Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sering Dibiarkan Karena Dianggap Wajar, 6 Kebiasaan Anak Ini Diam-diam Merusak

Sering Dibiarkan Karena Dianggap Wajar, 6 Kebiasaan Anak Ini Diam-diam Merusak
Ilustrasi parenting yang buruk (pexels.com/Karolina Kaboompics)

Tidak sedikit orangtua yang fokus pada prestasi anak, tetapi sering melewatkan kebiasaan kecil yang ternyata bisa berdampak besar pada tumbuh kembang mereka. Padahal, beberapa perilaku yang terlihat sepele seperti terlalu lama bermain gadget, sulit mengontrol emosi, sampai kebiasaan berkata kasar bisa menjadi ‘racun’ jika dibiarkan terus-menerus.

Lalu yang membuat situasi semakin rumit, kebiasaan buruk pada anak sering dianggap sebagai fase biasa yang nanti akan hilang sendiri. Faktanya, tanpa batasan dan pendampingan yang tepat, perilaku tersebut justru bisa terbawa hingga remaja bahkan dewasa.

1. Tidak memberi batasan mengakses internet

ilustrasi anak main hp (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi anak main hp (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Anak zaman sekarang memiliki akses lebih banyak di dunia maya, dibandingkan dengan banyak orangtua dan kakek-nenek mereka zaman dulu pada usia yang sama. Berkat adanya internet, sayangnya hal ini menjadi lebih sulit untuk dinavigasi dan dikontrol.

“Anak-anak tanpa sadar dapat menjadi 'mangsa' bagi mereka yang ingin memanfaatkan keluguan dan kurangnya pengalaman mereka. Penting bagi pengasuh untuk dapat memantau penggunaan internet,” jelas Dr. Brett Biller, Ph.D., psikolog dan direktur kesehatan mental di Hackensack University Medical Center dikutip dari Parade.

Ia menekankan pentingnya menciptakan batasan bagi anak-anak. Dalam hal ini juga termasuk dalam menjelajahi website dan penggunaan komunikasi terbuka seperti media sosial.

“Jika anak mencoba atau bersikeras menjelajahi internet tanpa pengawasan dan/atau secara pribadi, inilah saatnya kamu terlibat dalam eksplorasi lebih lanjut tentang dasar keinginan mereka. Penting untuk menjelaskan kepada anak-anak kenyataan bahwa, meskipun merupakan alat yang hebat, internet membuat kita semua rentan,” kata Dr. Brett.

2. Waktu screentime yang berlebihan

Ilustrasi anak makan sambil memegang gedget (freepik.com/freepik)
Ilustrasi anak makan sambil memegang gedget (freepik.com/freepik)

Selain internet, peningkatan screentime yang signifikan, secara lebih luas juga dapat menandakan masalah pada anak. Menurut Dr. Carla C. Allan, Ph.D., kepala divisi psikologi di Phoenix Children’s, mengatakan hal ini terkait dengan masalah tidur, masalah sosial-emosional, hingga obesitas.

“Meskipun layar merupakan bagian dari kehidupan modern, melakukan pendekatan untuk pengurangan risiko sangat penting, terutama untuk anak prasekolah,” katanya dikutip dari Parade.

“Membatasi penggunaan layar selama waktu-waktu penting, seperti makan, bermain, dan waktu tidur, sangat penting,” tambahnya.

3. Munculnya perubahan pola makan

ilustrasi anak makan daging (unsplash.com/Rainier Ridao)
ilustrasi anak makan daging (unsplash.com/Rainier Ridao)

Mungkin orangtua belum banyak yang menyadari bahwa perubahan pola makan anak bisa dikarenakan masalah serius. Psikolog mengatakan bahwa perubahan nafsu makan bisa menandakan masalah di luar kebiasaan makannya.

“Jika anak mengalami perubahan nafsu makan yang drastis, seperti makan berlebihan atau tidak cukup makan, hal itu dapat mengindikasikan masalah seperti stres, kecemasan, atau gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia,” kata psikolog Dr. Denitrea Vaughan, Psy.D., LPC-S,.

