#MahakaryaAyahIbu: Ada Makna di Balik Kata, Ada Cinta di Balik Luka

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.
Ketika aku kecil, aku selalu menangis melihat ayah hendak pergi bekerja ke Jakarta. Dia selalu berangkat hari senin pagi dan pulang sabtu malam. Aku ingat sekali, ayah selalu tersenyum di depan pintu rumah. Sambil memandangku, dia mengusap lembut lemah rambut ini dan berkata: “Nak, minggu depan Ayah pulang. Jaga Mamah yah!”.
Meski tahu kalau minggu depan akan pulang, namun waktu satu minggu terasa lama sekali. Hatiku rasanya begitu dekat dengan hatinya. Setelah lulus SMA. Suatu malam di ruang tengah Ayah berdebat dengan Ibu. Mereka berdebat soal Ijazah SMA-ku yang belum diambil sehingga aku sulit kuliah maupun bekerja. Mereka saling menyalahkan. Materi permasalahan terus menjalar ke sana dan sini. Aku cukup kesal namun coba menahan diri di kamar. Mereka sedang membicarakan masalahku.
Lebih dari satu jam mereka berteriak-teriak. Akhirnya aku ikut berteriak juga. Aku keceplosan dan berkata menyuruh mereka bercerai saja. Biar aku yang mencari uang untuk Ijazah dan keperluanku. Ibu yang sedari tadi menangis hanya terdiam. Kemarahan Ayah berbalik tertuju padaku. Dia menyalahkanku atas ini dan itu. Kami berdebat merasa paling benar. Beberapa kali dia coba menampar dan memukulku. Aku marah sekali padanya sampai kehilangan akal. Hingga akhirnya dengan kepala panas aku berkata,“Cinta dan sayang apanya. Sayang Ayah itu palsu! Ayah gak sayang kami.”
Lalu dia terdiam sejenak dan berkata, “Yaudah terserah kamu. Kalo gini terus Ayah bakal jarang pulang karena di rumah gak ada kedamaian. Anak-anak pada gak ngerti sama Ayah. Kalau kalian nganggap kasih sayang saya palsu. Cari sana Ayah yang lain yang lebih sayang sama kalian! Suatu saat kamu bakal ngerti gimana rasanya kalau jadi seorang Ayah!”.
Setelah itu dia pergi keluar. Aku merasa sangat depresi dan merasa seperti anak yang tidak tahu terima kasih atas jasa seorang Ayah. Lalu aku menghampiri Ibu yang ada di kamarnya dengan mata berair dan perasaan bersalah. Dia berkata: “Nak jangan bilang begitu. Meski kami bertengkar Jangan bilang kasih sayang Ayahmu palsu. Dia sudah bekerja keras untuk sekolah kamu dan adik-adik. Mamah juga marah. Tapi di ujung kita harus bisa saling mengerti sama ego masing-masing.”
Aku sungguh merasa bersalah sekali. Akhirnya kami bertemu kembali dengan Senin pagi. Ketika sudah di depan pintu aku berniat untuk mengutarakan maaf padanya. Namun sebelum aku meminta maaf tiba-tiba lengan Ayah mengusap lembut rambutku dan tersenyum sambil berkata: “Jaga baik-baik adik sama Mamah. Kamu itu anak nomor 1 harus jadi pelindung keluarga."
Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sebelum aku meminta maaf Ayah sudah terlebih dahulu memaafkanku dengan ketulusannya. Ayah lalu pergi dari pintu dan segera berangkat kerja. Hatiku luluh sekali. Tak kuat aku menahan air mata. Tidak pernah ada kepalsuan akan kasih sayang Ayah dan Ibu. Hanya aku saja yang tidak peka. Tidak peka melihat wajah lelahnya. Melihat luka goresan di wajah dan tangan itu. Luka-luka bekas dia bekerja di proyek. Sakit rasanya hatiku. Terlalu pekat dan gelap akal ini.
Dulu Ayah selalu pulang seminggu sekali. Namun kini paling bagus hanya dua minggu bahkan beberapa bulan sekali. Aku rindu seperti dulu waktu kita Lari bersama di kebun teh. Menghirup udara segar yang saling mendekatkan hati. Maafkan aku, Ayah. Andai waktu bisa diputar kembali aku ingin lebih berbakti lagi pada Ayah, pada Ibu. Menjaga lisanku. Memijat tubuhnya yang lemah. Membuatkan kopi untuknya. Mengobrol dengannya. Melakukan apapun yang membuatnya senang Sehingga semua itu Menjadi Mahakarya berbentuk bakti Kokoh tak tertandingi. Bakti anak sebagai #Mahakarya untuk Ayah dan Ibu.
Untuk ke depannya biarlah aku yang membangun atap dan alas untukmu. Ayah pasti sudah tidak kuat lagi menggendongku, iya kan? Kini biarlah aku yang menggendongmu kemanapun engkau mau. Aku ingin membuat kalian tersenyum di nuansa terindah. Menggembirakan hati kalian di tangis waktu hidup di dunia.



















