Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Reaksi Paling Tepat Orangtua saat Anak Cerita Jadi Korban Bullying

6 min read
5 Reaksi Paling Tepat Orangtua saat Anak Cerita Jadi Korban Bullying
ilustrasi anak laki-laki menjadi korban bullying (pexels.com/Mikhail Nilov)
Share Article

Tidak mudah bagi anak untuk menceritakan pengalaman buruk, terutama ketika mereka menjadi korban perundungan atau bullying. Ada anak yang memilih diam karena takut, malu, atau khawatir orangtuanya akan marah. Namun, ketika akhirnya mereka berani bercerita, respons orangtua bisa sangat menentukan apakah anak merasa aman untuk mengungkapkan perasaannya atau justru sebaliknya.

Sayangnya, tidak semua orangtua tahu bagaimana harus bereaksi ketika mendengar anaknya mengalami bullying. Ada yang langsung marah dan ingin mendatangi pelaku, ada pula yang tanpa sadar justru menyalahkan anak. Lantas, bagaimana sebaiknya orangtua merespons ketika anak mengaku menjadi korban bullying?

  1. 1. Dengarkan cerita anak dengan tenang tanpa menghakimi

    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Kindel Media)
    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Kindel Media)

    Reaksi pertama yang perlu dilakukan orangtua ketika anak bercerita menjadi korban bullying adalah mendengarkan dengan tenang. Meskipun merasa marah, sedih, atau kecewa, orangtua sebaiknya tidak langsung memotong pembicaraan anak. Biarkan mereka menceritakan kejadian yang dialami sesuai dengan kemampuan dan kenyamanannya.

    Hindari pula memberikan pertanyaan bernada menyalahkan, seperti mengapa anak tidak melawan atau mengapa baru sekarang bercerita. Mendengarkan tanpa menghakimi dapat membantu anak merasa dihargai dan dipercaya. Tapi jika anak belum siap menceritakan semuanya, jangan memaksanya untuk langsung memberikan penjelasan terperinci.

    "Orangtua sebaiknya berusaha untuk tidak panik. Tetaplah tenang dan kendalikan emosi. Cari tahu dan pahami kejadian tersebut secara cermat dan menyeluruh. Validasi pengalaman anakmu dan tanyakan apa yang mereka harapkan untuk langkah selanjutnya," saran psikolog pendidikan dan peneliti perundungan, Dr. Sameer Hinduja, yang merupakan profesor di School of Criminology and Criminal Justice, Florida Atlantic University, dikutip dari laman UNICEF.

  2. 2. Yakinkan anak bahwa bullying bukan kesalahannya

    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Keira Burton)
    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Keira Burton)

    Setelah mendengarkan cerita anak, orangtua perlu meyakinkan bahwa perundungan yang dialaminya bukanlah kesalahannya. Anak yang menjadi korban bullying terkadang merasa dirinya berbeda, tidak cukup menarik, atau melakukan sesuatu yang membuat orang lain membencinya. Bahkan, beberapa anak mungkin menganggap bahwa mereka pantas mendapatkannya karena tidak mampu membela diri.

    Orangtua perlu meluruskan pemikiran tersebut dengan memberikan dukungan emosional. Sampaikan bahwa tidak ada alasan yang membenarkan tindakan menyakiti, mempermalukan, atau mengintimidasi orang lain. Hindari pula membandingkan pengalaman anak dengan pengalaman orang lain.

    "Fokuslah untuk membuat mereka merasa didengarkan dan didukung, alih-alih mencoba mencari penyebab perundungan atau berusaha menyelesaikan masalah tersebut. Pastikan mereka tahu bahwa hal itu bukan salah mereka," demikian panduan UNICEF mengenai Bullying: What is it and how to stop it.

  3. 3. Tunjukkan empati dan akui perasaan anak

    Ilustrasi orangtua dan anak ngobrol di tempat tidur (freepik.com/prostooleh)
    Ilustrasi orangtua dan anak ngobrol di tempat tidur (freepik.com/prostooleh)

    Menjadi korban bullying dapat menimbulkan berbagai perasaan, mulai dari sedih, takut, marah, hingga kehilangan kepercayaan diri. Oleh karena itu, orangtua tidak cukup hanya mendengarkan cerita anak, tetapi juga perlu menunjukkan empati terhadap apa yang mereka rasakan.

    Misalnya, ketika anak mengaku takut kembali ke sekolah karena sering diejek teman-temannya, orangtua dapat mengatakan bahwa perasaan takut tersebut bisa dimengerti. Jangan terburu-buru meminta anak melupakan kejadian yang dialaminya atau menyuruhnya untuk tidak terlalu memikirkan perkataan pelaku.

    Kalimat seperti "Sudahlah, jangan dipikirkan" mungkin terdengar sederhana, tetapi berpotensi membuat anak merasa bahwa kesedihannya tidak dianggap penting. Sebaliknya, orangtua dapat bertanya tentang hal yang paling membuat anak merasa tidak nyaman dan apa yang bisa dilakukan untuk membantunya.

