Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Buku tentang Kesendirian yang Justru Bikin Gak Merasa Sendiri

5 Buku tentang Kesendirian yang Justru Bikin Gak Merasa Sendiri
Buku The Lonely City & Buku When Things Fall Apart (dok. Canon Gate /The Lonely City | dok. Penguin Book /When Things Fall Apart)
Intinya Sih
  • Artikel ini membahas lima buku yang menyoroti kesendirian sebagai pengalaman manusiawi, bukan kelemahan, dan membantu pembaca merasa lebih damai dengan waktu sendiri.
  • Masing-masing buku menawarkan perspektif unik: dari refleksi psikologis Anthony Storr hingga eksplorasi personal Olivia Laing dan pendekatan spiritual Pema Chödrön.
  • Keseluruhan bacaan menunjukkan bahwa memahami dan menerima kesendirian dapat menjadi proses penyembuhan serta cara mengenal diri dengan lebih jujur dan tenang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kesendirian sering kali terasa seperti sesuatu yang harus segera diatasi. Banyak orang langsung mencari keramaian atau distraksi begitu rasa itu datang. Padahal ada cara lain untuk menghadapinya yang justru lebih menenangkan dan lebih jujur. Beberapa buku ternyata mampu membuat pembacanya merasa ditemani justru saat membahas topik yang paling sunyi sekalipun.

Bukan semua bacaan soal kesendirian itu berat atau menyedihkan. Ada yang ditulis dengan cara yang hangat, membumi, dan terasa seperti percakapan dengan seseorang yang benar-benar paham. Buku tentang kesendirian yang justru bikin gak merasa sendiri ini layak masuk daftar bacaanmu, terutama saat dirimu sedang merasakan hal tersebut.

1. Solitude: A Return to the Self – Anthony Storr

Buku Solitude: A Return to the Self
Buku Solitude: A Return to the Self (dok. Simon and Schuster /Solitude: A Return to the Self)

Anthony Storr menulis buku ini sebagai pembelaan yang jernih terhadap kesendirian sebagai kebutuhan manusia. Ia berargumen bahwa kemampuan untuk menikmati waktu sendiri adalah tanda kedewasaan psikologis, bukan kegagalan sosial. Buku ini mengurai mengapa banyak seniman, pemikir, dan tokoh besar dalam sejarah justru menghasilkan karya terbaik mereka dalam kesendirian. Pendekatannya tidak menghakimi dan tidak membuat pembaca merasa ada yang salah dengan diri mereka.

Storr menulis dengan bahasa yang tenang dan penuh rasa hormat terhadap pengalaman manusia. Setiap bab memberikan konteks yang kaya tanpa terasa seperti sedang membaca buku teks. Buku ini cocok untuk siapa saja yang pernah merasa bersalah karena lebih nyaman sendirian daripada berada di tengah keramaian.

2. The Lonely City – Olivia Laing

Buku The Lonely City
Buku The Lonely City (dok. Canon Gate /The Lonely City)

Olivia Laing menulis buku ini berdasarkan pengalaman pribadinya saat tinggal sendirian di New York dan merasa kesepian di tengah jutaan orang. Ia menelusuri kehidupan beberapa seniman besar seperti Edward Hopper dan Andy Warhol untuk memahami bagaimana kesepian membentuk karya dan cara pandang seseorang. Pendekatan Laing sangat personal, tapi tidak terasa cengeng karena ia menyeimbangkannya dengan observasi yang tajam. Buku ini terasa seperti teman bicara yang jujur dan tidak mencoba mempercepat proses penyembuhan.

Gaya penulisannya mengalir seperti esai panjang yang enak dinikmati pelan-pelan. Kamu tidak perlu menyukai seni untuk bisa merasakan kedalamannya karena inti dari buku ini adalah tentang pengalaman manusia yang universal. Membacanya di malam hari saat sendiri justru bisa memberikan rasa lega yang tidak terduga.

