"Saat anak-anak masih kecil, tugas kita adalah menjadi sosok yang membereskan masalah, pelindung, dan pengatur jadwal sosial mereka. Namun, pada suatu titik, peran orangtua berubah tanpa peringatan atau tanda-tanda sebelumnya, dan kita pun beralih menjadi konsultan. Tugas kita kemudian adalah membantu mereka menemukan solusi sendiri. Beralih dari peran 'penyelesai masalah' menjadi konsultan adalah perubahan besar, dan orangtua mungkin merasa kesulitan menghadapinya," jelas Harold dalam Child Mind Institute.
Kapan Orangtua Harus Bantu, dan Kapan Harus Biarkan Anak Coba Sendiri?

Melihat anak kesulitan melakukan sesuatu sering kali membuat orangtua ingin segera turun tangan. Mulai dari membantu mengerjakan tugas sekolah, menyelesaikan konfliknya, hingga melakukan pekerjaan rumah, orangtua terkadang merasa perlu memastikan semuanya berjalan lancar. Namun, terlalu sering membantu anak justru bisa membuat mereka kehilangan kesempatan untuk belajar mandiri dan menyelesaikan masalahnya sendiri.
Di sisi lain, membiarkan anak menghadapi semua kesulitan tanpa pendampingan juga bukan pilihan yang tepat. Lalu kapan orangtua marus membantu dan kapan harus membiarkan anak mencoba sendiri? Berikut lima hal yang bisa menjadi panduan dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak.
1. Biarkan anak mencoba sendiri ketika menghadapi tantangan sederhana

ilustrasi parenting (pexels.com/Tatiana Syrikova) Salah satu cara melatih kemandirian anak adalah memberikan kesempatan untuk menyelesaikan tantangan sederhana sesuai dengan usianya. Misalnya, membiarkan anak memakai pakaian sendiri, merapikan mainan, menyiapkan perlengkapan sekolah, atau mencoba menyelesaikan permainan yang cukup sulit.
Meskipun membutuhkan waktu lebih lama, pengalaman tersebut dapat membantu anak belajar mengambil keputusan dan memahami kemampuannya. Dokter Harold S. Koplewicz, M.D., psikiater anak dan remaja, menjelaskan bahwa orangtua perlu beralih dari kebiasaan menjadi 'penyelesai masalah' menjadi pendamping yang membantu anak menemukan solusinya sendiri.
Oleh karena itu, ketika anak mengalami kesulitan sederhana, orangtua sebaiknya tidak langsung mengambil alih. Berikan waktu kepada anak untuk mencoba beberapa cara dan mencari tahu apa yang berhasil. Jika anak mulai frustrasi, orangtua bisa memberikan petunjuk atau mengajukan pertanyaan yang membantunya berpikir.
2. Berikan bantuan ketika anak benar-benar membutuhkannya

ilustrasi parenting (pexels.com/Kampus Production) Membiarkan anak mencoba sendiri bukan berarti orangtua harus selalu menunggu sampai anak berhasil. Ada kalanya anak membutuhkan bantuan karena tugas yang dihadapi terlalu sulit atau belum sesuai dengan kemampuan perkembangannya.
Dalam situasi tersebut, orangtua perlu memberikan dukungan secukupnya agar anak tetap bisa belajar tanpa merasa kewalahan. Neuropsikolog anak Lindsay Katz, PsyD, membahas konsep scaffolding atau pemberian bantuan bertahap dalam proses belajar anak.
"Scaffolding adalah teknik mengajarkan keterampilan baru yang didasarkan pada tiga prinsip utama: individualisasi, pembelajaran aktif, dan dukungan serta bimbingan," jelasnya dalam Cleveland Clinic.
"Scaffolding bukanlah sekadar memberikan jawaban atau mengerjakan tugas itu sendiri. Bantuan yang Anda berikan sebaiknya ditujukan untuk mengembangkan keterampilan anak agar kelak mereka dapat beralih menuju kemandirian,” tambahnya.
Lindsay menjelaskan bahwa orangtua dapat memberikan bantuan melalui contoh, petunjuk, pertanyaan, atau membagi tugas besar menjadi beberapa langkah kecil. Bantuan tersebut disesuaikan dengan kemampuan anak agar mereka secara bertahap dapat melakukannya sendiri.
3. Jangan langsung turun tangan ketika anak mengalami kegagalan

