5 Novel dari Penulis China yang Bisa Masuk Antrean Bacaan

- Artikel memperkenalkan lima novel epik karya penulis China yang menampilkan kekayaan budaya, sejarah, dan kritik sosial dari berbagai periode.
- Novel-novel seperti To Live, Red Sorghum, dan The Dark Road menggambarkan perjuangan manusia menghadapi perang, kemiskinan, serta kebijakan sosial yang menekan.
- Karya-karya ini menonjolkan tema tragedi dan ketahanan hidup, menawarkan alternatif bacaan mendalam di tengah tren novel ringan bertema penyembuhan.
Ingin memperluas bacaanmu sampai ke negeri China? Tenang, China ternyata punya warisan sastra yang tak main-main kualitasnya. Membentang dari berbagai zaman hingga era modern, penulis asal China dikenal lewat ketajaman kritik dan kepiawaiannya merangkai cerita yang kompleks serta multidimensional.
Ingin berkenalan dengan sastra China? Berikut 5 rekomendasi novel epik dari penulis China yang bisa kamu sertakan dalam antrean to-be-read (TBR). Siapa tahu salah satunya bisa jadi buku favoritmu sepanjang masa.
1. To Live (Yu Hua)

Sudah difilmkan oleh Zhang Yimou pada 1994, To Live ternyata adalah hasil adaptasi novel setebal 250 halaman karya Yu Hua. Protagonisnya Fugui, anak tuan tanah yang ketagihan judi.
Setelah bangkrut dan jatuh miskin, Fugui sempat menjalani hidup lurus sebagai petani bersama istri dan anaknya. Namun, tak lama setelah itu, Perang Sipil China pecah dan Fugui dipaksa bergabung dengan tentara kelompok Nasionalis (sayap kanan) yang sedang berperang melawan Partai Komunis.
Selama masa itu, hidup Fugui berubah, begitu pula dengan keluarga yang ditinggalkannya. Satu per satu tragedi dan kesulitan menghampiri mereka hingga Fugui kehilangan semua orang terdekatnya
2. The Last Quarter of Moon (Chi Zijian)

The Last Quarter of Moon adalah novel epik yang mengikuti kehidupan kelompok minoritas Evenki. Mereka kini tinggal di sebagian wilayah China dan Rusia, tetapi buku ini mengekor kehidupan mereka sebelum batas negara itu ditetapkan.
Sebagai kelompok nomaden, Evenki amat independen, tetapi semua berubah ketika Jepang menginvasi China. Sebebas-bebasnya mereka, mereka tetap terdampak konflik brutal tersebut. Novel ini diceritakan dari POV seorang perempuan tua yang mengenang masa kecilnya.
3. Red Sorghum (Mo Yan)

Red Sorghum berlatarkan 1930-an ketika Jepang menduduki China dan mengubah hidup warga lokal selamanya. Salah satu dari mereka, Yu Zhan'ao memutuskan untuk bergabung dalam sebuah organisasi perlawanan yang bergerilya dengan berbagai cara. Sorgum, tanaman yang dikenal bandel, dipilih sebagai simbol resiliensi atas berbagai kesulitan hidup yang harus dilalui berbagai karakter dalam buku ini.
4. The Wedding Party (Liu Xinwu)

Di sebuah bangunan padat penduduk, ada satu perempuan paruh baya yang sedang pusing tujuh keliling. Bibi Xue namanya, sedang sibuk mempersiapkan pernikahan anak laki-laki kesayangannya.
Di tengah persiapan itu, berbagai masalah muncul. Tragedi dan ketidakberuntungan bersahutan satu sama lain, gak heran kalau banyak yang mengkategorikan novel ini dalam genre satir. Selain Bibi Xue, kamu juga akan berkenalan dengan tetangga-tetangganya yang tak kalah heboh.
5. The Dark Road (Ma Jian)

The Dark Road adalah sebuah pengamatan terhadap implementasi kebijakan satu anak di China. Meili, sang lakon, adalah perempuan dari kelas bawah yang menikahi seorang guru.
Pada kehamilan pertamanya, Meili melahirkan seorang putri dan sesuai kebijakan yang berlaku, ia tak seharusnya hamil lagi. Namun, suaminya ngotot ingin punya keturunan laki-laki. Ini membuat hidup Meili tak semudah yang ia kira. Kepelikan demi kepelikan tercipta dan lagi-lagi perempuan yang harus menanggungnya.
Tragedi sepertinya menjadi kata kunci untuk novel-novel karya penulis China. Boleh deh jadi variasi di tengah tumpukan novel Asiamu yang didominasi genre healing fiction. Novel mana dulu yang mau kamu baca minggu ini?
