3. When Things Fall Apart – Pema Chödrön

Buku When Things Fall Apart
Buku Buku When Things Fall Apart (dok. Penguin Book /Buku When Things Fall Apart)

Pema Chödrön adalah seorang bikkhuni Buddha Amerika yang menulis buku ini dengan nada yang sangat manusiawi dan hangat. Isinya membahas bagaimana cara menghadapi ketidaknyamanan, kehilangan, dan kesendirian tanpa lari dari perasaan itu. Ia tidak menawarkan solusi instan karena justru ia mengajak pembaca untuk duduk bersama ketidaknyamanan itu dan belajar dari dalamnya. Pendekatannya terasa berbeda dari buku motivasi biasa karena tidak ada janji-janji manis di sini.

Buku ini ditulis dari kumpulan ceramah sehingga bahasanya terasa seperti diucapkan langsung, bukan dibaca dari kertas. Setiap babnya pendek dan bisa dibaca kapan saja tanpa harus mengikuti urutan. Bagi yang sedang melewati masa sulit, buku ini terasa seperti tangan yang diulurkan tanpa memaksamu berdiri terlalu cepat.

4. How to Be Alone – Sara Maitland

Buku How to Be Alone
Buku How to Be Alone (dok. Pan Macmillan /How to Be Alone)

Sara Maitland memilih hidup sendirian di pedalaman Skotlandia dan menulis buku ini sebagai refleksi atas pilihannya itu. Ia mempertanyakan mengapa budaya modern begitu takut pada kesendirian dan menganggapnya sebagai kondisi yang perlu disembuhkan. Buku ini tidak berisi panduan praktis karena lebih berupa eksplorasi filosofis dan personal yang kaya dan mengundang pikiran. Maitland menulis dengan keberanian karena ia berbicara dari pengalaman nyata, bukan dari teori semata.

Ia juga menelusuri tradisi panjang kesendirian dalam berbagai budaya dan kepercayaan di seluruh dunia. Membaca buku ini membuka perspektif bahwa memilih sendiri bisa menjadi tindakan yang sah dan bahkan berani. Buku ini paling cocok dibaca oleh siapa saja yang sedang mempertanyakan apakah kesendirian mereka adalah pilihan atau pelarian.

5. Quiet – Susan Cain

Buku Quiet
Buku Quiet (dok. Penguin Book /Quiet)

Susan Cain menulis buku ini sebagai pembelaan terhadap introvert di dunia yang terlalu banyak merayakan ekstroversi. Ia menjelaskan bagaimana sistem pendidikan, dunia kerja, dan budaya populer sering kali membuat orang yang lebih suka sendiri merasa kurang atau tidak cukup. Buku ini bukan soal bagaimana menjadi lebih ekstrovert, tapi soal bagaimana memahami dan menghargai cara kerja diri sendiri. Cain menggunakan banyak contoh nyata yang langsung terasa relevan bagi pembaca yang selama ini merasa berbeda dari sekitarnya.

Gaya penulisannya jelas dan mudah dicerna tanpa mengorbankan kedalaman argumennya. Banyak pembaca yang mengaku merasa dilihat pertama kalinya setelah membaca buku ini. Kalau kamu tumbuh besar dengan merasa ada yang salah karena lebih suka diam dan menyendiri, buku ini bisa mengubah cara kamu melihat diri sendiri secara mendasar.

Kesendirian yang tidak dipahami bisa terasa seperti beban yang makin lama makin berat. Tapi ketika ada bacaan yang menunjukkan bahwa banyak orang pernah merasakannya dan berhasil menamai perasaan itu dengan tepat, sesuatu di dalam diri mulai sedikit lebih tenang. Lima rekomendasi buku tentang kesendirian yang justru bikin gak merasa sendiri memang tidak menghilangkan kesepian, tapi bisa membuatmu lebih damai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Related Articles

See More