Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
#MahakaryaAyahIbu: Hadiah Kecil untuk Kedua Malaikat Adik Autisku
Default Image IDN

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik. 


"Malaikat tangguh'' itulah sebutanku untuk papa dan mama yang telah memberi cinta dan kasih sayang untukku dan adiku yang tidak bisa dihitung dengan persamaan matematika apapun. Malaikat-malaikatku ini sangat berbeda dengan malaikat milik orang lain. Mengapa? Jika orang tua lain memiliki anak yang normal itu sudah biasa namun orang tuaku ini memiliki salah satu anak yang luar biasa dan aku menyebutnya ''Anak mahal dari Allah SWT''. ya, anak itu adalah adikku sendiri. Adikku adalah seorang anak autis.

Tepatnya tahun 2002, orang tuaku menyadari adik tak kunjung dapat berbicara di usia 3 tahun, mereka langsung mengonsultasikan kepada dokter mengenai hal ini. Dokter pun mengatakan bahwa adik mengidap autis. Papa dan mama pun mulai berusaha keras agar adik dapat berbicara seperti anak lain. Awalnya, adik disekolahkan di sekolah terapi autis dengan biaya sekolah jutaan rupiah namun ketika mencapai 2 tahun bersekolah ternyata tak membuahkan hasil apapun, kemudian beralih ke sekolah autis lain selama 1 tahun namun juga tak membuahkan hasil yang berarti.

Hingga pada akhirnya papa dan mama memutuskan untuk mengurus sendiri adik di rumah. Mereka mengajarkan tentang hal-hal sederhana mengenai warna, permainan puzzle dan juga terus mengajak adik berbicara meski adik tak pernah meresponnya dengan harapan setelah sering mendengar kata-kata yang dilontarkan, adik dapat mengucapkan kata-kata. Selain itu papa dan mama mencoba terapi pijat saraf dimana selain pijat juga diberi air doa untuk diminum sebagai sarana pengobatan.

Setelah berbagai usaha tersebut dilakukan selama kurang lebih dua tahun, adik akhirnya menunjukan perubahan yang signifikan. Adik dapat berbicara meskipun tak banyak. Hingga kemudian orang tuaku mengirim ke sekolah TK biasa dimana siswa-siswanya adalah anak-anak normal bukan seperti sekolah sebelumnya. Hasilnya pun ternyata sangat menakjubkan. Kemampuan berbicara adik semakin lancar seperti anak normal. Hal tersebut tentu menjadi karunia yang sangat besar bagi kedua orang tuaku dan bagiku.

Namun ujian besar ternyata menghampiri orang tuaku lagi dimana ketika SMK, adik tiba-tiba mengalami kejang-kejang dan itu terjadi lagi di hari-hari berikutnya. Kemudian adik di bawa ke rumah sakit dan didiagnosa mengalami epilepsi sehingga secara rutin adik harus meminum obat yang begitu mahal serta sekitar 4 bulan sekali melakukan rontgen dimana sekali rontgen membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Alhamdulillah saat ini adik tidak mengalami kejang-kejang lagi meski masih harus rutin meminum obat untuk mencegah terjadinya kejang-kejang kembali.  

Aku selalu yakin bahwa yang segala diberikan Allah swt kepada keluargaku memiliki esensi atau hikmah tersendiri. Khususnya untuk diriku. Melihat perjuangan papa dan mama yang kokoh tak tertandingi dalam mengasuh adik membuat aku ingin memberi hadiah ide mahakarya. Aku bertekad untuk melanjutkan S2 dan S3 di Jepang dengan bidang bioaktif metabolit dimana kegiatan penelitian di Jepang selalu mengarah pada kebutuhan 10 hingga 20 tahun ke depan.

Aku akan menggali berbagai tumbuhan yang tersebar di Indonesia yang berpotensi sebagai penyembuh epilepsi yang ampuh dan menemukan metode-metode isolasi dan sintesis yang mudah dan cepat sehingga jika telah tebukti berpotensi sebagai obat epilepsi, nantinya akan memerlukan biaya produksi obat yang rendah. Hal tersebut akan membantu orang-orang yang mengidap epilepsi utamanya bagi orang dengan tingkat ekonomi rendah.

Kemudian aku bertekad untuk membangun generasi pemuda autis di Indonesia sehingga nantinya memiliki kesempatan yang sama untuk berjuang bersama pemuda-pemuda yang normal untuk berprestasi membanggakan Indonesi melalui sekolah alam autis. Sekolah ini akan memberikan pendidikan terapi berbicara yang baru sehingga anak autis akan dapat lebih cepat berbicara seperti anak normal lainnya.

Konsep pendidikan autis ini yaitu terdapat beberapa sesi pembelajaran dimana anak autis dan anak normal akan digabung menjadi satu dan ada sesi lain dimana anak autis dan anak normal dipisahkan. Selain itu pembelajaran kebanyakan akan dilakukan di ruangan terbuka luas dengan suasana alam sehingga suasana belajar akan menjadi menyenangkan sehingga anak-anak menjadi betah di sekolah.

Editorial Team

EditorFitria

Related Article