ilustrasi parenting (pexels.com/PNW Production) Melihat anak gagal melakukan sesuatu memang bisa membuat orangtua merasa khawatir atau kecewa. Misalnya, anak tidak berhasil menyelesaikan permainan, mendapatkan nilai yang kurang memuaskan, atau kalah dalam perlombaan. Namun, kegagalan merupakan salah satu pengalaman yang dapat membantu anak memahami proses belajar dan mengembangkan kemampuan untuk menghadapi tantangan berikutnya.
"Mungkin sebagian dari masalahnya adalah kita, sebagai orangtua, tidak sanggup melihat anak-anak kita merasa sedih atau kecewa. Mungkin kita terlalu cepat turun tangan untuk menghibur anak-anak atau membereskan masalah mereka karena kita tidak tahan melihat mereka mengalami kesulitan," kata psikolog klinis Corinne Masur, Psy.D. dalam Psychology Today.
"Hidup ini penuh dengan masa-masa sulit. Dan jika kita, sebagai orangtua, tidak membiarkan anak-anak mencari cara sendiri untuk melewati masa sulit tersebut, kita tidak sedang mempersiapkan mereka untuk menghadapi kehidupan yang sesungguhnya," tambahnya.
Jadi, ketika anak mengalami kegagalan, orangtua sebaiknya memberikan kesempatan untuk mencoba kembali sebelum menawarkan bantuan. Hindari langsung memperbaiki kesalahan atau menyelesaikan tugas yang belum berhasil dilakukan anak. Sebaliknya, ajak anak mengevaluasi apa yang membuatnya kesulitan dan kemungkinan cara lain yang bisa dicoba.
4. Tetap dampingi anak ketika menghadapi situasi yang berisiko

ilustrasi parenting (pexels.com/Ketut Subiyanto) Tidak semua situasi cocok dijadikan kesempatan bagi anak untuk mencoba sendiri. Ketika berhadapan dengan aktivitas yang berisiko, seperti menggunakan peralatan tajam, menyeberang jalan yang ramai, atau melakukan kegiatan yang belum dikuasai, anak tetap membutuhkan pengawasan orangtua.
Memberikan kebebasan tanpa mempertimbangkan keselamatan justru dapat menimbulkan risiko yang sebenarnya bisa dicegah. Dalam laporan klinisnya tentang pentingnya bermain, American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa aktivitas bermain dapat membantu anak mengembangkan kemampuan fisik, sosial, dan emosional.
"Anak-anak perlu mengembangkan berbagai keterampilan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang mereka dan mengelola stres toksik. Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas bermain yang sesuai dengan tahapan perkembangan, baik bersama orangtua maupun teman sebaya, merupakan kesempatan istimewa untuk memupuk keterampilan sosial emosional, kognitif, bahasa, dan regulasi diri yang membangun fungsi eksekutif serta otak yang pro-sosial," demikian laporan studinya tentang The Power of Play: A Pediatric Role in Enhancing Development in Young Children.
Namun, pengalaman tersebut perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Orang dewasa juga memiliki peran dalam menyediakan lingkungan yang aman sehingga anak bisa mengeksplorasi berbagai hal tanpa menghadapi bahaya yang tidak perlu. Orangtua dapat mulai dengan mengenalkan aturan keselamatan sebelum memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba suatu kegiatan.
5. Sesuaikan bantuan dengan usia dan kemampuan anak

ilustrasi parenting (pexels.com/Andrea Piacquadio) Setiap anak memiliki perkembangan dan kemampuan yang berbeda. Ada anak yang sudah mampu melakukan pekerjaan rumah sederhana sejak usia dini, sementara anak lainnya masih membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan tugas yang sama.
Oleh karena itu, orangtua sebaiknya tidak membandingkan kemampuan anak dengan saudara atau teman sebayanya ketika menentukan seberapa banyak bantuan yang perlu diberikan. Dalam sebuah artikel di jurnal British Journal of Educational Psychology, peneliti Roni Mermelshtine dari Birkbeck, University of London, membahas konsep scaffolding dalam interaksi belajar antara orangtua dan anak.
"Scaffolding dapat diamati selama interaksi yang berbasis pembelajaran, yaitu ketika intervensi orang tua disesuaikan dengan kemampuan anak yang teramati, dengan tujuan utama memampukan anak untuk bekerja secara mandiri," dikutip dalam studi Parent–Child Learning Interactions: A Review of the Literature on Scaffolding.
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa bantuan orangtua perlu disesuaikan dengan kemampuan anak yang sedang berkembang. Tujuan utamanya adalah membantu anak mengerjakan sesuatu secara mandiri, bukan membuatnya terus bergantung pada arahan orangtua.
Menentukan kapan harus membantu dan kapan membiarkan anak mencoba sendiri merupakan bagian penting dalam proses pengasuhan. Orangtua perlu memahami bahwa memberikan kesempatan untuk mandiri bukan berarti mengabaikan kebutuhan anak, begitu pula memberikan bantuan bukan berarti harus menyelesaikan semua masalah mereka.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




![[MADING] Passion Jadi Aksi: Kekuatan Fandom sebagai Ruang Belajar](https://image.idntimes.com/post/20260917/kover-mading_01ca6e0b-e3c5-4f38-bbb6-4c80a3ec16be.jpg)






![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Motif Batik? Uji di Hari Batik Nasional](https://image.idntimes.com/post/20241001/kuis-seberapa-jeli-matamu-menebak-batik-1-9fae9f001557d4685f9725b18e4d801a.jpg)