    "Dengarkan. Dengarkan saja, tanpa terburu-buru dan tanpa tergesa-gesa mengambil kesimpulan atau menghakimi. Ucapkan terima kasih kepada anak karena telah bercerita dan akui bahwa tindakannya itu benar serta menunjukkan keberanian. Tunjukkan empati dan pengertian terhadap perasaannya, meskipun anak menceritakan detail yang mungkin terdengar menakutkan bagi orangtua. Pengalaman ini sudah cukup berat bagi anak. Jika anak merasa orangtua cemas, ia mungkin akan merasa enggan untuk menceritakan detail kejadian tersebut kepada orang," dikutip dalam panduan UNICEF tentang 10 questions about bullying and how to deal with it.

  4. 4. Ajak anak mencari solusi dan jangan langsung bertindak sepihak

    potret orangtua dan anak (pexels.com/Vlada Karpovich)
    potret orangtua dan anak (pexels.com/Vlada Karpovich)

    Ketika mengetahui anak menjadi korban bullying, orangtua mungkin langsung ingin mendatangi pelaku atau menghubungi orangtuanya. Namun, tindakan yang dilakukan secara terburu-buru berpotensi memperburuk keadaan, terutama jika anak masih harus berinteraksi dengan pelaku di sekolah.

    Sebaiknya, orangtua terlebih dahulu mengajak anak berdiskusi mengenai kejadian yang dialami dan langkah yang dapat membuatnya merasa lebih aman. Orangtua dapat menanyakan apakah perundungan terjadi berulang kali, siapa saja yang terlibat, serta apakah anak merasa terancam ketika berada di sekolah.

    Informasi tersebut membantu orangtua memahami situasi secara lebih menyeluruh. Setelah itu, ajak anak menyusun langkah penyelesaian bersama, misalnya melaporkan kejadian kepada guru, wali kelas, atau guru bimbingan konseling (BK). Jika anak merasa takut, orangtua dapat mendampinginya ketika menyampaikan laporan.

    "Orangtua mungkin tidak sepenuhnya menuruti keinginan anak, namun idealnya mereka bekerja sama menentukan langkah lanjutan yang disepakati bersama, jelas Dr. Sameer Hinduja.

    Jadi, tanyakan kepada anak apa yang ingin mereka lihat terjadi agar situasi tersebut bisa membaik. Meskipun orangtua tidak harus selalu mengikuti semua keinginan anak, melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan dapat membantu anak merasa didengar dan memiliki kendali atas situasi yang dihadapi.

  5. 5. Berikan perlindungan dan pantau kondisi emosional anak

    potret orangtua dan anak (pexels.com/Tamilles Esposito)
    potret orangtua dan anak (pexels.com/Tamilles Esposito)

    Setelah mendengarkan cerita dan menyusun langkah penyelesaian, orangtua perlu memastikan bahwa anak mendapatkan perlindungan yang memadai. Jika perundungan terjadi di sekolah, orangtua dapat menghubungi pihak sekolah untuk melaporkan kejadian dan meminta penanganan.

    Pastikan sekolah mengetahui situasi yang dialami anak serta memiliki langkah konkret untuk mencegah perundungan terulang. Apabila bullying terjadi secara daring, orangtua juga dapat menyimpan bukti berupa tangkapan layar, memblokir akun pelaku, dan melaporkan konten yang merugikan.

    "Hal yang paling utama adalah memastikan anak Anda merasa aman dan benar-benar dalam keadaan aman. Sangatlah penting bagi Anda untuk menunjukkan dukungan tanpa syarat saat ini, karena jika tidak, mereka mungkin tidak akan pernah mau terbuka kepada Anda lagi di masa mendatang," jelas Sameer.

    Selain memastikan keamanan fisik, orangtua juga perlu memperhatikan kondisi emosional anak. Perubahan perilaku seperti enggan pergi ke sekolah, menarik diri dari pergaulan, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, atau sering merasa cemas perlu diperhatikan.

    Perubahan tersebut tidak selalu berarti anak mengalami gangguan psikologis, tetapi dapat menjadi tanda bahwa mereka membutuhkan dukungan lebih lanjut. Jika dampaknya terus berlanjut atau mengganggu aktivitas sehari-hari, orangtua dapat berkonsultasi dengan tenaga profesional. Orangtua tidak perlu menunggu hingga kondisi anak semakin memburuk untuk mencari bantuan

    "Jika anak Anda mengalami kesulitan secara emosional, psikologis, atau fisiologis dan dampaknya tidak hilang dalam satu atau dua hari, hubungi tenaga profesional kesehatan mental atau dokter keluarga Anda. Perilaku apa pun-baik yang tergolong ringan, sedang, maupun berat-dapat menimbulkan dampak psikologis yang signifikan, tergantung pada individu, konteks, serta ketiadaan respons yang tepat dan mendukung," saran Sameer.

    Ketika anak berani bercerita bahwa dirinya menjadi korban bullying, orangtua memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa mereka adalah tempat paling aman untuk mencari perlindungan. Setiap anak mungkin membutuhkan waktu dan pendekatan yang berbeda untuk pulih dari pengalaman perundungan. Karena itu, orangtua perlu bersabar dan terus mendampingi anak agar mereka tidak merasa menghadapi masalah tersebut sendirian.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More