menyalahkan, meremehkan, atau membuatnya merasa bersalah karena baru bercerita. Sebaliknya, dengarkan pengalaman anak dengan tenang, akui perasaannya, dan yakinkan bahwa ia tidak sendirian menghadapi masalah tersebut.