Anak-anak seringkali tidak memahami bagaimana kebiasaan makannya bisa memengaruhi pola makan mereka. Ia merekomendasikan agar pengasuh mencoba mencari akar masalahnya dan mencari bantuan dari profesional kesehatan mental berlisensi jika merasa khawatir.

4. Berbohong atau mengarang cerita

ilustrasi anak berbohong dan diberi hukuman (pexels.com/Monstera)
ilustrasi anak berbohong dan diberi hukuman (pexels.com/Monstera)

Kita semua sesekali berbohong. Tetapi tidak mengatakan yang sebenarnya secara jujur adalah masalah, terutama pada anak-anak. Menurut psikolog senior Dr. Lara Litvinov, Ph.D., menyarankan untuk mencegah kebohongan pada anak dan memberi tahu bahwa kebenaran bukan hal yang menakutkan.

“Tips besar untuk mencegah kebohongan yang lebih serius? Membantu agar kebenaran tidak terlalu menakutkan untuk diungkapkan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dr. Lara menyarankan orangtua untuk menghindari menginterogasi anak jika mereka sudah mengetahui kebenarannya. Menurutnya, orangtua cukup memberi tahu anak bahwa mereka tahu dan jangan berdebat tentang hal itu.

“Jika guru mengatakan seorang anak absen dari kelas, jangan tanya apakah mereka absen-cukup beri tahu mereka bahwa guru memberi tahumu bahwa mereka absen, dan kamu ingin tahu mengapa dan apa yang perlu kamu lakukan untuk menggantinya," jelasnya.

"Beri mereka kesempatan untuk melakukan hal yang benar. Beberapa anak membutuhkan waktu sejenak untuk mengatakan yang sebenarnya, jadi orangtua mungkin perlu memberi mereka waktu,” tambahnya.

5. Anak kesulitan tidur

ilustrasi anak susah tidur (pexels.com/Mart Production)
ilustrasi anak susah tidur (pexels.com/Mart Production)

Tidur sangat penting bagi orang-orang dari segala usia, terutama anak-anak dengan perkembangan pikiran yang pesat. Ketika muncul gejala anak kesulitan tidur, hal ini tidak bisa disepelakan dan diabaikan.

“Tidur sangat penting untuk masa kanak-kanak yang sehat, namun banyak anak terkadang kesulitan untuk tertidur atau tetap tidur,” kata Dr. Carla.

“Waktu tidur dan bangun yang konsisten, lingkungan yang ramah tidur, dan menghindari layar di kamar tidur bisa membantu meminimalkan gangguan,” sarannya.

6. Kebiasaan anak menggigit kuku

ilustrasi parenting (pexels.com/Brett Sayles)
ilustrasi parenting (pexels.com/Brett Sayles)

Menggigit kuku selama melihat pertandingan olahraga yang tampak seru dan intens adalah lain hal. Namun, menurut Dr. Brett Biller mengatakan bahwa penting untuk memperhatikan anak-anak yang terus-menerus menggigit kuku mereka. Ini bisa tanda masalah serius.

“Anak-anak juga kurang memahami bahaya fisik yang dapat mereka timbulkan dengan menggigit kuku mereka, bahkan ketika hal itu sampai mengakibatkan pendarahan atau rasa sakit,” jelasnya.

“Menggigit kuku biasanya memiliki dasar emosional. Tidak jarang menggigit kuku merupakan cerminan dari respons perilaku terhadap kecemasan,” tambahnya.

Membatasi kebiasaan ‘racun’ pada anak bukan berarti melarang semua hal yang mereka sukai. Orangtua tetap bisa memberi ruang eksplorasi sambil mengajarkan tanggung jawab dan kontrol diri secara perlahan. Anak membutuhkan arahan yang konsisten agar mereka memahami mana kebiasaan yang baik untuk dirinya dan mana yang bisa merugikan di kemudian hari.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Related Articles

See More

4 Cerita Novel yang Mengangkat Tema Spiritual dan Kehidupan

13 Mei 2026, 13:30 WIBLife